Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Aku Juga Mencintamu


__ADS_3

" tapi kenapa pertanyaanya harus itu sih mas.?" cebik Santi dengan bibir yang sudah dirucutkan.


" Yudah kalau kau tidak mau menjawab, tidak perlu menjawab." kata Ruben dengan wajah datar.


" yau aku takut kelihangan kamh mas, aku taku kalau kamu pergi, aku takut kamu tidak bangung lagi." jawab Santi cepat saat melihat perubahan wajah Ruben.


" Kenapa.?" tanya Ruben lagi dengan masih datarnya. Sebenarnya Ruben ingin sekali tersenyum mendengar jawaban Santi yang membangkitkan bunga bermekaran di hatinya. Namun ia berusaha untuk tetap cool di hadapan Santi.


" Karna..Kar.-karna aku mencintaimu dan aku tidak mau kehilangan kamu mas." ucap Santu kemudian menutup jawahnya dengab kedua tangannya


Ia mali, sangat malu mengatakan itu, tapi sejuru kemutian rasa malu itu berubah menjadi kesal saat mendengar Ruben menertawakan pengakuannya.


" Kenapa mas tertawa.! apa mas kira ini lucu ha." sentak Santi dengan wajah masamnya yang sudah memerah.


" iya. Kamu sangat lucu." jawab Ruben masih dengan tawa renyahnya yang memenuhi ruangan itu.


" Aisss, kau jahat mas.! kau menertawak perasaaku yang tulus ini.! kamu benar benar jahat." teriak Santi yang sudah mulai berkaca kaca.


Santi berpikir kalau Ruben menertawakan perasaanya dan berarti Ruben tidak memiliki perasaan padanya.


Santi hendak berbalik meninggalkan Ruben yang menertawakannya, namu tangan Ruben lebih cepat mencekal pergelangan tangannya kemudian merengkuh pinggang Santi merapatkan padanya.


" Kenapa kamu cepat sekali marah hem.? asal kau tau aku sangat senang mendengar pengakuanmu itu. Rasanya sangta membahagiakan bagiku." tutur Rubeb semakin mempererat pelukannya.


" ke...kenapa kau senang.? agar kau puas menertawakanku begitu. Santi berbicara dengan gugup karna kalau boleh jujur saat ini jantungnya terpopa lima kali lebih cepat dari normalnya saat merasakan sentuhan tangan dan hembusan nafas Ruben yang menyentuh kukitnya. Apalagi mendengar suara Ruben yang begitu lembut dan seksi sungguh itu membuat diri Santi bergejolak.


" Karna aku seang mendengar pengakuan cintamu. kau tau karna apa." tanyq Ruben yang di jawab gelengan oleh Santi. " itu karna aku juga mencintaimu, sangat sangat mencintaimu istriku Santi Anastasya." Ucap Ruben dan tanyanya kananya menggapai dagu Santi untuk lebih dekat padanya hingga akhirnya.


Cup...

__ADS_1


Ruben mengecup bibir merah cery milik santi. Awalnya hanya sebuah kecupan tapi lama lama bibir itu mengecap rasa manis yang diarasakanya.


Ruben ******* bibir santi dengan lembut kemudia sedikit tergesa, sedangkan Santi hanya dia terpaku atas perlakuan Ruben.


karan jujur ia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini.


Ruben melepasakn pangutannya dari bibir Santi karna tidak ada balasan dari istrinya


" Kenapa kamu dian saja hem.?" tanya Ruben dengan senyum yang di kulum. Ia jelas saja tau kalau dia orang pertama yang melalukan itu terhadap Santi.


Santi menutul wajahnya dan menunduk. I sangat malu melihat suaminya saat ini, bahkan wajahnya saat ini sudah terasa panas.


" aku..aku tidak tau mas harus seperti apa." jawab Santi lirih.


" Aku akan mengajarimu." ucap Ruben dan berniat untuk melanjutkan lagi kegiatannya, namun harua terhenti karna beberapa orang bertugas masuk kedalam bersama asistenya Ans.


" Sial." unpat Ruben pelan tapi masih bisa didengar oleh Santi dan itu membuat Santi terkiki geli.


" Selamat siang. Oh tuan sudah sadar.? lalau begitu saya periksa dulu ya." ucao dokter kemudian mulai memeriksa sang pasien.


Selesai memeriksa, dokter pin tersenyum dan berkata. " Pasien baik baik saja. Dan kesehatanya maju pesat, tidak ada yang perly di khawatirkan akibat dari kecelakaan ini. Hnya saja, tuan haru rajin meminum obat yabg saya resepkan agar luka anda cepat mengering dan ridak berbekas nanti.? tutur dokter panjang lebar.


Santi yang mendengar itu tersenyum lega, karna tidak adanya yang fatal bagi kesehatan suaminya.


" terimakasih dokter." ucap Santi.


" Sama sama nona. Kalau begitu saya pamit dulu."


" Dokter, kapan saya bisa pulang.?" tanya Ruben.

__ADS_1


Dokter menghentikan langkahnya dan berkat. " kalau anda sudah benar benar sehat besok sudah bisa pulang. tapi itu tergantu pemeriksaan berikutnya."


" Aku harus telpon mama dulu mas." ucap Santi setelah dokter pergi.


" Tidak perlu nona. karna saya sudah menelpon beliau tadi saat tian sadar.


" ha.. Kapan kau yau suamiku Sadar Ans.? bukankah kau dari tadi diluar ?" tanya Santi dengan mengertukan keningnya.


"Sudah lama nona, sejak anda mulai makan." jawab Ans dan pergi meninggalkan mereka.


Santi yang mendengar itu sangat terkejut. Ia menatap Ruben yang sedang tersenyum dan menatap kearahnya.


" ja...jadi dari tadi mas memperhatikanku makan.?" tanya santi memastikan.


" iya." jawab Ruben singakat dan santai.


" Akhhhhh, aku malu sekali." teriak Santi frustasi dan hal itu justru membuat Ruben terkekeh renyah.


" Kau sangat mengemaskan." ucap Ruben dan tanganya menarik pergelangan Santi agar mendekat padanya.


Ruben kembali merangkul Pingga Santi dengan sangat erat hingga tidak ada jarak diantara mereka dan hal itu tentu saja membuat jantung Santi kembali terpompa wajahnya kembali memerah seperti kepiting rebus.


Tidal jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh si wanita cantik itu, Ruben pun sebenarnya juga sangat deg deg an, tapi ia berusaha untuk terlihat Santi.


Ruben meraih dagu Santi agar menghadap kearahnya, ia melihat bibir yang seperti buah cery itu, perlahan kembali mendekatkan bibirnya, dan Santi yang melihat itu menutup matanya.


Hampir saja bibir itu menempel dan inggin menyesap, harus terhenti oleh pintu yang lagi lagi tebuka dan menampakan mereka yabg datang.


mereka.....

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2