Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Masih di situasi yang Sama


__ADS_3

Santi keluar dari ruangan Sang suami dengan muka lesu dan mata sembab. Dengan langkah gontai dan suara yang terdengar sangat kecil ia mempersilahkan kedua mertuanya masuk menemui Ruben.


" silahkan masuk pah, mah." ucap Santi dengan menatap kedua mertuanya. Matanya kembali lagi berkaca kaca siap untuk mengeluarkan lava air dari bola matanya yang indah dan meneduhkan itu menurut sang suami saat dulu pernah saling pandang tentunya.


" Kamu tidak apa apa nak.?" tanya mama sekedar basa basi. karna jelas saja ia tau kalau menantunya ini tidak baik baik saja sama seperti dirinya yang mencaskan putranya.


" Tidak ma. Aku tidak baik baik saja." tangis Santi akhirnya pecah saat mengungkapkan apa yang tengah ia rasakan saat ini.


" Aku sangat tidak baik ma, aku terluka saat ini. aku merasa jiwaku kut pergi dan tidak tau kapan akan kembali melihat mas Ruben dengam keadaan seperti itu..hikss." lanjut Santi menumpakan rasa sakitnya lewat tangis.


" Stttttt.. sudah. Jangan menangis, semua pasti akan baik baik saja. Suamimu akan baik baik saja. Kita sama sama berdoa agar Ruben cepat sadar ya." ucap mama Dila sedikit bergetar saat dadanya kembali sesak. Bagaimana bisa dia meyakini hati menantunya sementara dieinya saja pun tidak yakin akan hal itu.


" Maafakn Santi ma." ucap Santi.


" Kenapa sayang.?" tanya mama bingung.


" Ini semua karna aku mah. Seandainya aku tidak pergi dari rumah dan seandainya aku menuruti kenginan mas Ruben untuk pulang pasti ini tidak akan terjadi kan ma." jelas Santi.


" Ini bukan kesalahanmu nak, ini murni karna jalannya Tuhan untuk kalian. Dan mama juga paham apa yang kamu rasakan. Tapi mama mohon ya nantk setelah anak mama sembuh kamu mau ya kembali padanya." kata mama Dila.


" makasih nak." ucapnya tulus dan memeluk membelai lembut rambut menantunya.


" Sudah nangis nagisnya.? sekarang kita harus masuk dulu mah, kita lihat kondisi suami menantu kita ini." tutur papa dengan kekehan.


Ya, mereka berusaha untuk tetap optimis terhadap kesehatan Ruben. Mereka harus tetap yakin kalau Ruben akan sagar segera.


" Yusudah kami masuk dulu. Dan jangan menagis lagi." ucap papa mengusap pelan pucuk kepala Santi lalu berbalik menuju ruangan Ruben.


Sedangkan dirinya duduk di bangku panjang yang ada di ruangam ICU. Ya, sebelum Santi menjenguk suaminha terlebih dahulu di pindahakn di ruang VIP agar paaien nyaman itu kata dokter dan papa mertuanya.

__ADS_1


Sembari menunggu suaminya ponsel milikmya berdering memecahkan keheningan dan lamunan Santi.


" Hallo paman." jawab Santi setelah mengetahui Id pemanggil.


"Hallo nak. Kamu dimana.? apa yang terjadi.? kau baik baik saja kan.? cerca paman dengan bertanyaan.


Ans yang mendengar nona mudanya bicara dengan paman seketika teringat dengan mobil yang ia ambil begitu saja tadi.


" nona tolong bilang pada paman kalau mobilnya sedang saya pinjam dan mungkin nanti sore saya pulangkan kalaj keadaan taun sudah membaik. Tutur Ans menyeliap dalam pembicaraan itu dan Santie mengangguk mengerti.


" Saya baik baik saja paman. Tapi mas Ruben kecelakaan jadi aku harus menjaganya." ucap santi kembali menangis.


" Apa.! tuan Ruben kecelakaan." pekik paman dari sebrang sana karna syok mendengar kabar buruk itu. " lalau bagaimana keadaannya nak.?" tanya paman lagi yang kali ini kembali normal nada suaranya.


" Dia sudah melewati masa kritsnya paman, tapi masih belum sadarkan diri. Oh ya paman, mobil paman masih ada bersama asisten suami saya nanti sore dia akan mengantarkanya pulang." kata Santi.


" syukurlah setidaknya ada sedikit kabar melegakan.Yasudah nanti kami akan kesana menemani kamu ya." kata paman menawarkan diri.


" mertuamu ada disana.?" tanya paman memastikan lagi.


" Iya. Mereka datang sejak satu jam yang lalu."


" Yasudah kalau seperti itu nak."


" iy baiklah paman. Oh ya, mungkin aku tidak akan pulang kerumah karna aku mau mwnjaga suamiku." tutur Santi Kmutian mematikan sambungan telponnya.


Tak lama kedua mertuanya keluar dengan wajah yang jelas sekali terpancar kesedihan.


" kamu pergilah San, istrahat ini sudah sangat sore." ucap Papa yang ingin anaknya istrahat tapi malah disalah artikan oleh Santi.

__ADS_1


" Papa mengusir aku.?" tanya Santi yang sudah mulai berkaca kaca yang menganggap mungjin ia di usir oleh mertuanya.


" Tidak. Bukan seperri itu. Papan bukan mengusirmu tapi papa hanya ingin kau istrahat saja agar kau tisak sakit.


" Tidak pa, aku tidak mau pulang. Aku mau disini saja menunggu mas Ruben. Lebih baik papa dan mama saja yang istrahat kaoian pastri capek karna perjalanan jauh." ujar Santi


" Kami tidak capek sayang. Mama ingin disini saja." jawab sang mama.


" Tapi mama kelihatan lelah sekali. Lebih baik mama istrahat saja."


" Tapi mama tidak mau meninggalkan putra mama disini." kekeuh mama.


" Mas Ruben juga suamiku ma, jadi aku pun tidak bisa meninggalkan dia. Apa lagi ini semua karna aku jadi aku akan menjagai mas Ruben.


" Yasudah kalau begitu kita sama sama disini saja menjaga Ruben." usul papa Prasetya yang tah kalau kedua wanita didepannya ini tidak akan ada yang mengalah sama sekali


" nah seperti itu saja pa." jawab mama sumringah.


" Kalau begitu saya akan menyuruh Rumah Sakit untuk menyediakan kamar untuk kalian tempati Tuan." kata Ans yang kali ini ikut bicara karna ia tau apa yang harus di lakukan jika sudah seperti ini.


" Ya baiklah." jawab Papa.


" Ans." panggil santi. " Bisa tolong aku mengambil pakainku dirumah paman." pinta Santi.


" Baiklah nona akan saya ambilkan." jawab Ans kemudian melenggang Pergi.


Sedangkan ketiga orang yang berdiri didepan ruagan Ruben masih mematung dan terdiam dengan pikiran masing masing.


Bersambung....

__ADS_1


ayo..


Bantu author untuk vote,rate,like koment dan juga kasih hadiah di karya author ya...


__ADS_2