Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Terancam Bangkrut


__ADS_3

Sedangkan di perusahaan Riko, semua orang masih subuk menangani nilai saham yang terus menerus turun, walau tidak drastis penurunannya, tapi setiap harinya terus merosot tanpa ada sedikit saja ada kenaikan walau beberapa persen saja.


"Halim! aku tidak mau tau, cari orangnya sampai ketemu dan seret dia dihadapanku! kuberi kau waktu satu hari saja! ingat satu hari!" ucap Riko dengan nada dinginnya.


"Baik tuan, aku akan menemukannya untukmu, tapi kiya harus mengadakan rapat untuk solusi masalah ini" jawab Halim.


"Perintahkan mereka masuk dalam ruang Rapat, sepuluh menit ku beri waktu!" ucap Riko.


Sepuluh menit berlalu dan kini Riko sudah duduk di kuris kepemimpinanya di ruang rapat, suasanya begitu tegang saat kedatangannya.


Tidak ada karyawan yang berani mengangkat wajahnya, semua menunduk bahkan semua kepala devisi pun tidak ada yang berani bergerak di tempat walau sedikit saja.


"Jelaskan!" tegas Riko.


Seseorang yang berjabat sebagai kepala keamanan data perusahaan tanpa di perintah dua kali langsung mengambil posisi menjelaskan semua yang terjadi, apa efek dan bagaimana keadaa perusahaan saat ini.


"Bagaimana keuangan perusahaan!" tanya Riko.


Dan lagi lagi manager keuangan tanpa di perintah dua kali langsung menjelaskan kondisi keuangan yang juga sudah sangat menipis mengingat gaji karyawan yang baru saja di bayarkan beberapa hari yang lalu.


Riko mengepalkan kepalan tangannya mendengar semua penjelasan kela devisi yabg menyimpulkan bahwa perusahaanya sedang di ambang kebangkrutan jika dalam waktu satu minggu tidak di tangani, melihat statistik pendapatan perusahaan yang menurun drastis padahal baru dua hari.


"Kesimpulannya kita harus mendaptakan suntikan dana dari perusahaan besar tuan" ucap bawahannya yang sedang memaparkan tentang perusahaan dia akhir penjelasannya.


"Suntikan dana dari perusahaan besar?" gumam Riko.


"Benar tuan, dan ada perusahaan yang satu minggu yang lalu mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita, tapi saya kurang yakin apa dia masih ingin bekerja sama dengan kiya jika mengetahui keadaan perusahaan kita saat ini"


"Halim, urus pertemuanku dengan perusahsaan itu! aku harus menemuinya" ucap Riko.


"Rapat selesai!"


Riko melesat keluar dari ruang rapat, tujuannya kini adalah ruangannya untuk memeriksa semua laporan keuangan mereka, dia harus menyelesaikan semuanya.


Dia tidak mau membuat semua karyawan yang bergantung hidup dengannya harus putus kerja, karena jika itu terjadi maka akan ada pengangguran massal dan itu diakibatkan perusahaanya yang jatuh bangkrut.


"Tuan, saya sudah mengatur pertemuan ada dengan pemilik perusahaan dan besok siang kalian bisa melakukan pertemuan, karena malam nanti dia akan tiba di Indonesia.

__ADS_1


Riko mengerutkan keningnya mendengar penuturan Halim, berarti calon investor mereka bukanlah berasak dari sini tapu dari luar Negaranya.


"Apa dia bukan orang Indonesia?" tanya Riko dengan kening yang mengerut.


"Dia berasal dari Indonseia tapi istrinya bukan tuan, dan mereka sudah menetapa disana"


"Baiklah, kau atur semuanya, jangan sampai ada masalah" ucap Riko.


"Bakk tuan"


Riko menatap pergelangan tangannya menlihat jarun jam yang melingkar indah disana, wajtu sudah menujukan pukul tujuh malam, itu artinya waktu pulang bekerja sudah lewat dua jam.


"Kita kembali! istriku pasti menunggu" ucao Riko dan langsung bergegas pergi.


Halim mengikuti langkah Riko tanpa suara, karena sesungguhnya dia juga lelah tapi harus tetal prifesional.


Riko melangkah dengan wajah lesunya, berjalan menuju rumah, tapi di depan pintu sudah istri yang menungguinya pulang.


Riko memasang senyum terabiknya untuk Lili, dia tidak mau jika masalah kantor terbawa dirumah dan bertampak pada perusahaanya.


"Sayang...!" seru Riko.


"Kamu kenapa baru pulang sayang?" tanya Lili.


Lili tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatirnya, sejak kepulangan mereka dari rumah sakit Lili sudah bisa menebak adanya yang mengganggu pikiran suaminya walau terlihat santai tapi Lili sangat peka dan dia tau jika Riko ada masalah


"Maaf, aku lagi banyak kerajaan tadi jadinya kelupaan waktu" jawab Reyhan dengan senyum manisnya.


"Kenapa kamu tidak jujur lagi sih? aku tau kamu pasti ada masalah perusahaan kan?" batin Li**li.


"Ayo masuk, mandi dulu udah aku siapkan air hangat untukmu" ucap Lili


Mereka memasuki rumah dengan Lili yang menenteng tas kerja dan Riko yang merangkul mesra pingga Lili dan sebelah tangannya menenyang jas yang sudah terlepas dari badannya.


"Kamu mandi gih sayang" ucap Lili.


Tanganya sibul membuka kancing kemeja Riko membantu suaminya melepaskan pakaian, dan setelah itu RIko tanpa di perintah dua kali langsung menuju kamar mandi karena memang sepertinya dia butuh berendam.

__ADS_1


Setelah Riko memasuki kamar mandi, segera Lili meraih ponselnya dan mengirimi Nanda pesan "apa yang terjadi pada suamiku Nanda? kenapa dia pulang larut malam?" pesan Lili dan terkirim pada Nanda.


Lima menit berlalu dan Lili baru mendapatkan balasan pasan dari Nanda, mungkin Nanda menimang terlebih dahulu apakah akan memberi tahukan atau tidak.


"Tuan menangani perusahaan yang sedang bermasalah Nona" balasan yang di terima Lili.


"Perusahaan sedang bermasalah rupanya, pantas saja suamiku berubah seperti ini" batin Lili.


"Sayang..." panggil Riko dan melingkarkan tangnnya diperut Lili dan mengusapnya.


Lili terkejut karena tidak menyadari kedatangan suaminya, karena terlalu sibuk dengan pikirannya "aku siapkan pakaian dulu" ucap Lili.


"Begini saja dulu" ucap Riko yang membenamkan wajahnya di ceruk leher Lili.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu masalahmu sayang? aku tidak memiliki harta seperti dirimu" batin Lili.


Lili mengusap kepala suaminya yang basah, dan beraloh pada pipi Riko yang masih biaa tersentuh oleh jari jarinya.


"Sudah, pakai dulu pakaianmu setelah itu kita makan malam baru istrahat!" ucap Lili.


Riko kembali menurut, rasanya dia tidak punya waktu dan tenaga untuk bertingkah pada istrinya, yang ingin dia lakukan saat ini adalah bersama istrinya.


"Oh ya sayang gimana keadaan kantor?" tanya Lili yang ingin tau apa Riko akan jujut atau tidak.


"Baik, semua baik baik saja" jawab Riko berusaha tenang.


"Kenapa kamu tidak jujur sayang? apa aku tidak berhak tau masalahmu" batin Lili.


"Baiklah tapi jika ada masalah, jangan pernah sembunyikan dariku, kamu harus bisa mengatakannya walau mungkin aku tidak bisa membantu keuanganmu tapi setidaknya aku bisa mengetahui keadaan suamiku" ucap Lili dengan senyum tulusnya.


Riko terdiam mendengar perkataan istrinya, tidak tau harus merespon seperti apa karena kenyataanya dia sedang ada masalah dan tidak berniay sekalipun ingin mengatakan pada istrinya.


Sedangkan Lili sendiri sengaja berkata demikian untuk memancing suaminya berharap dengan begini Riko akan jujur.


"Tentu saja, aku akan mengatakan padamu sayang" jawab Riko, "ayo kita tidur aku sudah selesai" lanjutnya dan diiyakan oleh Lili.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2