Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Masih tentang Santi Ruben


__ADS_3

Saat ini pasangan pasutri itu sedang erafa dihalaman belakang setelah draman ngambek dan manja selesai kini sekarang, Ruben sedang memikirkan nasibnya akan seperti apa jika memanjat pohon setinggi itu.


Ruben masih mematung mandang ke atas tepanya mengukur ketinggian pohon, menelan ludahnya berkali kali, peluh sufah mulai mengisi keningnya.


" Ayo sayang cepat panjat " kara Santi saar Ruben masih saja tidak beranjak dari tempatnya.


" Sebentar sayang." jawab Ruben menggaruk tengkuknya.


" Ihhh, mas ini mengulur waktu saja, nanti keburu ileran anak kita." cemberut Santi


Mendengar anaknya di katakan akan ileran, dengan cepat Ruben bergerak, tapi batu saja tangannya menyentuh pohon ia kembali bebalik mengahadap istrinya untuk menawar.


" Sayang pake galah saja boleh.?" tanya Ruben memelas.


" No. Aku mau mas panjat." jawab Santi bersedeka dada. Rupanya wajah melas suaminya tidak mengubah keinginan Santi


Dengan berat hati Ruben mulai memanjat pohon, sedikit demi sedikit, akhirnya Ruben sampai di puncak dahan yang ada buah mangganya, memetik beberapa dan melempar asal kebawah, untuk sanja Santi mengambil jarak yang lumayan jauh kalau tidak sudah pasti ia akan kena lemaparan suaminya.


Mangga sudah sepenuhnya turun dan mendarat di bawah, kini giliran Rubenlah yang turun, tapi sayang sekali kesusahan ia dapatakan untuk turun.


" Sayang....Mas giman turunnya ini " rengek Ruben.


Santi yang sedang asyik memungut buah mangga menghentikan sejenak, melihat keatas hanya sebentar saja kemudian kembali melanjutkan kegiatannya dan berkata. " ya tinggal turun saja lah mas, begitu saja kok di tanya." jawab Santi sekenanya.


Ruben mengolo mendengar jawaban dari istrinya, sedangkan bi Asih dan pak dadang tertawa keci di balik bibir yang tertutup oleh tangan mereka masing masing


" Lucu ya tuan Ruben kalau seperti itu." kata Bi Asih cekikan.


" Hooh, dia seperti bukan pemilik perusahaan saja tapi lebih cocok jadi tukang panjat." jawab pak dadang .


" Sayangggg ..." rengek Ruben. Tapi tidak di indahkan oleh Santi, yang ada malah Santi berlalu pergi meninggalkan Ruben masuk kedalam rumah.


Ruben sangat kesal melihat sikap istrinya yang tidak peduli, ibarat habis manis sepah di buang, dia di perlakukan oleh Santi.


Karna kekesaln hatinya, ruben turun dengan kasar dan tidak lagi memperhatikan jalan yang baik untuk turun hingga kakinga terpeleset dan..


Brukkk..


" Aduhhhh pinggangku." teriak Rubenyang terjatuh ketanah karna tidak hati hati.

__ADS_1


" Astagaa tuannnn." teriak Bi Asih dan mendekati Ruben, membantu tuannya berdiri yang terlihat sangat kesakitan.


" Ayo tuan saya bantu." ucap Bi Asih dan di bantu pak dadang masuk kedalam rumah.


Mereka sampai di ruang tengah dekat di meja makan, dan Santi ada disana sedang duduk santai sambil mengupas mangga miliknya.


" Loh, mas kenapa.?" tanya Santi dengan polosnya.


Ruben semakin meradang karena pertanyaan bodoh istrinya, bagaimana mungkin istrinya bertanya begitu, sedangkan dia merasa sangat kesakitan. Bukananya khawatir malah duduk santai dan melontarkan pertanyaan bodoh pula.


Merasa tudak afa respon dari suaminya, santi kembali menoleh kearah Ruben, dan ia melihat suaminya yang sedang meringis menahan sakit dan Pak dadang yanv mengurut pinggang suaminya.


" loh mas kenapa." tanya Santi dengan khawatir dan mendekati Ruben, meninggalkan buah yang baru saja di kupasnya.


" Mas jatuh." tanya Santi lagi


" Kau diamlah.!" Bentak Ruben.


Santi tersentak kaget melihat suaminya membentak dirinya, baru kali ini suaminya memebentaknya semenjak mereka berbaikan.


" Mas bentak aku." kata Santi dengan mata yang berkaca kaca.


Santi berlalu pergi meninggalkan Ruben, bahkan mangga miliknya pun ia tinggalkan, masuk kekamar menjatuhkan dirinya di atas kasur dengan posisi tengkurap, manumpahkan tangisnya yang sudah tidak bisa di tahan lagi.


Sedangkan Ruben, tidak mengetahui kepergian istrinya, karna terlalu fokus pada pinggangnya, dan setelah selsai barulah ia menoleh dan tidak menemukan keberadaan santi disana.


Mengedarkn pandanganya dan tetap ia tidak menemukan sosok istrinya. " Loh istriku kemana pak " tanya Ruben karna tidak menemukan Santi.


" Nona keatas tuan, sepertinya nona menagis." jawab pak dadang hati hati


" Ha... Menangis.?" tanya Ruben dengan mulut yang sedikit ternganga.


" Iya tuan, karena tadi kan tuan membentak nona." Tutur pak dadang


" Astagaaa." pekik Ruben, dengan mengusap wajahnya kasar. Dia tidak bermaksud membentak istrinya, itu semua hanya reflex saja dari Ruben.


" Pak, ambilkan mangga istri saya, dan bantu saya ke kamar." pinta Ruben.


Ruben kini sudah berada didepan pintu, perlahan mengabil napas dalm dan membuangnya secara teratur, karena dia harus menyiapkan mental untuk menghadapi istrinya yang pasti sedang sedih.

__ADS_1


Ceklek...


Pintu terbuka dan ruben bisa melihat jelas istrinya yang tebungkus di balik selimut dengan bahu yang bergetar, pertanda jika Santi sedang menangis, dengan langkah pelan dan satu tangan memegang pingganya yang masih sakit, berjalqn ke arqh istrinya.


" Sayang.." panggil Ruben lembut, setelah piring mangga istrinya di letakan di atas nakas, dan sekarang posisinya sedang berada di belakang istrinya deangan posisi setengah duduk dan tangan kirinya mengusap lembut bahu Santi


" Sayang kamu dengar mas kan." lagi lagi Ruben bucara karna tak kunjung mendapat reapon dari Santi. " Kamu jangan menangis ya, mas minta maaf." Kali ini Ruben memaksa Santi untuk mengahadap kearahnya.


Telihat mata istrinya yang basah dan pipinya juga basah karna air mata. Dan Santi masih saja diam mentap suaminya tanpa bicara.


Dengan lembut, Ruben mengusap pipi istrinya guna menghapus air mata itu. " jangan menangis sayang. Mas tidak bermaksud membentakmu mas hanya merasa kekasikan dan reflek bersikap begitu." ucap Ruben penub penyesalan.


" Mas tidak marah sama aku " tanya Santi


" Untuk apa mas marah sayang, ya jelas tidak lah." kata Ruben dengan senyum manis menghiasi bibirnya da perlahan bibir itu mengecup kening Santi mesra. " Yasudah kamu makan manggamu ya." kata Ruben setelah mencium Santi.


Santi meenggeleng sebagai respon dan itu membuat Ruben mengerutkan keningnga dalam tanda tidak paham akan gelengan Istrinya


" AKu tidak mau, karena mangga itu membuat mas jatuh dan aku menangis." jawab Santi dengab polosnya.


Ruben terkekh geli mendengar jawaban istrinya dan berkata. " justu kalau kamu tidak makan malam terkesan tidak menghargai usaha suamimu ini." kata Ruben dengan ekspresi sedikit kecewa.


" Eh kok begitu.? aku hargai kok mas, " ucwp Santi hendak bangkit berdir tapi di cegat oleh Ruben..


" Mau kemana sayang." tanya Ruben.


" Mau ambil mangganya mas, mau aku makan karena itu hasil jeri payah suamiku."


Ruben tersenyum mendengar jawaban istrinya, bangkit dari posisinya menghampiri nakas dan mengambil piring lalu memberikannya pada Santi.


" Ini mangganya sudah mas bawa kesini tadi." ucap Ruben menyerahkan piring berisi mangga


" Terimakasih mas." ucap Santi dan mencium pipi Ruben sekilas dam kemudian melahap mangga yang masih setengah matang itu dan Ruben dengan setia menemani istrinya sampai Santi menghabisinya.


Bersambung....


Readersss tercinta 🤗😘😘


jangan lupa ya, novel owner mulai terbit tanggal 14 maret 2021 judulnya " Wanita Bergaun Pengantin" wajib mampir ya🙏🙏

__ADS_1



__ADS_2