
"Apa maksudmu?" tanya Reyhan dengan wajah tidak senangnya karena Merasa dipermainkan oleh Leo
"Ckck... apa kau pikir seseorang akan mau menginvestasikan uangnya dengan cuma cuma pada perusahaan yang baru dirintis?" sindir Leo.
Wajah Reyhan memucat, tubuhnya menegang saat menyadari satu hal kenyataan yang memujul harga dirinya tapi masih berharap jika itu hanya sekedar terkaan saja.
"Jangan katakan jika investor yang mengirimku keluar negeri itu adalah Tuanmu?" selidik Reyhan.
"Tapi sayang sekali Tuan Reyhan, anda harus menelan kenyataan jika dia adalah Tuanku, dan kau tau apa tujuannya? karena dia ingin kau menjauh sampai hari pernikahannya tapi sayang sekali perhitunganku meleset karena kau tiba dihari pernikahan Tuanku tapi walau begitu anda tetap terlambat karena mereka sudah sah menikah" jelas Leo dengan wajah yang penuh kemenangan .
"Jadi kalian menipuku!" bentak Reyhan.
"Hahahaha... atas dasar apa Anda mengatakan hal itu Tuan Reyhan? penipuan mana yang anda maksud?" ejek Leo.
"Kalian menawarkan investasi agar aku menjauh dari Nara begitu kan?"
"Dan itu bukan penipuan dalam bisnis Tuan, tidak ada perjanjian yang melibatkan Nona Mudaku, dan harusnya kau bisa menerima kenyataan... jadi Ku tegaskan untuk kau menjauh atau perusahaan yang sedang kau perjuangkan bangkur seketika!" ancam Leo kemudian pergi meninggalkan Reyhan yang berada di tengah kebingungan.
***
Keesokan paginya semua sudah berada di restoran dalam hotel untuk memulai sarapan yang agak siangan karena semua kerabat yang semalam merayakan pesta itu bangun kesiangan.
Apalagi Rajehs dan Nara masih betah berada dalam hangatnya selimut tebal dengan posisi yang saling berpelukan, menyalurkan rasa hangat yang berasal dari tubuh masing masing.
Sementara di luar semua keluarga sudah selesai sarapan dan sebentar lagi mereka berniat meninggalkan hotel dan kembali kekediaman masing masing meninggalkan pengantin baru yang hingga siang menjelang belum ada tanda tanda mereka akan terbangun.
"Mereka belum bangun?" tanya Anan.
"Belum, biarkan saja... mungkin keduanya kelelahan, biarkan mereka istrahat saja dan kita kembali lebih dulu" jelas Heru yang disetujui semua orang.
Jam sudah menunjukan pukul sebelas siang hari dan bertepatan dengan itu pasangan yang dimabuk cinta itu terbangun, lebih tepatnya Rajeshlah yang terbangun menatap wajah lelap Sanga istrinya yang masih nyaman tertidur dipelukannya.
"Cantik sekali istriku.... aku sungguh beruntung memilikinya" batin Rajesh dan terus menatap sang istri bahkan saat ini tangannya sudah bergerak mengelus pipi Nara dan menghadiahi ciuman bertubi tubi kala mengingat percintaan mereka tadi malam, gerakan itu akhirnya membuat Nara menggeliat karena merasa terganggu.
"Mas...." sapa Nara dengan suara seraknya.
"Kau sudah bangun sayang?" tanya Rajehs tanpa merasa bersalah jika dirinyalah yang menyebabkan tidur Nara terganggu.
"Tentu saja aku bangun, bagaimana tidak Mas menggangguku" gerutu Nara.
"Hehehe maaf sayang, itu karena Mas sangst mencintaimu" kata Rajesh sungguh sungguh.
__ADS_1
Nara yang mendengar penuturan suaminya tersipu malu apalagi setelah mengingat kejadia yang sangat menguras tenaga tadi malam membuat Rona wajah gadis itu tercetak jelas dan itu tetnu saja diketahui Rajehs.
"Kenapa wajahmu merona sayang? apa kau mengingat hal semalam?" goda Rajesh membuat Nara semakin tersipu.
"Mas... jangan ingatkan itu, sangat memalukan" rengek Nara dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rajesh membuat pria tampan yang sudah sah menjadi lelaki dewasa itu terkekeh lucu melihat sikap istrinya.
"Tidak usah malu sama suami sendiri" ucap Rajehs.
"Ini pertama kalinya Mas, bagaimana aku tidak malu" ketus Nara.
"Dan ini juga pertama kalinya untukku tapi Mas tidak malu" sanggah Rajesh.
"Iya tapi Mas sudah sangat mesum!" cibir Nara.
"Mesum sama istri sendiri bukan dosa apalagi kesalahan sayang, justru itu pertanda Mad sangat mencintaimu" ucap Rajesh.
Tangannya melonggarkan pelukan Nara agar mereka bisa bersitatap, "Mas sungguh mencintaimu" ucap Rajesh tulus.
"Aku juga mencintaimu Mas" jawab Nara dengan senyum manisnya.
Rajesh yang mendengar perkataan Nara yang tiba-tiba, menjadi terkejut, sejenak tubuhnya tidak bereaksi sangkin kagetnya karena tidak menyangka kata yang selama ini dinantikan keluar dari bibi Nara kini diucapkan gadis itu tanpa diminta dan hal ini benar benar membuat Rajesh sangst bahagia.
"Sungguh sayang? kau mengatakan mencintaiku?" tanya Rajesh masih tak percaya.
"Tentu saja, ini sedikit mengejutkan bagiku bagai mimpi yang tidak pernah ku sangka akan terjadi" jujur Rajes.
"Tepi ini kenyataan, apa yang aku katakan sungguh kenyataan dan bukan mimpi" jawab Nara menyakinkan suaminya.
" Ohhh terimakasih sayang" seru Rajehs dan langsung mengecup lembut bibir Nara.
Kecupan yang awalnya karena bahagia kini berakhir dengan ciuman yang semakin menuntut dan mengggairahkan hingga akhirnya kedua pasangan itu kembali bergelut diatas ranjang bermanidakn peluh yang berasal dari hawa panas dalam tubuh keduanya.
"Mas...lepaskan tangannya aku mau mandi dulu" kata Nara setelah percintaan usai.
Rasa lapar dirasakan Nara setelah tenaganya terkuras habis karena keperkasaan suaminya yang tidak pernah ada puasnya dalam hal yang satu ini.
"Mandi bareng sayang?" tawar Rajesh.
Nara melototkan matanya mendengar tawaran Rajesh, "apa dia belum puas? sehingga masih ingin mandi bersama?" batin Nara.
"Tidak... aku mandi sendiri saja" jawab Nara cepat membuat Rajesh terbahak.
__ADS_1
Rajehs tau jika saat ini istrinya sedang menghindari adanya adegan panas didalam kamar mandi yang padahalnya Rajehs dan memang hanya menawarkan mandi bersama tapi karena tingkah istrinya membuat pria tampan itu jadinya ingin mencoba hal itu di kamar mandi entah bagaimana rasanya jika disana.
Tapi sepertinya untuk sekarang Rajesh belum bisa melakukannya sekarang mengingat keadaan istrinya yang sudah lemas ditambah dengan perut mereka yang sudah keroncongan tapi sudah pasti cepat atau lambat pria tampan itu akan melakukannya disana.
"auhhh.." Nara mendesisi kesakitan diarea intimnya saat kakinya hendak berjalan membuat Rajehs langsung bergerak cepat membantu sang istri untuk ke kamar mandi.
"Mass...tidak usah digendong begini..." ronta Nara.
"Jangan meronta sayang jika tidak ingin jatuh, dan lagi kamu tidak akan bisa berjalan kalau masih sangat sakit" ujar Rajesh membuat Nara akhirnya menurut dan melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
Rajesh menurunkan Nara didalam bathup kemudian menyusul masuk setelah bokxer miliknya ditanggalkan.
"Mas...kenapa ikut masuk?" tanya Nara ingin protes.
"Jangan protes, aku suamimu jika melupaknnya" kata Rajesh penuh penekanan membuat Nara tak berkutik lagi.
"Terserah mas saja" kesal Nara.
"Biar Mas sabuni" ucap Rajehs dan langsung bergerak menyambung punggung Nara.
Awalnya Nara menikmati sentuhan yang dikiranya benar benar hanya akan menyabuni tapi tak malam wanita cantik itu memekik kaget kala tangan Rajesh malah meremas kedua gundukannya.
"Mas... jangan nakal!" pekik Nara membuat Rajesh terkekeh.
"Mas tidak nakal, hanya sekedar menyentuh milik Mas ini" ujar Rajesh santai.
"Ckck... entah sejak kapan ini jadi milikmu Mas!" ketus Nara.
"Sejak semalam, sejak kita malam pertama" jawab Rajesh membuat Nara kembali merona malu.
"Jangan diingat lagi Mas..." rengek Nara.
"Tidak.. itu tidak akan pernah Mas lupakan, walau malam malam berikutnya akan seperti itu atau bahkan mungkin lebih panas tapi kenangan pertama kali akan tetap lebih terasa berbeda sensasinya" ungkap Rajesh jujur karena memang itulah kenyataan yang ada dihatinya saat ini.
Nara diam, tidak lah memberi pendapat karena memang benar apa yang dikatakan suaminya, hal pertama akan memiliki kesan sendiri dan sudah pasti tidak akan bisa untuk dilupakan walau sudah ditimbun oleh ribuan kegiatan yang sama berikutnya.
Beberapa saat kemudian keduanya sudah selesia membersihkan diri, tidak ada adegan panas yang terjadi hanya incip incip dan senggol serta sentuh sentuh sedikit dari Rajesh.
Rajesh membantu istrinya mengeringkan rambut yang basah dengan hairdriyer sementara Nara menikmati setiap perlakuan suaminya yang menurutnya sangat manis.
.
__ADS_1
.
Bersambung....