
"Mommy masak banyak dengan waktu yang sangat cepat ya..." seru Radith karena memang menurutnya itu sangat cepat.
Nara hanya tersenyum mendengar celoteh putranya, "Mommy menggunakan semua kompor dan wajan yang ada" jawab Nara karena tidak ingin terlalu dipuji oleh para pria yang ada disana.
Bagaimanapun ada mertuanya yang sesama perempuan dan lagi sudah secara terang terangan ayah mertua dan suaminya menyindir diri ibu mertuanya dan dia tidak mau hanya karena perkara itu hubungannya dengan ibu mertua menjadi tidak baik.
"Ohhh begitu"
"Sudah kita masak dulu, Mama sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan menantu mama" celutuk Clara yang membuat Nara tercengang.
Nara berpikir mungkin mertuanya akan tersinggung karena kejadian barusan tapi ternyata diluar ekspetasinya, justru mertuanya malah tidak sabar ingin mencicipi masakannya, "syukurlah Mama tidak tersinggung" batin Nara dengan nafas penuh kelegaan.
"Iya Papa juga tidak sabar ingin makan" timpal Heru.
"Sini piringannya Pah, biar Mama isi saja" pinta Clara.
Nara juga melakukan hal yang serupa, mengambil piring Rajesh terlebih dahulu dan mengisikan piringnya sesuai dengan keinginan Rajesh, lalu setelahnya kini beralih pada piring Radith, dia juga mengisi sesuai dengan keinginan Radith yang hampir semua jenis makanan ingin dimasukan kedalam piringnya jika tidak ditergur oleh Rajesh.
Nara kemudian memasukan makanan kedalam piringnya sendiri lalu mereka semua makan dengan nikmat tapi itu hanya sesaat karena lagi lagi celoteh Clara dan Radith menciptakan kericuhan.
"Wahhh masakamu sangat enak Nara" seru mama Clara.
"Iya Nek, Mommy sangat pandai memasak dan masakannya sangat lezat.... Nenek lebih baik belajar memasak dengan Mommy" ucap Radit membuat Clara dan Nara melotot bersamaan.
Nara melotot karena tidak percaya dengan mulut putranya yang tidak ada saringannya sendiri sedangkan Clara melotot karena putra menurunkan harga dirinya.
"Boy...lebih baik kau makan saja" tegur Nara.
"Ckck... anak ini tidak ada bedanya dengan Ayahnya sangat tajam ucapannya" gerutu Clara membuat Rajesh dan Heru menggeleng.
"Tapi tidak masalah usulanmu, besok pagi Nenek akan memasak bersama dengan Mommymu" lanjut Clara membuat semua yang ada di sana kembali menggeleng.
Mereka kembali melanjutkan acara makan malamnya, sayang sekali karena keluarga Silvie pergi tadi sore sehingga tidak bisa mencicipi masakan lezat dari Nara.
"Jadi kalian berangkat jam berapa?" tanya Heru.
Saat ini mereka sudah berada diruang tengah, mereka berbincang setelah selesai makan malam dengan posisi Nara, Rajesh dan Radith berada disofa yang sama sementara Clara dan Heru, pasangan paru baya itu berada di sofa yang sama tepat disebarang sofa yang diduduki keluarga kecil Rajehs.
"Mungkin setelah sarapan pagi" jawab Rajehs.
Radith yang mendengar sesi tanya jawab antara kakek dan ayahnya mengerutkan keningnya tidak paham kemana arah pembicaraan dua orang itu.
"Memangnya Daddy mau kemana?" tanya Radith penuh selidik.
__ADS_1
Nara maupun Rajehs tak terkecuali pasangan paru baya itu saling melirik, mereka sepertinya melupakan sosok bocah kecil yang juga merupakan keluarga dan sudah pasti keputusan akan jadi tidanya pasangan baru berbulan itu itu bergantung dengan keputusan Radith.
Bukan apa apa, bukan pula karena takut, hanya saja mereka tidak mau berurusan dengan Radith apalagi jika sudah marah ataupun kecewa karena semua itu akan berdampak pada psikisnya lagi dan Nara paling tidak mau akan hal itu.
Nara menghela napasnya terlebih dahulu, dia merasa bersalah karena merasa sudah mengabaikan putranya, padahal sudah jelas betapa bahagianya Radith saat Nara sudah sah menjadi ibunya dan lebih bahagia lahi ketika Nara sudah tinggal dengannya tapi jika seperti ini maka Radith pasti akan kembali pada sikapnya seperti dulu karena merasa ekspetasinya tidak sesuai dengan kenyataan yang saat ini ada.
"Sayang...." panggil Nara dengan lembut.
Radith yang mendengar ibunya memanggil dirinya dengan lembut sudah merasakan akan ada hal yang sedikit membuatnya kecewa tapi tetap saja dia juga tidak mau mengabaikan ibu sambungnya karena dia sudah berjanji akan hal itu.
"Katakanlah Mom" pinta Radith.
"Begini....."
"Kalian anak pergi..!" potong Radith.
Nara kembali menghela napasnya, sedangkan Ketiga orang dewasa lainya hanya diam dengan perasaan yang harap harap cemas akan respon bocah itu.
"Jangan potong dulu Mommy bicara, karena kamu tidak akan menyimak perkataan Mommy" ucap Nara yang dibalas anggukan oleh anak kecil itu.
"Benar, Mommy dan Daddy akan pergi hingga dua Minggu kedepan..." Nara menghentikan ucapannya, dia ingin melihat respon anak itu seperti apa, dan ternyata Radith melakukan dengan baik ucapannya, Radith diam menunggu Nara menyelesaikan ucapannya.
"Kami mau pergi ke Hawai, apakah Radith keberatan?" tanya Nara.
Radith menatap ibunya dengan lekat, sebelum akhirnya memberikan pertanyaan, "kenapa harus kenapa? apa Daddy ada pekerjaan?" tanya Radith.
"Daddy dan Mommy akan mencari adik baru untukmu" celutuk Rajesh yang paham akan kebingungan istirnya
"Mas..." tegur Nara.
"Adik....?" beo Radith.
"Iya adik" timpal Clara.
Wajah Radith mendadak masam, dia tidak suka dengan perkataan ayah dan Neneknya "aku tidak suka adik" sentak Radith membuat semua terkejut dengan respon Radith.
"Ada apa Boy? kenapa kamu tidak suka adik?" tanya Rajesh yang malah semakin membuat emosi Radith semakin tersulut.
"Jangan dengarkan perkataan Daddy sayang..Daddy hanya berniat untuk menggodamu saja" ucap Nara menenangkan hati anaknya.
Nara memeluk Radith dengan sayang, dia mengelus punggung Radith dengan sayang, entah kenapa hatinya ikut sakit melihat sorot mata Radith yang penuh ketakutan yang entah apa itu.
"Jadi yang Daddy katakan bohong?" tanya Radith.
__ADS_1
"Iya, Daddy berbohong" ucap Nara membuat Radith kembali berbinar.
"Daddy dengar, Mommy bilang Daddy berbohong" cebik Radith.
"Sayang...."
"Sstttt...jangan berisik"
Rajehs yang ingin protes terhenti melihat Nara yang menyuruhnya berhenti, dan akhirnya Rajehs menurut, dia yakin jika Nara bertindak seperti apa sudah berdasarkan perhitungan dan kalau masalah anak, Rajesh juga yakin jika Nara mampu memberi pengertian pada putranya.
"Tapi...bolehkan Mommy dan Daddy pergi besok?" tanya Nara.
"Masih ingin pergi?" tanya Radith kembali sendu.
"Kenapa? Radith tidak mengijinkannya?" Nara malah bertanya balik pada Radith.
"Iya, aku tidak suka" jawab Radith jujur.
"Em....tapi Daddy dan Mommy harus pergi sayang"
"Pergilah..." ketus Radith lalu beranjak dan meninggalkan ruang tamu dengan perasaan kesal.
"Radith..." seru mereka bersamaan.
"Bagaimana ini Mas? apa lebih baik kita hentikan saja?" tanya Nara.
"Tidak mungkin... bukankah ini sudah direncanakan dan kalian harus berangkat besok pagi"
"Tapi aku tidak mau Radith bersedih Ma....aku tidak suka melihatnya seperti itu" ucap Nara jujur.
"Sudahlah pasti dia hanya kesal saja, dia tidak akan marah terlalu lama" Rajehs berusaha menenangkan Nara dan itu justru membuat Nara naik pitam mendengar perkataan suaminya.
"Jangan menghiburkj Mas...aku tau bagaimana Radith walau kami tidak lama mengenal, aku yakin jika sudah seperti ini dia pasti akan kembali bersikap dingin lagi dan aku tidak mau usahaku selama ini sia sia... pokoknya kalau Radith tidak setuju maka batalkan saja rencana ini" ucap Nara dengan tegas lalu pergi dengan perasaan yang sangat kesal pada suaminya.
"Sepertinya Nara sudah sangat menyayangi Radith, lihat saja responnya seperti itu" ucap Heru yang dibalas anggukan oleh Clara.
"Dan Mama senang karena akhirnya ada yanh mau menerima Radith dengan tulus" tampan Clara.
"Jadi bagaimana jika Radith tidak setuju? apa kami benar tidak akan jadi bulan madu" lirih Rajesh.
Pria tampan itu tidak bisa berbuat apa apa, karena ini sudah keputusan istrinya dan mau tak mau dia harus mengikutinya apapun nanti itu, dan dia hanya bisa berharap dan berdoa agar Radith mau mengijinkan mereka berdua.
.
__ADS_1
.
Bersambung...