
Sementara kedua pria yang menjadi bawahan dan atasan itu tidak ada yang berbicara sedikitpun, Ans fokus pada jalanan yang ditempuh yang ada di depannya sementara Ruben masih bungkam menimbang apakah akan meminta maaf atau tidak mengingat gengsinya yang terlalu tinggi sebagai seorang.
"Hei, bagaimana dengan kinerja karyawan!" tanya Ruben memecahkan keheningan sekaligus memulai pembicaraanya tapi masih dengan nada angkuhnya.
"Anda bisa meninjau langsung tuan jika anda sudah sampai" jawab Ans dengan singkat.
Ruben kembali berdecak sebal mendapati respon bawahanya yang tidak kalah dinginya dengan dirinya, bahkan jika bisa di bilang Ans jauh lebih tegas dan dingin dari padanya karena duli saar masih Ans bekerja denganya maka semua akan di kendalikan oleh Ans dan Ruben hanya terima bersih saja.
"Kau masih marah padaku?" tanya Ruben oada akhirnya.
Ans tidak menjawab pertanyaan Ruben, atau leih jelasnya lagi Ans berpura pura tidak mendengar pertanyaan Ruben, dia seolah menulikan telinganya untuk mengabaikan pertanyaan itu.
"Hei maafkan aku, akut tidak bermaksud begitu, aku bukan tidak menyukai putrimu hanya saja aku terlanjur kesal karena istriku akan lupa waktu jika sudah keasyikan" ucap Ruben pada akhirnya membuang rasa gengsinya.
Ans masih saja diam, sikapnya masih di pertahankan seolah tidak dengar dan hal itu membuat Ruben sangat kesal, dia tidak suka di abaikan oleh bawahannya sendiri, dan dia tidak terima itu.
"Hei kau dengar aku tidak!" sentak Ruben.
"Aku dengar tuan, dan saya tidak tau harus bagaimana, atau tuan tau saya harus bagaimana?" tanya Ans membuat Ruben semakin naik tensi mendengar perkataan Ans.
"Kau benar benar keterlaluan ya! aku aku akan memberimu pelajaran nanti!" ancam Ruben.
"Silahkan jika tuan mau!" jawab Ans santai
"Memang hanya kamu yang selalu melawanku di anatara semua bawahanku" decak Ruben tapi tidak di gubris oleh Ans.
"Karena mereka semua bodoh mau saja takut ada tuan!" ejek Ans dengan senyum sisinya.
"Ans...!" terika Ruben.
Citttt
"Kita sudah sampai tuan muda" sela Ans kerena malas mendengar teriakan tuan mudanya.
__ADS_1
Ruben keluar dengan wajah masamnya, dan Ans hanya memasang wajah datarnya, mereka berjalan beriringa karena kini Ans bukan asistenya lagi melainkan direktur perusahaan cabang milik Ruben, dan selanjang perjalan ada banyak yang bertanya tanya siapa gerangan yang bersa dengan direktur mereka, dan tak jarang juga para gadi terpesona dengan siluet Ruben.
Kasak kusut terjadi, dan kehebohan tidak bisa lagi di hindari mulai dari kedua pria tampan itu melangkahkan kaki menuji kantor yang tidak kalah luasnya dari kantor pusat milik Ruben.
"Waah siapa tuh, yang bermana dengan tuan direktur kita? ganteng banget sihh".
"Astgaaa aku pikir hanya di negeri dongeng saja ada pangeran tampan tapi di dunia nyataku pun ada"
"Udah nikah gk sih? kalau gk aku mau dong di lamar"
"Ck, iya sudah nika kayaknya, lihat saja jari manisnya ada cincin kawin"
"Tapi tidak apa jadi istri kedua"
Beberapa percakapan yang terlontar saat mata para gadis melihat pemandangan indah yang jarang terliha, seperti fenomena alam yang terjadi dalam sekali ke sekian tahun, itulah arti tatapan mereka pada Ruben dan Ans.
"Ck, meski memilimi dua anak, tapi pesonaku tidak pernah luntur, bahkan semakin bersinar saja" ucap Ruben dengan percaya dirinya.
Ans hanya tersenyum singkat melihat Ruben yang penuh dengan kepercayaan dirinya, dan itu tidak heran lagi dan tidak bisa di pungkiri jika memang benar pesona tuannya tidak bisa di ragukan lagi, tapi bukan berati dia tidak memliki pesona, Ans tidak kalah keren dari Ruben.
"Miko, ini tuan Ruben CEO perusahaan pusat di ibukota" ucap Ans dengan datar.
Miko melihat siapa yang di maksud kemudian membungkuk hormat pada Ruben, "selamat datang tuan muda" sapa Miko.
Ruben hanya menganggjk kecil tanpa senyum sedikitpun di wajahnya, dia berlalu begitu saja melewati Miko tanpa kata.
"Suruh semua para petinggi perusahaan berkumpul di ruang rapat dan mebawa laporan masing masing" ujar Ans kemudian pergi dari sana mengikuti langkah Ruben.
"Ck, mereka sama saja, sama sama menakutkan. Pantas saja jika tuan Ans seperti itu ternyata mereka satu server" batin Miko.
Miko melakukan apa yang di katakan Ans menginformasikan melalui group untuk mengumpulkan semua karyawan yang berperan penting dalam menjalankan perusahaan dalam ruang pertemuan, dan setelah itu barulah Miko memerintahkan OB untuk menyediakan minuman untuk bos besar mereka.
...****...
__ADS_1
Waktu terus saja berputar, jarum jam tidak hentinya bernting mengatur waktu membuat hari berganti hingga bulan pun ikut berganti dan tak terasa dua bulan sudah Jennifer terlahir dan hidup dalam asuhan kedua orang tuanya.
Ans dan Helena tidak hentinya bersyukur karena bisa di anugrahi putri cantik untuk dia rawat dan didik, dan Ans pun demikian karena putrinya membuat dia semakin semangat dalam bekerja aga bisa memenuhi semua tuntan kebutuhan putrinya walau terkadang dia malas tapi mau bagaimana lagi semua demi kedua wanita yang dia cintai.
Tidak jauh berbeda dengan pasangan yang sangat antusias menyambut kelahiran baby mereka, dan sesuai perkiraan dokter tiga hari lagi adalah hari persalinan, dan mereka tidak henti hentinya tersenyum mendegar perkataan dokter.
Saat ini Lili sedang berada dalam kamar, dia memasukan semua keperluan putrinya salam tas yang akan di bawa di rumah sakit saar persalinan nanti, Lili tidak membiarkan orang lain melakukan pekerjaan itu alasanya karena ingin memenuhi kebutuhan putrinya sendiri.
Bahkann saat mendengar Ibu dan ibu mertuanya akan datang besok, Lili langsung bergerak cepat membereskan keperluan putriny agar tidak ada yang mengambil alih pekerjaan itu termasuk kedua orang tuanya sendiri, walau Riko sudah melarag tapi Lilli terap Keukeh untuk melakukannya sendiri.
Tidak jauh berbeda dengan Lili, Riko pun demikian, Riko merenofasi ruangan yang akan di jadikan kamar putrinya nanti, walau dia melarang Lili tapi dia sendiri tidak bisa menghalau nafsunya yang begitu menggebu menyambut kelahiran baby nya.
Dia menyulap kamar yang bersebelahan denhan kamar mereka dengan pernak pernjk yang um di gunalan balitan, dan boneka sudah berejejer rapi di atas kasur, padahal putrinya pun belum tau apa apa masalah mainan, tapi Riko sudah menyediakannya jauh hari.
"Sayang..." panggil Lili.
Riko menoleh dan melihat istrinya berjalan dengan sangat pelan, dan Riko langsung bergerak menghampiri istrinya dan membantu memapah Lili agar duduk di sofa dalam kamar putrinya.
"Duduk dulu sayang" ucap Riko dan mendudukan Riko dengan lembut.
"Gimana sudah siap renofasinya?" tanya Liki.
"Hampir siap sayang, aku tinggal menempelkan stiker ini saja" jawab Riko.
"Yasudah, tapi setelah itu temani aku ya" pinta Lili.
"Apa pun untuk istriku" jawab Riko.
" Terimakasih suamiku" ucap Lili dengan senyum manisnya.
"Sama sama istriku" jawab Riko dan langsung bergerak menuju tempat untuk menempelkan stiker di dinding kamar putrinya, dan setelah selesai dengan urusan itu Riko menggandeng tangan istrinya dan membawanya menuju halaman rumah untuk berjalan tanpa alas kaki sesuai saran dokter.
.
__ADS_1
Bersambung...