
"Bukan maaf Nana... tapi aku ingin kamu membiasakan diri seperti untuk hal seperti ini" kata Rajesh serius.
"Baiklah"
"Istrahatlah, masih ada waktu dua jam untuk kita bisa istirahat" Kata Rajesh seraya mepaskan pelukannya.
"Tapi aku ingin membersihkan riasanku dulu" Kata Nara.
"Bersihkanlah"
"Baiklah"
Nara berjalan mendekat kearah meja rias, sudah ada kapas, dan facial untuk membersihkan wajahnya, sedangkan Rajesh berjalan menuju lemari, membukanya lalu meraih satu pakaian santai untuknya dan istri tercintanya.
"Sayang... tukarlah dulu pakaianmu" kata Rajesh, tanganya terulur memberikan pakaian untuk istrinya.
"Kamu dapat dari mana pakaiaj ini?" tanya Nara.
"Tentu saja dilemari" jawabnya santai.
"Ohhh"
"Ayo tukar dulu pakaiannya" kata Rajesh.
"Tapi..."
"Tidak ada kata tapi, ayo Mas bantu bukakak gaunnya" kata Rajesh meminta Nara agar mendekat.
Wajah Nara merona malu, bagaimana bisa dia membiarkan Rajesh membantunya membuka pakaian sedangkan ini pertama kalinya untuk Nara, awalnya Nara ingin menolak tapi mengingat perkataan Rajesh barusan membuat gadis cantik itu mengurungkan niatnya.
Mau tak mau akhirnya Nara membiarkan Rajesh membantu menurunkan resleting gaunnya, "baiklah tolong turunkan resleting gaunku" pinta Nara malu malu.
Rajesh tersenyum, tentu saja dengan senang hati dia akan melakukannya karena selain niat membantu ada tersirat tujuan lain disana dan tujuannya tidak jauh jauh dari dia yang ingin melihat tubuh istrinya dalam keadaan polos.
Tangan pria tampan tapi ternayata sedikit mesum itu mulai menurunkan resleting gaun Nara, tapi dilakukan sangat perlahan sekali dan dia sengaja melakukannya karena masih ingin memandang punggung putih nan mulus istrinya.
Rajesh menelan ludahnya kepayahan mendapati keindahan saat gaun itu semakin merosot kebawah, jiwa kelelakiannya kini meronta untuk membuktikan kehebatannya tapi dengan susah payah Rajehs menahan dirinya agar tidak mengacaukan rencananya malam nanti.
Tapi walau sudah bertekad untuk tidak melakukan apa apa, tetap saja tubuh dan organ tubuhnya berhianat karena kini tangan kekar itu mulai bergerak menyentuh dan mengelus punggung Nara, merasai betapa halusnya kulit itu.
Bagaimana dengan Nara? tentu saja tubuh gadis cantik itu menegang saat merasakan sentuhan lwbut di punggunya berulang kali, sentuhan yang membuat tubuhnya tersengat bagai kesetrum, aliran daranya tiba tiba bedesir hebat, hawa panas mulai dirasakan saat kini kedua tangan pria yang sialnya adalah suaminya sendiri kembali menjalar bahkan kini sudah berpindah kedepan dibawah dadanya yang tidak terbungkus apapun.
Naluri sebagai seorang perempuan yang ingin melindungi diri tentu saja ada dan spontan Nara menutup kedua gunung kembarnya membuat Rajesh sedikit kesal tapi dia mengerti jika istrinya melakukan hal itu refleks saja.
__ADS_1
Dengan perlahan kedua tangan Nara diturunkan, walau ragu tapi akhirnya Nara mau menurut tanganya turun dan membiarkan Rajesh melakukan sesuka hatinya, walau bagaimanapun Rajehs berhak untuk itu.
"eughh"
Lenguhah lembut nan manja lolos keluar dari bibir Nara saat kedua gundukannya di tangkup dan diremas oleh kedua tangan Rajehs membuat pria taman yang sudah berstatus sebagai suami itu sangat puas hingga akhirnya tangannya kembali turun.
"Pakailah pakaianmu sayang, belum waktunya kita melakukannya" kata Rajesh dengan senyum kepuasan terbit disudut bibirnya.
Nara mencebik kesal sekaligus senang, dia kesal karena merasa di permainkan tapi dia juga senang karena tidak terkam saat ini oleh Rajesh, "Baiklah" kata Nara dengan cepat dan memakai pakaiannya dengan cepat pula lalu kembali melanjutkan kegiannya menghapus riasan.
Rajehs sendiri memilih untuk menukar pakainnya di kamar mandi lalu merebahkan dirinya diantar ranjang berukuran king size untuk istirahat sejenak.
"Istrhatlah setelah itu sayang" kata Rajehs mengingatkan Nara.
"Iya aku akan istirahat setelah itu" jawab Nara masih dengan kegiatannya.
Bari saja Nara berdiri hendak melangkah menuju ranjang tapi gedoran pintu mengurungkan niatnya, dengan kening yang mengerit Nara melihat kearah suaminya untuk meminta jawaban tapi sayangnya hanya kedikan bahu yang didapatkan.
Mau tak mau Nara akhirnya membukakan pintu, dia tidak mau jika ada yang menunggu terlalu la apalagi jika di pikir pikir dari caranya menggedor pintu, nampak sekali ada keterburu buruan disana.
"Mommy...." teriak Radith setelah pintu terbuka.
"Ohh Boy, ada apa menggedor pintu dengan keras?" tanya Nara lembut.
Radith masuk begitu saja tanpa menunggu ibunya mempersilahkan masuk atau tidak, membuat Nara hanya geleng kepala sedangkan Rajesh mendengkus sebal mendapati ternyata yang menjadi pengganggu adalah putranya.
"Mommy kenapa lama membuka pintunya? tanya Radith mencebikkan bibirnya.
"Maaf sayang, Mommy habis dari kamar mandi" alasan Nara.
"Lalu apa yang dilakukan Daddy? kenapa tidak membuka pintu?" sinis Radith.
"Daddy istrhat dan terbangun karena ketukan pintu yang cukup keras darimu" jawab Nara.
"Ohh... maaf Mom, aku hanya mencari keberadaan kalian karena mereka tidak mengatakan padaku" kata Radith.
Baik Rajesh maupun Nara paham siapa mereka yang dimaksud dan itu membuat Rajesh sedikit mendapat pencerahan untuk menjalankan rencananya, karena berpikir jika orang orang pasti akan mendukungnya.
"Ohh, tidak masalah sayang... jadi kamu mau apa? tidur? jika ya, ayo tidur dengan Mommy dan Daddy" kata Nara dengan lembut.
Sesungguhnya Nara sangat bersyukur karena Radith datang tepat waktu, jika tidak maka Nara tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, bagaimana tidak Nara takut jika hanya saat menukar pakaian saja Rajesh sudah menjadi nakal maka tidak tertutup kemungkinan Rajesh akan kembali nakal juga.
"Bolehkan Mom?" tanya Radith dengan binar bahagian.
__ADS_1
Tentu saja Radith merasa bahagia, bagaimana tidak jika inilah yang diimpikan selama ini, tidur dengan ditemani ibunya dan kini keinginan itu akan terwujud dan awalnya adalah sekarang ini.
"Tentu saja boleh sayang, iya kan Dad?" tanya Nara dengan lembut meminta pendapat suaminya.
"Ya tentu saja" jawab Rajesh.
Menurutnya ini tidak masalah, toh juga dia dan istrinya hanya tidur saja jadi tidak masalah bukan jika putranya imut tidur, hanya saja mungkin Nara akan mencari posisi bagus agar bisa memeluk istrinya.
"Horeee i love you Dad, kau memang yang terbaik" seru Radith setelah mendapatkan lampu hijau dari ayahnya.
"Jadi hanya Daddy yang terbaik?" tanya Nara pura pura sedih.
"Oh no Mom... Mommy Sanga terbaik bahkan lebih baik dari Daddy" kata Radith membuat Rajesh hanya bisa melotokan matanya mendengar pendapat putranya yang berubah dalam sekejap saja.
"Dasar anak ini, bermulut buaya!" geram Rajehs.
"Sudah lebih baik tidur saja, jika terus bicara kapan istirahatnya" ketus Nara.
"Oh iya, ayo Mom kita tidur" ajak Radith.
"Ehmm Boy...kita sama sama pria bukan?" tanya Rajesh dengan senyum liciknya.
"Of course, aku adalah pria sejati" jawab Radith dengan percaya diri.
"Jadi pria sejati harus melindungi wanita bukan?" tanya Rajesh lagi.
Nara yang mendengar pertanyaan pertanyaan suaminya mulai merasakan tidak enak hati, dia merasa akan ada bahaya yang menerjang terlihat dari suaminya yang tertawa dengan seringainya daj dia sangat yakin ini tidak akan menguntungkan dirinya.
"Tentu saja,"
"Berarti kau akan menjaga Mommy?"
"Tentu saja Dad, jangan tanyakan itu lagi" jawab Radith yang mulai merasa jengah dengan ayahnya yang tidak langsung to the point.
"Maka siapa yang harus tidur di tengah? siapa yang harus dilindungi dan siapa yang harus melindungi" tanya Rajesh membuat Radith langsung konek.
"Tentu saja Mommy yang harus tidur ditengah dan Mommy yang harus kita lindungi" jawab Rsidth cepat.
Nara melorotkan matanya tak percaya, dia tidak tau apakah anak samhungnya ini memang polos atau hanya berpura pura polos tapi sebenarnya memiliki otak licik sama seperti ayahnya.
"Dasar manusia manusia licik mereka ini" batin Nara.
.
__ADS_1
.
Bersambung...