Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Calon Istri


__ADS_3

Ans Masih betah berada di ruang tengah dengan televisi yang menyala, tapi pada kenyataannya bukan dia yang menonton televisi tapi televisi lah menonton dirinya yang sedang melamun entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.


Hingga tidak sadar jika Helena sudah keluar dari kamarnya dan berjalan mendekat ke arahnya. Helena ingin menyampaikan sesuatu sat sudah berada didekatnya tapi masih ragu-ragu, jelas terlihat dari mimik wajahnya yang sedikit ada rasa takut, terkadang hendak membuka mulutnya tapi di rapatkan lagi.


Mengalihkan pandangannya memutar lehernya ke samping untuk bisa melihat Helena dan dia bisa menangkap keragu-raguan pada Helena.


" kau ingin mengatakan sesuatu? "tanyaan memulai pembicaraan.


" Ti tidak ada." jawab Helena gugup.


" Katakan saja kau mau mengatakan apa."


" Em em ak aku lapar." cicit Helena


" Kau ingin makan? baiklah tunggulah biar aku sampaikan pada bi iyem dulu." kata Ans yang hendak berdiri tapi di cegah oleh Helena.


" Em, aku tidak mau makan disini." jawab Helena gugup menundukan kepalanya.


" Jadi?" Ans mengerutkan keningnya tidak memgerti.


" Aku ingin makan saten di pinggir jalan yang ada di si simpang kontrakan aku." jawab Helena meremas kedua tangannya takut jika Ans marah akan peemintaanya.


Ans yang mengetahui ketakutan Helena hanya tersenyum tipis, dia tahu kalau gadis ini takut dirinya marah karena permintaannya. Wajar saja Menurut Ans karena mereka baru saling mengenal bahkan belum sampai satu bulan mereka mengenal.


" Baiklah kita akan ke sana, dan gunakan sweater mu agar kau tidak masuk angin saat kita pulang malam karena mungkin kita akan sekalian mengambil barangmu di kontrakan nanti. "Ucapan Ans yang mengiyakan permintaan Helena.


Binar bahagia Bukan main terlihat jelas wajah Helena, jika tidak ingat dirinya sedang hamil mungkin saat ini dia sedang melompat kegirangan karena keinginan yang dikabulkan oleh Ans.


"Baiklah Tunggu sebentar aku mau mengambil sweater dulu." ucapan Helena dengan senyum mengembang di wajahnya dan hendak berbalik badan tapi sayang dia terhenti karena perkataan Ans.


" Kau memiliki sweeter rupanya disini." kata As dengan sebelah alis terangkat dan bibir yang berkedut membentuk senyum kecil.


" Hehehe tidam ada." jawab Helena menyengir.


Ans menggelang melihat tingkah lucu Helena, melenggang pergi menunu kamarnya dan tak lama kembali lagi membawa jaket miliknya untuk di kenakan Helena.


" Pakai saja ini." kata Ans sambil memakaikan jaket di tubuh Helena.


Untuk sesaat Helena dibuat terbuai oleh perlakukan lembut Ans kepadanya, tapi dengan buru-buru dia menampik pikirannya, dia yakin jika Ans melakukan itu semua agar dirinya tidak sakit. karena jika dia sakit maka akan berimbas dan pada kandungannya. ya itu yang dipikirkan Helena alasan Ans melakukan semua itu karena anaknya dan bukan karena perhatian yang sesungguhnya untuk dia.


" Terimakasih." kata Helena lirih.


" Ayo kita berangkat." ajak Ans meraih jemari Helena dan menggengamnyan entah sadar atau tidak.

__ADS_1


Helena mengarahkan pandangannya ke arah jemari mereka yang saling bertautan, bibirnya tersenyum simpul ia dapat merasakan kehangatan dari jemari Ans yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat wajah manisnya merona merah karena malu.


Terus mengikuti langkah Ans yang membawanya keluar dari rumah menuju tempat tujuan untuk memenuhi keinginan Helena yang bisa dikatakan sedang mengidam itu.


Sampai disana, rupanya penjual sate gerobak rupanya masih ada disana, maklum saja ini belum terlalu larut. Helena yang sudah tidak saaar ingin makan langsung melepaskan sabuk pengaman dan hendak membuka pintu mobol, tapi segera di cekal oleh Ans.


" Mau kemana." tanya Ans datar.


Helena yang mengetahui Ans kembali bersikap datar menajdi takut, meski dia tidak tau kenpa Ans kembali lagi seperti itu, tapi sungguh ia sangat tidal bisa menghadapi Ans yang bersikap seperti itu. " Aku mau turun." cicit Helena.


" Untuk apa."


" Em,, bukankah kau mengajakku makan sate itu." jawab Helena dengan jemari menunjuk penjual sate dari dalam mobil.


" Aku tidak mengajakmu tapi kau yang mebginginkannya." sanggah Ans.


" Maaf. Jika tidak bisa maka aku tidak jadi menginginkanya." jawab Helena dengan air muka sedihnya membuat Ans tersenyum walau berusaha ia sembunyikan.


" Kenapa tidak jadi."


Ans masih saja menggoda Helena dengan ekspresinya yang seperti itu, menurutnya sangat lucu jika melihat Wajah Helena yang seperti itu.


" Aku tidak mau lagi." jawab Helena.


" Iy tapi sekarang tidak lagi."


" Jadi kau hanya membuang waktu saja." Ans kembali berkata dengan suara dinginnya.


" Tidak aku tidak bermaksud seperti itu, aku tidak membuang waktumu, aku sebenarnya sangat ingin tapi.-" Helena terhenti saat menyadari jika dirinya keceplosan bicara.


" Tapi apa?" tanya Ans


" Aku tidak mau jika kau marah,makanya atu tidak menginginkanya lagi." jawab Helena dengan polosnya.


" Bodoh! kau tunggulah disini, jangan keluar atau berpindab posisi sedikitpun. Aku akan kembali membawakanmu sate itu." kata Ans yang melesat keluar mendekati penjual sate.


" Pak, saya pesan satenya." ucap Ans setelah sampai di dekat gerobak satenya.


" Berapa bungkus Den?"


" Dua bungkus saja." jawab Ans.


" Bail Den, tunggu sebentar." jawab Penjual sate dengan senyum tulusnya dan kemudian mengerjakan sate pesananan Ans.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian sate pesanan As akhirnya jadi dan penjualnya pun menyerahkannya, "semua tiga puluh enam ribu Den." ucapnya.


" Baik terima kasih, kembaliannya ambil saja." kata Ans menyodorkan uang pecahan seratus ribu.


" Baik Den terimakasih, semoga istri dan anak Aden sehat sampai persalinan nanti." kata penjual sate dengan senyum tulusnya.


" Terimaksih pak." jawab Ans yang tidak menyangkal kata istri yang di sematkan penjual itu.


Dengan langkah ringan Ans membawa kantong kresek yang nerisi sate itu masuk ke dalam mobil dan menyerahkannya pada Helena setelah sampai di dalan mobil " ini satemu." kata Ans menyodorkan kantungan itu.


"Terimakasih." sambut Helena dengan girang.


Melihat senyum bahagia Helena membuat Ans ikut tersenyum, ia senang jika Helena bahagia karena anaknya pun aka bahagia jika ibu bahagia. itulah yang di jadikan Ans sebagai alasannya.


" Setelah itu kita akan ke kontrakanmu, mengepak barang yang kamu perlukan saja."


" Baiklah, lagian aku hanya akan mengepak pakaian ku saja dan tidak ada yang lain." jawab Helena.


Mereka kini sudah berada di halaman kontrakan milik Helena, dan ternyata disana ada seorang pria yang dikenal sebagai Darren duduk di teras kontrakan dengan kakai menyilang, nampak jelas di raut wajahnya ada kehawatiran entah apa yang di hawatirkan olehnya.


" Helena..Kai dari mana saja? aku mencarimu seharian api aku tidak menemukannmu."


Darren berseru, ketika melihat Helena keluar dari mobil dan di susul oleh Ans yang juga keluar, sebenarnya ada banyak pertanyaan di benak Darre tapi dia menampiknya dan lebih peduli pada keadaan Helena.


" Mas Darren." seru Helena yang terkejut akan kedatangan Darren.


" Kau dari mana saja? kenapa malam begini kau baru datang, aku sangat khawatir kau kenapa napa Helen." cerca Darren dengan nada cemasnya dan meraih tangan Helena untuk di genggam.


Ans dapat melihat jika Darren memilik perasaan terhadap Helena, itu terlihat jelas dari sorot mata Darren yang penuh dengan kecemasan untum Helena, dan entah kenap Ans sangat tidak menyukai hal itu.


" Maaf bisa anda lepaskan tangan calon istri saya." kata Ans dengan nada dinginnya dan tanyanya dengan kasar menghempaskan genggaman Darren dari Helena.


" Calon Istri." beo Darren.


" Iya Helena calon Itriku, jadi jaga sikap anda pada calon istri saya."


" Tidak mungkin."


Bersambung...


Maaf ya segini dulu, besok di lanjutkan lagi๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Jangan lupa LIKE, KOMENT, dan BERI HADIAH untuk NOVEL author๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2