
Pagi pagi sekali Ans terbangun karena bunyi ponsel yang berdering, seseorang sedang menghubunginya.
" Hallo tuan." jawab Ans
Ternyata yang menelpon dirinya pagi pagi buta adalah Ruben Prasetya, bos Ans semasa berada di ibu kota, dan bahkan hingga kini Ruben masih menjadi pipinannya.
" Ans! kau wakilkan aku ke luar kota, anakku sangat rewel tidak bisa di tinggalkan."
Ans terdiam tidak menjawab permintaan Ruben, matanya beralih menatap Helena yang masih tertidur pulas.
" Ans! Hallo Ans kau mendengarku tidak.!" sentak Ruben dari sebrang sana."
" Saya mendengarnya tuan, tapi saya tidak bisa ke sana."
" Kenapa? ada apa? apa yang membuatmu tidak bisa ke sana!" Ruben memberi Ans rentetan pertanyaan atas penolakank yang dilakukan.
" Aku tudak bisa tuan" Jawab Ans yang tidak mau memberi alasan.
" Katakan kenapa tidak bisa! kau jangan lupa lau masih bawahanku."
"Tapi aku harus menj-" Ans tidak lagi melanjutkna perkataannya saat teringat jika Ans tidak menhetahui perihal pernikahannya.
" Karena harus apa Ans." desak Ruben.
" Tidak. Tidak ada, baiklah aku akan ke sana." jawab Ans pada akhirnya.
" Baiklah dan segera beri tau aku hasilnya."
" Baiklah" jawab Ans yang langsung memeutus penggilannya sepihak.
Kembali merebahkan dirinya dan menggunakan lenganya sebagai bantal kepalanya, dan memandang Helena yang masih saja tertidur tanpa terusik dengan suaranya yang sedang telponan.
Perlahan tanganya terulur menyampir anak rambut Helena yang berserakan menutupi sebagian wajahnya.
Tanganya berpindah mengelus pipi Helena dan bergumam "Entah perasaan apa yang aku miliki sehingga bisa merasa damai hanya karena melihatmu di saat kegundahan melanda hatiku."
Ya, Ans tidak bisa berbohong jika ada kelegaan dalam hatinya menggantikan kegundahan yang sempat mengganggu pikirannya hanya karena memandang wajah polos istrinya dan lagi itu di saat Helan sedang tertidur seperti ini.
Ans bergegas turun dari ranjang, setelah mendapati pesan dari Ruben tentang berapa lama dia di luar kota, dan pesan Ruben ternyata Ans harus disana selama dua hari yang artinya dia akan meninggalkan Helena selama itu juga.
Sebenarnya berat bagi Ans, tapi ini sudah mutlak perintah pimpinanya, jadi mau tidak mau suka tidak suka maka Ans harus nenjalankannya.
Ans sibuk memasukan beberapa pakaian untuk di kenakan disana, dan setelah itu bergegas pergi menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuknya dan Helena.
Masih bergelud di dapur saat Helena bangun dari tidurnya, menyandarkan punggungnya sebentar dan mengedarkan pandangnya hingga matanya menangkap koper kecil di sudut ruangan dekat lemari milik Ans.
" Apa dia mau pergi." gumam Helena.
Menyadari hal itu Helena langsung bergegas turun mencari keberadaan Ans, mencari di kamar mandi tapi tidak ada karena tidak terdengar gemircik air dari dalam.
__ADS_1
Helena berbalik dan sasarannya adalah dapur, karena dia yakin jika Ans pasti ada disana, dan benar saja duagaanya, dia melihat Ans yang sedang berkutat dengan wajan dan tangannya yang terus bergerak membolak balikan isi dalam wajan.
Helena mendekat dan berdiri tidak jauh dari tempat Ans, dan pria yang ada di hadapanya ini hanya menatap sekilas dengan senyum yang terbit di kedua sudut bibirnya.
" Kau sudah bangun?" tanya Ans, tapi fokusnya pada nasi goreng seafood yang ada di wajan.
Helena mengangguk tanpa membuka mulutnya untuk bersuara, karena dia masih terpikirkan tentang Ans yang mau pergi.
" Apa kau akan pergi?" tanya Helena dengan suara lirihnya.
Ans mengehentikan kegiatanya dan mematikan kompor gas, kemudian menyerong menghadap Helena dengan pinngang yang bersandar di pinggir meja tempat Kompor.
Ans menganggunk mengiyakan pertanyaan Helena " Iya, aku akan ke luar kota selama dua hari" jawab Ans.
"Dua hari." beo Helena berupa bisikan, tapi walau begitu Ans masih bisa mendengarkannya.
"Iya dua hari untuk menggantikan posisi Tuan Ruben pimpina perusahaan pusat yang tidak bisa pergi karena istrinya yang baru saja melahirkan" jawab Ans menjelaskan kenapa dia harus pergi.
Helena terdiam, lidahnya terasa keluh untuk menubung perkataan Ans, karena saat ini perasaanya mendadak sedih, ada rasa yidak rela jika harus berjauhan dengan priA yang sudah menjadi suaminya selama dua hari kedepan.
Ans yang menangkap raut sedih Helena segera mendekat dan mencapit pipi Helena dengan kedua telapak tangannya.
" Apa kau sedih karena aku akan pergi?" tanya Ans menatap lamat lamat manik milik Helena yang juga menatap dirinya.
Tidak ada jawaban dari Helena, dia bingung mau kasih jawaban apa atas pertanyaan itu, jika boleh jujur dia sedih dan ingin mneahan Ans tapi siapalah dia? dia hanya istri untuk Ans sampai dia melahirkan saja.
"Apa sangat penting sekali?" tanya Helena
"Pasti sangat penting karena Tuan Ruben sendiri yang menyuruhku, itu artinya ini bukan masalah sepele saja."
" Tapi aku akan sendirian disini"
" Aku akan menelpon bunda, atau kau mau tinggal dengan bunda untuk dua hari ini dulu nanti aku jemput setelah kembali."
" Tidak, aku disini saja."
" Kau yakin?"
" Hmm tapi biar bunda kemari ya temani aku" pinta Helena.
" Iya, sehabis ini aku akan menguhubungi bunda."
Helena menganggul dan kemudian berjalan menuju meja makan untuk menikmati sarapan pagi yang dia buatkan Ans untuknya sentara Ans membuatkan Helena susu.
Mereka sarapan bersama dan setelah itu Ans masuk ke kamar untuk bersiap siap di ikuti Helena yang ingin menyiapkan pakain yang akan di kenakan Ans dalam perjalanan.
Selesai dengan acara mandi Ans langsung menggunkan pakaiannya di hadapan Helena yang membuat gadis itu langsung membalikkan tububnya membelakangi Ans, dia sangat terkejut melihay kelakuan Ans yang tidak tau malu.
" Kenapa kau mengenakan pakaianmu di sini?" rutuk Helena.
__ADS_1
Ans hanya tersenyum melihat Helena dan perkataan Helena yang seperti itu, apa wanita itu lupa jika mereka sekarang sudah suami istri.
Ingin sekali Ans menggoda Istrinya tapi dia tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan itu, karena waktunya sangat mendesak dan dia harus memburu itu.
Ans segera menggunakan pakaianya dan berkata " tolong pasangakn dasiku agar cepat" pinta Ans yang sibuk mengancingkan kacing kemejanya.
" Baiklah" jawab Helena dan langsung melakukannya.
Ans menghubungi ibunya terlebih dahulu sebelum dia benar benar berangkat pergi, karena jujur dia juga khawatir meninggalkan Helena sendirian, walau pembantu rumah tangga ada tapi dia tetap tidak tenang.
" Kebapa belum berangkat?"
" Aku harus menunggu bunda dulu datang kemari." jawab Ans yang sibuk melihat arlojinya.
"Pergi saja, tidak usah menunggu bunda nanti kau telat"
" Tapi aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendiri."
" Hanya sebentar kan? nanti kalau bunda datang pasti aku tidak akan sendiri dan kamu pergilah, jangan sampai pekerjaanmu berantakan hanya karena aku" ucap Helena dengan seulas senyum ia berikan pada Ans.
" Tapi"
" Tidak apa apa, pasti sebentar lagi mama datang."
" Baiklah aku pergi." kata Ans dan sebelum pergi mengelus pipi Helena dengan lembut.
" Hati hati" ucap Helena.
Ans pergi meninggakan Helena yang masih terpaku memandangnya memasuki mobil hingga mobil itu menghilang dari pandangnya.
Helena ingin berbalik tapi sebuah mobil putih memasuki halaman rumahnya, Helena berpikir itu adalah mertuanya dan senyum mengembang untuk menyambut mertuanya.
Tapi seketikan Helena mengerutkan keningnya saat mengetahui siapa gerangan penumpang dari mobil itu, seorang wanita cantik dan modis datang berjalan dan mendekat ke arahnya.
" Apa ini kediaman Ans" tanya Wanita itu dengan angkuh.
" Ya, tapi dia baru saja pergi" jawab Helena walau masih merasa bingung.
"Ck berarti aku harus ke kantornya?" ucapnya dan ingin berbalik untuk meninggalkan Helena.
"Ans tidak ke kantor, tapi dia ke luar kota" kata Helena yang membuat wanita itu berhenti.
" Keluar kota? bagaimana bisa dia pergi disaat aku ingin menemuinya." rutuknya.
"Kenapa?" tanya Helena semakin bingung " kau siapa ?" lanjut Helena.
" Aku? aku Via kekasihnya."
Bersambung...
__ADS_1