Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Lili VS Janeth


__ADS_3

Selepas kepergian Riko, keheningan mendadak muncul, hawa dingin AC dalam ruangan terasa sangat mencekam kulit tubih bagi yang ada di dalamnya.


Kedua wanita itu saling melempar tatapan tajam, seolah menyampaikan perang lewat bahasa tubuh "kembali ke Negaramu" ucap Lili pada akhrinya.


"Ck, siapa kau harus aku ikuti" Janeth bedecak mendengar perkataan Lili yang segampangya menyuruh dirinya pergi.


"Aku? aku seorang istri dari seorang suami yang ingin mempertahankan rumah tangganya" ucap Lili dengan wajah datarnya.


"Bagaimana jika aku tidak mau!" tantang Janeth.


"Maka jangan salah kan aku jika harus berbuat nekat Janeth! saya bukanlah kebayakan istri di luar sana yang hanya akan menangis jika pelakor rendahan menjadi duri dalam rumah tangganya! aku adalah seorang istri yang tidak akan pernah melepaskan suamiku begitu saja untuk pelakor sepertimu!" ucap Lili dengan penuh penekanan.


Janeth sangat marah pada Lili mendengar dirinya dikatakan wanita rendahan, ingin sekali Janeth menjambak dan menampar wajah wanita itu tapi kesadaranyaa masih penuh, dia tidak ingin membuat namanya tercemar di hadapan Riko.


Dengan senyum yang di paksakan Janeth menjawab perktaaan Lili "aku tidak akan takut dengan ancaman seorang istri yang menyebabkan hubungan kekasih berakhir! kekasih itu akan membuktikan padamu jika dia tetap yang pantas untuk Riko!" ucap Janeth penuh percaya diri.


"Baiklah silahkan! mungkin kamu ada urusan lagi nona, tapi kalau boleh kita makan siang dulu ya" ucap Lili dengan senyum manisya dan suara di buat sebesar mungkin agar bisa di dengar oleh Riko.


Seceapt mungkin Lili mengubah ekspresi dan nada bicaranya, saat mnedapati Riko bejalan mendekat, sementara Janeth merasa bingung dengan perktaan Lili yang mendadak berubah.


Riko sendiri yang tadinya takut dak khawatir jika Janeth dan Lili akan bertengkar jika dua pergi menjadi lega melihat sikap dan senyum Lili yang begitu tulus pada Janeth, dia jadi merasa mungkin Lili memang sudah tidak masalah lagi walau sudah Riko ceritakan siapa dia sejak pertama bertemu.


"Sayang" seru Riko.


"Oh kau sudah datang sayang, tadinya aku berpikir jika kau masih lama karena nona Janeth ingin pergi" ucap Lili.


"Tidak jadi! aku akan tetap disini dan makan siang bersama" ucap Janeth dengan cepat.


"Baiklah, asal kau tidak menyesalinya nona" ucap Lili dengan seringai liciknya.


"Sayang kenap berkata begitu?" tanya Riko.


"Iya, aku bilang asal dia tidak menyesal meninggalkan urusannya hanya untuk makan siang bersama kita" ucap Lili dengan polosnya.

__ADS_1


"Kau tidak masalah meninggalkan urusanmu?" tanya Riko tanpa melihat ke arah lawan.


Janeth mendadak perih melihat sikap Riko yang begitu cuek tapi begitu perhatian pada istrinya, di tambah lagi Riko sama sekali tidak melirik ke arahnya walau bibirnya bertanya pada Janeth.


"Tidak masalah, akan makan siang bersama! lagi pula ku rasa ini permintaan ibu hamil yang ingin makan bersamaku jadi tidak masalah" jawab Janeth dengan senyum manisnya wakau tidak di lihat oleh Riko.


Sementara Lili tersenyum puas melihat sikap Riko, tapi ada kesdiahan juga saat melihat mata gadis masa lalu suaminya yang di penuhi dengan kabut luka.


"Maaf, bukan ingin menyakitimu, aku juga tidak mau jika ada orang ke tiga dalam rumah tanggaku" batin Lili.


Ahirnya ketiganya makan, dan sepanjang makan Janeth harus menelan pil pahit bercampur dengan setiap suapan makanan yang masuk kedalam mulutnya, begitu pahit tapi harus tetap menelannya.


Bagaimana tidak di katakan seperti itu, jika pasangan itu sepanjang waktu terus saja bermesraan, saling suap satu sama lain tanpa peduli dan tidak mau peduli dengan sekitarnya.


"Aku sudah kenyang" ucap Janeth.


Dia menaruh sendoknya sedikit kasar sehingga dentingannya terdengar nyaring dan itu sukses membuat membuat pasangan itu tersadar dari dunia mereka.


"Kau cepat sekali nona Janeth, oh aku juga sudah selesai" ucap Lili merapikan kembali rantang yang berserakan dengan bantuan Riko.


"Hei kok cepat sekali sayang? sebentar lagi" cegah Riko.


"Kau mau pergi?" tanya Janeth memastikan peluang yang bisa dia gunakan untuk berbicara lagi pada Riko.


"Iya benar, apa kau tidak mau pulang bersamaku" tanya Lili.


"Sayang...Kau akan di antar oleh supir dan kau tunggulah sebentar lagi hingga aku masuk dan mulai rapat" ucap Riko mencegah Lili bersama Janeth sekaligus agar tidak meninggalkan dirinya berdua dengan wanita itu.


"Tapi aku ingin istrahat sayang" ucap Lili menacari alasan.


"Biarkan saja istrimu pergi Ko, mungkin dia memang butuh istrhat" timpal Janeth yang mendukung tingkah Lili.


"Tapi aku juga butuh istriku" jawab Riko dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Biarkan meeting dulu baru sayang boleh pulang ya" bujuk Riko.


"Tidak mau! lebih baik masuk saja sekarang, atau majukan saja waktu rapatnya" jawab Lili.


"Ya, benar juga, Nanda...Nanda!" teriak Riko memanggil sekretarisnya.


"Ya, tuan" jawab Nanda.


"Majukan waktu rapatnya, istriku butuh istratah!" titah Riko.


"Baik tuan"


Rapat sudah dimulai dan Riko sudah bersiap masuk tapi sebelum utu harus melakukan kegiatan cium mencium dulu dengan istrinya, setelah selesai dengan semua itu Riko pun masuk dan Lili segera pergi mendahului Janeth yang masih berdiri disana.


"Kenapa dia lama sekali? apa mereka bertemu" gumam Lili yang sudah merasa resah, sudah lima belas menit Lili menunggu tapi tidak ada tanda tanda Janenth muncul.


"Nanda kenapa wanita itu belum turun juga" tanya Lili saat panggilannya di respon oleh Nanda.


"Dia masih menunggu nona, dia pikir rapat tuan tidak lama" jawab Nanda.


"Lalu suamiku berada dalam ruang rapat?"


"Benar nona, tuan Riko dan tuan Halim berada dalam ruang rapat" jawab Nanda " oh nona dia sudah berjalan turun, mungkin dia sudah lelah" lanjut Nanda dengan heboh saat mengetahui Janeth berjalan keluar.


"Baiklah"


Janeth sudah sampai dan berniat membuka mobilnya, tapi di cekal oleh tangan seseorang dan dia adalah Lili.


"Kau! bukankah kau sudah lama kembali" kejut Janeth.


"Kenapa? kau pikir aku akan membiarkan suamiku bersama dengan duri yang siap melukai kapanmu" ucap Lili dengan nada dinginnya.


Janeth menyilangkan kedua tangannya didepan dada, dan mengangkat dagunya dengan angkuh di depan Lili "aku bukan duri! aku kekasih yang mempertahankan apa yang menjadi miliknya" ucap Janeth dengan tegas.

__ADS_1


Tidak mau kalah, Lili juga menantang Janeth "Baiklah! asal kau tidak menyesalinya nanti, ku rasa kau sudah tau sebenarnya siapa yang ada di hati suamiku dan ku sarankan untuk tidak bertindak semakin jauh, atau aku akan membuat orang yang kau perjuangkan itu sendiri yang menyuruhmu enyah dari kehidupannya!" ucap Lili dengan tegas.


Bersambung...


__ADS_2