Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Lupa


__ADS_3

Keesokan harinya, sesuai dengan yang dikatakan Halim bahwa hari ini Riko akan melakukan pertemuan dengan pembisins yang katanya bukan dari Indonesia, tapi dari luar Negeri.


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Lili mengerutkan keningnya.


Tidak biasanya suaminya ini akan berpakaian sendir, biasanya dia akan selalu berteriak merengek agar istrinya yang mengurusi semua kebutuhannya, tapi pagi ini tidak tau alasan apa Riko sudah bersiap bahkan ini masih pagi.


"Sudah sayang, aku harus berangkat" jawab Riko dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya.


"Sarapan dulu sayang" ucap Lili.


Riko melirik jam yang melingkar di pergelangan tangnnya sebelum akhirnya mengiayakan perkataan Lili "baiklah sayang, aku tidak mungkin menyia nyiakan masakan istriku" ucap Riko merangkul pinggang istrinya dan menggiring menuju meja makan.


Mereka duduk dan Lili seperti biasanya melayani istrinya mengisi piring suaminya dengan masakan yang sudah dia sediakan.


"Terimakasih sayang" ucap Riko dengan senyum manisnya.


Lili membalas dengan senyuman kemudian ikut duduk dan mulai menyantap sarapan.


"Aku berangkat ya sayang" ucap Riko.


Saat ini mereka sudah berada di teras murah, dan Lili selalu ikut mengantarkan Riko seperti permintaan suaminya, dan memang itu juka keinginan Lili.


"Hati hati sayang" ucap Lili dan mencium punggung tangan Riko dengaj lembut.


Riko membalas mencium kening, pipi dan berakhir dengan ******* bibir Lili sebentar "aku berangkat sekarang "


Lili masih berdiri mematung, menatap mobil yang membawa suaminya semakin jauh, entah kenaoa perasaanya merasa ada beban suaminya yang tidan dia ketahui.


"Ya, Tuhan....Aku harap engkau selalu bersama suamiku, membantu setiap permasalahannya dan memberi jalan keluar" ucap Lili kemudian kembali memasuki rumah.


Riko sudah sampai, tapi matanya di suguhkan dengan karyawan yang mondar mandir kesana kemari di dalam perusahaannya, dua menautkan alisnya dan sejurus kemudian Riko berlari memasuki kantornya untuk mencari tau apa yang terjadi.


"Tuan, kita ada masalah!" teriak Halim.


"Apa yang terjadi Halim! kenapa kau sangat panik!" tanya Riko yang ikut panik melihat kepanikan semua karyawannya.


"Gawat tuan, saham kita turun drastis!"


"Apa! ke ruanganku sekarang!" titah Riko dan langsung bergegas masuk ke ruanganya di ikuti Halim yang juga tidak kalah paniknya.


"Bagaimana bisa terjadi!" sentak Riko.


"Ini di luar kendali tuan, kami pikir penurunanya sama seperti sebelumnya" jawab Halim dengan kepala yang tertunduk.

__ADS_1


Brakk


"Bagaimana bisa ini tidak kalian kendalikan! harusnya kalian lebih perketat keamanan data perusahaan agar sahamnya tidak anjlok seperti ini!" bentak Riko dengan menggebrak mejaknya.


"Maafakan saya tuan"


Aku tidak butuh maafmu! yang aku mau kau bisa mengani ini semua, dan kau buatlah perjanjian kita di percepat!"


"Baik tuan, saya kan konfirmasi terlebih dahulu" jawab Halim.


"Berapa persen penurunannya?" tanya Riko.


"Hari ini 45% turun tuan" jawab Halim.


Riko terduduk dengan lemas mendengar berita ini, luar biasa sekali penurunan di hari ketiga ini, jika kemarin hanya 5% maksimalnya kini susah 45%, perbandingan yang sangat luar biasa merugikan perusahaan.


"Bagaiman dengan para pemegang saham? apa mereka sudab tau?" lirih Riko.


"Maafkan saya tuan, tapi sebagian dari pemegang saham sudah menarim sahamnya."


Riko kembali mengusao wajahnya dengan kasar, dia benar benar terjepit saat ini di situasi yang membuatnya benar benar jatuh dan tidak tau apakah masih bisa bertahan atau akan berakhir dalam beberapa hari lagi.


"Ada apa!" tanya Halim saat ponsel miliknya berdering.


"Tuan, pertemuan kita di majukan, karena klient kita ada urusan mendadak dan dia memberi kesempatan kita setengah jam dari sekarang untuk berisiap" ucap Halim yang membuat Riko tersentak kaget.


Riko langsung berdiri dari tempatnya, merapikan penampilannya kemudian berkaya "kita berangkat sekarang!" ucap Riko dan langsung meninggalkan Halim.


Halim pun langsung bergegas merapikan membawa berkas yang du butuhkan saat presentase nanti.


Sepanjang perjalanan, Riko sibuk membolak balikkan berkas yang di berikan Halim padanya, mempelajari setiap isi dari berkas itu, sebagai bahan presentase di rapat nanti.


"Halim, kau sudah pastikan berkas ini bukan?" tanya Riko di sela sela kegiatannya.


"Sudah tuan, jika tuan mau aku yang memaparkannya tidak masalah" jawab Halim.


"Tidak! aku sendiri yang akan memaparkannya, agar klient kita merasa puas akan presentase kita" jawab Riko.


Beberapa menit kemudian, mobil yang di membawa Riko sudah tiba di parkiran restoran mewah dan berkelas, tempat mereka akan membajas keraja sama.


Dengan merapikan kembali jasnya, Riko mengayun langkahnya dan memasuki Restoran dengan langkah tegasnya, walau banyak masalah bukam berarti membuat Riko kehilangan wibawanya.


"Atas nama Halim!"ucap Halim setelah sanpai di dalam dan bertemu dengan pelayan disana.

__ADS_1


"Mari silahkan tuan" ucap pelayan dan menggiring Riko dan Halim menuju ruangan yang sudah di sediakan.


"Dia belum datang Halim?" tanya Riko melihat jam tangannya.


"Mungkin sebentar lagi tuan, kita lebih cepat lima belas menit" jawab Halim.


Riko mengangguk sebagai jawaban, kemudian duduk dengan kaki yang disilangkan sementata tangannya menyilang di depan dada.


"Mau pesan sesuatu tuan?" tanga pelayan restoran.


"Tunggu klient kami datang!" jawab Halim.


"Baiklah tuan" jawab pelayan dan langsung undur diri.


Riko masih menunggu hingga lima belas menit kemudian datang seirang wanita dengan pakaian formal tapi mengetat di tubuhnya sehingga menimbulkan kesan sexy.


"Maaf saya terlambat" ucapnya dengan senyum mengembang.


Riko menengadah dan melihat ke arah suara, alangkah terkejutnya dia melihat siapa wanita yang ada di hadapannya.


Seketika raut wajah Riko mendadak suram, saat mendapati yang menjadi klienya adalah orang yang tidak ingin dia temui lagi, orang yang menjadi bagian dari masa lalunya dan orang yang pernah menempati relung hatinya


"Janeth!"


"Selamat pagi tuan Riko" sapa Janeth masih dengan senyum yang melekat di sudut bibirnya.


"Halim, dimana klient kita!" tanya Riko datar.


Halim terkejut mendapati pertanyaan Riko, mana mungkin bosnya masih bertanya sementara sudah jelas wanita canti di hadapanya adalah klient mereka.


"Noan Janeth adalah klient kita tuan" jawab Halim.


Riko menatap Halim dengan tatapan tajamnya, dia marah karena tidak di beri tau siapa klient yang akan mereka temui, jika saja dia adalah Janeth maka Riko pasti akan menolaknya tanpa berpikir lagi.


"Tunggu, kenapa kau yang ada disini?" tanya Rko saat menyadari sesuatu jika calon investor mereka adalah seorang pria tua, tapi kenapa Janeth yang datang kemari menemuianya.


Janeth menyunggingkan senyum indahnya, tapi sepertinya itu senyum merehkan menurut penglihatan tajam Riko.


"Kau lupa Riko jika dia adalah Ayahku, sudah pasti aku bisa ada disini sebagai perwakilan dari perusahaan ayahku sendiri" jawab Janeth.


Riko terkejut karena baru mengingat sesuatu, saat Janeth mengungkapkan siapa dia, bagaiman bisa Riko melupakan hal itu, apakah sebegitu tidak lagi ingin tau tentang Janeth sehingga nama belakang perempuan itu pun dia lupakan.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2