Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua, Semua Baik Baik Saja


__ADS_3

Dengan cepat Ans melangkahkan kakinya menuju rumah Ibu mertuanya, dan tujuan kakinya saat ini adalah kamar yang mereka tempati saat ini dan dia bisa melihat jika istrinya sedang berbaring bersama dengan putrinya yang sedang menyusu, mereka begiti terlelap san itu membuat hati Ans sejuk sekaligus tercubit saat mengingat jika istrinya mungkin saat ini sedang terluka.


Dengan pelan Ans melangkah menuju ranjang dan naik perlahan lalu berbaring di belakang istrinya setelah seblumnya mencium pipi gembul putrinya terlebih dahulu, Ans melingkarkan tangangya di perut Helena, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya membuat sang pemiliki terganggu dan menggeliat.


Helena ingin berbalik dengan pelan tapi suara Ans menghentikan gerakannya, "biar begini dulu bunda" gumam Ans di balik ceruk lehe Helena membuat wanita itu merasa geli.


"Tapi aku merasa geli Ayah" ucap Helena sedikit menggeliat.


"Tahan dulu bun, ayah pengen seperti dulu" ucap Ans dan semakin mengeratkan pelukannya pada perut Helena.


Akhirnya Helena membiarkan Ans melakukan seamunya pada tubunya, "apa ayah sudah lama pulang?" tanya Helena.


"Belum, bahkan ayah baru saja melingkarkan lengat di bagian ini tapi bunda sudah bangun saja" jawab Ans dan mengelus perut Helena.


"Ohhhhh" Helena hanya ber oh ria saja.


"Bun..."


"Ada apa?"


"Apa bunda marah pada ayah?"


"Untuk apa?"


"Bunda marah karena ayah menyelamatkan mereka?" tanya Ans.


Helena langsung memutar tubuhnya denngan paksa saat mendengar perkataan suaminya, dia tidak mengerti kenapa Ans berkata seperti iti walau tidak bisa di pungkiri jika dia memang merasa sedikit cemburu dan terluka dengan semua yang dilakukan suaminya pada Lili.


"Tidak" jawab Helena memilih untuk berbohong.


"Lalu kenapa bunda pulang lebih dulu?"


"Karena ibu menelpon dan mengatakan putri kita rewel terus makanya aku langsung kembali tanpa memunggu ayah lagi, tapi supirnya tuan Ruben kok yang mengantarku" ucap Helena memberi alasana ibu dan putrinya.

__ADS_1


"Berarti bunda tidak mencintaiku" rajuk Ans.


Helena mengerutkan keningnya mendengar perkataan suaminya yang menurutnya tidak masuk akal, "Hei kenapa berkata seperti itu? bukti apa yang ayah miliki hingga berkata demikian?" tanya Helena.


"Karena bunda tidak cemburu apa lagi bertanya tentang mereka"


Wajah Helena meredup mendengar perkataan suaminya, harunya Ans sudah bisa tau tanpa bertanya lagi, harusnya dia jelaskan saja tanpa di minta agar meredakan rasa kecewanya.


"Jika kau mengeharapkan aku bertanya seperti itu, mungkin jawabanya adalah tidak akan pernah bunda bertanya seperti itu, bunda akan berpikir mungkin dia hanya orang yang kebetulan ayah kenal" jawab Helena.


"Tapi jika ayah mau mengatakannya saja tanpa menunggu bunda bertanya, maka bunda akan dengan senang hati mendengarkannya walau mungkin nanti akan ada kisar yang membuatku sakit tapi itu bukanlah perkara karena yang terpenting adalah kejujuran ayah pada wanita yang ada di hadapan ayah ini" lanjut Helena.


"Hei waniata siapa yang bunda maksud!" sentak Ans dengan suara bisikan, "bunda adalah istriku, jadi jangan berkata dengan sebutan seperti itu lagi ok" lanjut Ans dengan tangan yang mencapit hidung Helena dengan gemas.


"Baiklah"


Ans menarik nafasnya terlebih dahulu, dia ingin mengatakan semuanya pada Helena karena dia tidak mau jika istrinya salah paham dan berpikir jika dirinya masih menyimpan rasa pada Lili, dan dia tidak mau jika masalah itu terus berlarut yang akan membuat hubungan keduanya nanti akan merenggang.


"Bunda...." panggil Ans dengan lembut, matanya menatap mata Helena dengan lekat mencoba menyelami dan mencari tau adakah kekecewaan dalam mata istrinya dan ternyata benar saja Ans melihat adanya kekecawaan dari sorot mata Helena yang tertuju padanya.


"Dia Lili, dulu ayah menaruh hati padanya, dan dia pun sebaliknya tapi dua sudah di jodohkan oleh orang tuanya dan bahkan menyuruh pria yang menjadi suaminya kini agar segera mekahinya supaya ayahh tidak bisa lagi mendekatinya, hingga akhirnya pernikahan mereka berlangsung membuat ayah sangar terpukul dan malah membawa bunda masuk dalam permasalahan dan justru mengabaikan dirimu yang saat itu membutuhkan tanggung jawab ayah"


Ans menjeda ucapannya, menghembuskan nafasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali berkata "tapi bukan berati ayah tidak melupakannya, ayah sudah melupakannya bahkan jauh sebelum kita bertemu di Surabaya dan hingga kini perasaan ayah hanya untuk Helena Saker seorang ibu dari anak anak ayah" ucap Ans membuat Helena menitikan air matanya, karena merasa terharu dengan perkataan Ans.


Ans menghapus air mata istrinya kemudian ******* bibir itu dengan lembut dan hangat, "bunda percaya kan dengan apa yang ayah katakan?" tanya Ans setelah ciumanya lepas.


Helena menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan kemudian ciuman pun kembali tertaut dengan begitu lembut dan ritme yang sangat pelan, untuk menghayati kegiatan mereka.


Sedangkan di rumah sakit, Riko sudah tersadar setelah dua jam di pindahkan di ruang perawatan, semua orang sangat bersyukur karena setidaknya ada satu orang lagi yang bertambah dan keadaan yang baik baik saja tanpa takut akan koma atau kritis lagi.


"Diaman istriku" gumam Riko.


"Dia masih di rawat nak, belum sadarkan diri setelah selesai menjalani operasi" jawab mamanya.

__ADS_1


"Putri kami bagaimana? kandungannya baik baik saja kan ma? tidak terjadi apa apa kan pada mereka berdua?" tanya Riko dengan panik.


"Tenanglah, putri kalian baik baik saja, dan Istrinya belum sadar setelah selesai operasi tapi kamu tenang saja, kata dokter keadaan Lili baik bail saja" ucapnya.


"Aku ingin menemui istri dan anakku mah, tolong bantu aku" ucap Riko berusaha untuk bergerak bangkit dari brankar.


"Jangan nak, tunggulah badanmu pulih dulu, atau mama minta dokter saja untuk memindahkan Istrimu disini agar kalian biaa saling melihat keadaan" usul mama.


"Iya, lakukan mah, cepat!" desak Riko.


"Hei ada apa aku ribut terus?" tanya Ruben dengan datar saat memuki kamar rawat Riko.


"Ben, kau datang? tolong ben bantu aku menemui istriku" melas Riko.


"Jangan membuatku muak Riko, lebih baik kau istrhat sebentar lagi istrimu akan di pindahkan kemari" ucap Ruben.


"Benarkah!" tanya Riko dengan berbinar


"Ya, jangan banyak bergerak dan kau diam saja"


"Nak Ruben sudah meminta menantu tante pindah?" tanya mama Riko.


"Tentu karena aku sudah bisa menebak jika pria itu tidak akan bisa jauh dari istrinya" jawab Ruben datar.


"Terimakasih Ben, kau memang sahabat terbaikku" ucap Riko dengan senyum tulusnya.


"Tante, bisa tinggalkan kami dulu" pinta Ruben


Tanpa Membantah mama Riko pun pergi meninggalkan kedua pria dewasa itu tanpa banyak protes sedikitpun


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2