
Ruben melaju dengan kecepatan tinggi, ia bahkan selalu menyalip setiap mobil yang yang ada didepannya, dan karna hal itu ia mendapat umpatan dari beberapa pengendara lain.
" Dasar pengendara gila."
" hei kau brengsek."
" Dasar pemuda brandalan."
" Pasti orang itu sedang mabuk,makanya seperti orang gila."
Begitulah umpatan dan makian dari para pengendara lainnya yang merasa kesal pada tingkah Ruben.
Sedangkan Ans sudah sangat khawatir padamelihat sikap bosnya yang sudah menggila itu menurutnya, apalagi saat Ruben menerobos rambu lalu lintas yang seharusnya berhenti itu, dan mau tak mau pun Ans juga meneroborsnya untuk tetap mengejar Ruben agar tak kehilangan jejak.
Bhkan sesekali Ans berteriak sendiri didalam mobil untuk menghentikan bosnya, namun nihil tidak ada hasil sama sama sesekali dan AN hanya bisa berdoa semiga bosnya tidak terjadi apa AP
Ruben yang sudah kehilangan kendali pun tidak memperhatikan lagi Truk yang datang berlawanan arah dan pejalan kaki yang hendak menyebrang, sehingga ia pun mau tak mau membanting setirnya untuk menghindari kecelakan.Tapi naasnya ia tidak bisa lagi mengendalikan mobil yang di kendarai hingga akhirnya.
Brakkkkk.......
Akhhhhhhh....
Mobil tidak dapat lagi di kendalikan oleh Ruben dan alhasil Ruben menabrak truk yang ada didepannya sehingga mobilnya terpental jauh beberapa meter dari sisi jalan.
" Tuannnnn..." teriak Ans yang melihat kejadian itu tepat didepan matanya. Ia menghentikan mobilnya keluar dan berlari secepat mungkin untuk mencapai tempat Ruben.
" Tuan...Tuan...bertahanlah tuan.! aku akan membawa ada kerumah sakit." Ucap Ans saat sudah sampai di samping mobil yang di gunakan Ruben. Sungguh saat ini Ans tidak dapat membendung kekuatirannya lagi.
Ans masih berusaha membuka pintu mobil yang terkunci itu, kepalanya bergerak sana sini untuk mencari pertolongan.
__ADS_1
" Tolong.....Tolong...! Siapa pun itu aku mohon tolong selamat Tuanku.! tolong..." Ans berteriak meminta pertolongan kepada siapa pun yang yang lewat disana, tapi sialnya tidak ada satupun yang kendaraan maupun pejalan kaki yang melewati mereka.
Ans tak mau tinggal diam, ia masih berusaha membuka pintu mobil yang sudah sangat rusak itu, hingga akhrinya Ans berhasil memecahkan kaca mobil dan mengeluarkan bosnya dari dalam sana dan membawanya ke Rumah Sakit dengan menggunakan mobil paman.
Ans memacu kendaraanya dengan keepatan tinggi dan bahkan melakukan hal seruap seperri yang dilakukan Ruben tadi.
Tapi jika Ruben tadi menggila karna perasaan marah, kesal, kecewa dan terluka pada Santi lain halnya dengan Ans yang menggila karna mengkhawatirkan keadaan tuanya yang terluka parah dan mengeluarkan begitu banyak darag keluar dari kepalnya.
Dokter....tolong dokter.! tolong tangani tuanku." teriak Ans saat sudah tiba di rumah sakit dan Ruben pun langsung di bawa keruang operasi dan ditangani oleh tim medis.
" Tolong selamat tuanku dokter." ucap Ans dengan nada khawatirnya. Matanya sudah memerah pertanda jika saat ini ia sedang sangat takut terjadi hal buruk pada tuanya.
Karna kalau boleh jujur Ans sangat menyayangi tuannya itu seperti saudaranya sendiri, meski terkadang ia sangat kesal dan juga sering mengumpat bosnya jika merasa tertindas tapi itu hanya sesaat saja, dan rasa sayang jauh lebih mendominasi untuk Ruben di hatinya.
" Baiklah tuan. Kami akan melakukan yang terbaik. Jdi tolong tunggu diluar dan urus biaya administrasinya dulu." saut sang perawat
" baiklah suster." jawab Ans dan berbalik menuju bagian administrasi untuk mengurus biaya admnistarsi agar bosnya cepat di tangani.
Setelh menunggi beberapa menit disana, ia baru teringat akan sesuatu, kemudian Ans merogoh saku jasnya menelpon Tuan dan Nonya besarnya.
Tentu saja berita ini sangat mengejutkan mereka bahkan sang mama sangat syok hingga jatuh pinsan saat memdengar cerita asisten putranya itu. Selesai memberi tahu orang tau Ruben, Ans kembali mendial nomor majikannya yang lain yaitu Santi.
***
Di tempat lain di waktu yang sama, usai pertengkaran yang terjadi dan Ruben yang pergi dalam keadaaan emosi Santi langsung memasuki kamarnya dengan langkah yang cepat, dia mengunci pintu kamar dan langsung menghepaskan tubuhnaya di atas kasur.
Tangisnya seketika terpecah, ia tidak dapat lagi menahan laju air mata yang membasahi pipinya yang sedari tadi diusahakan agar tidak keluar dedepen semua orang.
" hikss..hiks..Sakit, Ini sungguh sakit bagai diremas kuat dada ini hingga membuat saya sulit untuk bernafas Hiks..." Santi memukul dadanya berulang kali berharap rasa sakit itu menghilang.
__ADS_1
" Kenapa aku begitu terbawa emosi dan aku bisa berkata kasar padanya.? pasti dia sangat kecewa padaku, buktinya saja pergi dengan keadaan marah besar. aku sangat menyesal hiks.." racau Santi ditengah tangisnya yang semakin pecah.
Santi masih menagis kencang, bukan keinginnaya untuk melakukan itu, tapi sakitlah yang membuat ia menangis karna rasa itu tak kunjung reda. Hingga terdengar bunyi ponsel pertanda ia dihubungi oleh seseorang.
" Ans." gumam Santi. Ia mulai merasa tidak enak hati, mendadak rasa sakit yang menghunjamnya berganti dengan rasa khawatir. Namun ia tetap menjawab panggilan itu untuk mengetahui apa yang terjadi.
" Hallo." Jawab Santi setelah kembali menguasai perasaannya. Suaranya terdengar serak, dan terlihat sekali kalau ia sedang menagis dan tentu saja Ans tau kalau istri bosnya iti sedang menangis.
Sebenarnya Ans tidak tega mengatakan berita ini karna ia yakin itu akan membuat majikannya semakin terluka namun apa daya ia harus mengatakan berita ini.
" Hallo nona. Bisakah anda datang kemari." tanya Ans yang tak langsung memberi kabar.
" Ada apa Ans.? untuk apa kau memintaku datang. Aku harus datang kemana.? tanya Santi yang sebenarnya enggan berbicara karna suasana hatinya sedang tidak baik namun rasa penasaran lebih mendominasi saat ini.
" Tauan kecelakan nona."
Deg..Deg..
Mendadak jantungnya berhenti berdetak, kakinyanya lemas, tangan yang memegang gawai itu bergetar hebat hingga tak lagi mampu berkonsentrasi menopang benda pipih itu.
Seketika tubuhnya merosot bersimpuh kelantai,air mata yang belum mengering itu kini kembali lagi deras membasahi kedua pipinya. Dia kembali menangis sekencang kencanganya mendapati kenyataan yang terulang kembali seperti tiga tahun yang lalu.
" tidak..tidak.! jangan lagi Tuhan. aku..aku tidak mau lagi Tuhan kehilangan." ucap Santi dengan penuh segukan. " Aku tidak bisa jika harus kehilangan lagi Tuhan.! aku tidak bisa." lanjut Santi dengan tangis yang semakin pecah.
Sedangkan Ans di sebrang sana masih sestia menempelkan gawai itu di telinganya dan dapat ia dengar dengan jelas jeritan Santi yang begitu memilukan hati bagi siapa yang mendengarnya dan tak terkecuali bagi Ans.
Brsambung...
hai....hai...Para readera tercinta๐๐
__ADS_1
Ayo ding readers tercinta, dukung author dengan Vote, rate, like dan komen yang banyak ya๐๐
Follow me juga yahhhhh๐๐ฌ๐