
Santi sampai di rumah yang tempati selama ini, wajahnya kembali sendu kala mengingat dia akan pergi meninggalkan rumah ini tiga hari kedepan saat sudah resmi bercerai.
Langkah kakinya terasa berat untuk melangkah masuk, dadanya kembali sesak dan air matanya sudah tak terbendung lagi, Tapi ia tetal menciba untuk melangkah menunu kamarnya.
Saat sampai ia langasung mengasi pakaiannya seperlu saja. Setelah seleasai ia keluar dari kamar mengelilingi rumah luas itu, saat kakinya samapi di ruang keluarga ia kembali mengingat kenangan dimana paertama kali jantungnya berdegup karna sentuhan Ruben.
Santi kembali berjalan menuju ruang maka hingga kakinya berada didepan menja makan dan lagi lagi ia teringat semua kenangan dirinya saat melayani suaminya, tidak ada yang bisa di perbuat santi lagi selain menangis.
Tak ingin berlama mengenang masa itu Ia memutuakan untuk pergi, menggeret koper tempat pakainya, namun langlahnya terhenti saat bi Asih menghentikannya
" ya Tuhan non..! non mau kemana membawa koper.?" tanya bi asih terkejut, air matanya jiga sydah tak bisa ditahan lagi sehingga ia menangis di depan majikannya itu.
" aku akan pergi bi." ucap santi berusaha tersenyum.
" pergi kemana non,? inikan rumah non juga, jadi untuk apa non pergi lagi."
" Tidak bi, ini bukan rumah ku, ini rahas Ruben." ucp santi tetap tersenyum meski semua orang jika mepihatnya akan tau kalau itu senyum kepahitan.
" Tapi non istrinya, jadi non juga berhak." geram bia Asih.
__ADS_1
" tidak. aku bukan istrinya lagi setelah tiga hari kedepan."ucap santi kembali menangis.
Bi Asih langsung berhambur memeluk majikannya yang sudah seperti anaknya sendiri, mereka menangis bersama sama, saling berbagi kesedihan dan berbagi sandaran
" Ya Tuhan,..! non yang sabar ya, non harus kuat, jagan menangis, tuhan pasti punya rencana untuk semua ini." hibur bi Asih.
"baiklah bia saya harus pergi." pamit santi langsung menggeret kopernya keluar dari rumah mewah itu, sedangkan Bi Asih hanya menatap punggung itu dengan tangisan.
" aku harua memberi tahukan nyonya. Ya aku harus menelponnya." batin bi Asih dan langsung menghubungi majikan besarnya.
" hallo bi, ada apa ? tannya Dila mama Rubeb dari sebrang sana.
"apa.! bagaimana bisa dia pergi bi.?" pekik Dila yang terkejut dengan pernyataan Pembantu itu.
" Kata non Santi mereka akan berpisah." jawab bisa asih.
Dia kembali terkejut bahkan ia terhuyung hampir terjatuh ke lantai jika suaminya tidak sigap menangkap tubuhnya.
"ada apa ma.? kenapa mama lemas begini.?" tanya papa Ruben tapi tidak ada jawaban daei sang istri, melihat itu papa Ruben mengambil ponsel tersebut dan.
__ADS_1
" hallo bi, ada apa sebenarnya.?" tanya tuan prasetya.
" tu...tuan dan non Santi akan bercerai Tuan." jawab bi Asih takut takut.
" apa.! bagaimana bisa itu terjadi.?!" tanya prsetya yang tka kalah kagetnya dengan sang istri tapi ia berusaha bersikap tenang.
Bi Asih pun mulai menceritakan semuanya mulai dari awal pernikahan hingga sekarang, bagaimana sikap Ruben terhadap Santi dan bagaimana Santi menyingkapi sikap
Ruben, bahkan ia pun menceritakan selama ini mereka tidur terpisah.
Sedangkan orang tua Rubwn yang mendengarkan hanya bisa menghela napas berkali kali dan mama Dila hanya menagisi memikirkan perilaku anaknya yang sudah keterlaluan.
" Kita kembali ke Indionesia malam ini." kata Prasetya dan menelpon seseorang.
" Siapkan Jet sekarang juga, kita akan kembali ke Idonesia." ucap Preasetya tanpa basa basi saat ponsel terhubung dan langsung mematikan sambungannya saat sudah selesai berkata.
" ayo ma, kita berangkat." ajak Presetya langsung pergi keluar dari rumahnya.
Mereka pergi menuju bandarA keluarga dan segera berangkat kembali ke Indonesia untuk bertanya langsung pada putra mereka dan mungkin saja akan memberi sedikit pelajaran nantiya.
__ADS_1
Bersambung.....