Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Apakah Masih Memiliki Rasa


__ADS_3

"Sayang menundukkk...!" terika Riko di sela sela kegaduhan.


Mobil yang di kendarai Riko terpental jauh dari posisi semula, dengan keadaan Riko yang memgukung Tubuh Lili di bawah tubunya, melindungim istri dan kanduangan Lili agar tidak terbentur dan istrinya tidak terluka.


Tapi situasi kecelakaan tidak mungkin tidak melukai Lili, wanita itu telukan kerena serpihan kaca yang pecar dari pintu mobil membuat dara segar mengalir di seluruh wajahnya sedangkan perutnya pun yang tidak terlindungi sepenuhnya terbentur sehingga mengeluarkan darah memebasahi kakinya , sedangkan Riko sendiri masih berusahan menyadarkan dirinya walau keadaanya lebih parah dari istriya.


Semua orang yang lewat bahkan kendaraan pun berhenti tapi tidak ada yang berani mendekat karena banyak hal alasan, sehingga memilih jadi penonton saat Riko berusaha mengeluarkan istrinya dari mobil dalam kondisi tubuh yang sudah lemah.


Di tengah perjuangan Riko, sebuah mobil berhenti tepat di samping mobil mereka, yang ternyata adalah Ans dan Istrinya, merka baru saja akan kembali ke rumah setelah habis bersama dan memadu kasih dala hotel yang sidah di booking oleh Ans, dan kini mereka akan kembali ke rumah.


Tapi di pertengahan jalan, Ans melihat kejadian ini dan walau sudah di penuhi darah tapi Ans masih bisa mengenali siapa korbannya "Tuan Riko" kejut Ans dan langsung bergegas keluar yang diikutk Helena di belakannya.


"Tuan Riko...!" seru Ans.


"Ans..To tolong istriku di dalam." ucap Riko lemah.


Mendengar hal itu, Ans langsung meminta pertolongan Istrinya "bunda..tolong bantu bawa ke mobil!" seru Ans.


Setelah Helena memapah Riko kini ans yang membuka paksa pintu mobil dan membopong tubuh Lili kemudian berlari menuji mobilnya barilah dia melaju dengan kecepatan di atas rata rata.


"Dokter.....Dikter....Tolong ada pasien yang kecelakaan....!"


Ans berteriak di tengah kepanikannya sedangkan Helena terus membantu Riko agar tersadar, tapi sepertinya Riko sudah terlalu lemah sehinga kesadarannya tidak bisa lagi dia pertahanka.


"Tuan...hei jangan pingsan, tetap buka matamu tuan!"


"Bunda buka mobilnya...!" seru Ans Setelah kembali, dan seketika pasangan malang itu di tangani oleh tim medis, sementara Ans dan Helena masih sibuk mengurus semua admininstrasi keduanya.


"Ayah kenal mereka?" tanya Helena.


Saat ini keduanya sudah berada di ruang darurat menunggu hasil dari peneriksaan yang di lukukan, dan kini pertanyaan yang terlontar menyadarkan Ans jika dia masih bersama dengan istrinya lalu, baru saja Ans ingin menjawab tapi suara petugas medis mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Keluarga pasien..!".


"Kami dokter!" jawab Ans dan langusng berjalan mendekat.


"Pasien Kritis dan sepertianya ini sudah waktunya dia melahirkan, jadi kami harus melakukan tindakan operasi agar bisa menyelamatkan keduanya" ujar dokter.


"Lakukan saja dokter, yang penting mereka harus selamat" jawab Ans dengan cepat.


"Tapi kami butuh donor darah, karena pasien mengalami pendarahan sementara stok di rumah sakit kami sedang kosong"


"Ambil saja darahku, asalkan dia tetap selamat" desak Ans.


"Baik silahkan ikut suster saya untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu, sembari menunggu pasien di pindahkan keuang perawatan"


"Baik dok"


Ans memutar tubuhnya dan berjalan kembali mendekati istrinya, "Bun, Ayah kesaaa sebentar tetap disini dan jangan kemana mana" ucap Ans kemudian mencium kening Helena sebelum akhinya dia melangkah menjauh menuju ruang pemeriksaan.


Mataya terus memandang lekat siluet suaminya hinggat tak terasa matanya mengembun membentuk anak sungai, tapi dengan cepat Helena mencegah agar tidak melaju.


Helena terus menunggu bahkan di saat Lili di pindahkan ke ruang operasi pun Helena mengikuti dan Ans juga ikut masuk ke dalam tanpa menyapa istrinya lagi, dia terlalu sibuk mengurus keselamatan pasangan itu hingga dirinya lupa jika ada perasaan yang jauh lebih penting yang harus dia selamatkan.


Tak lama setelah itu, lima orang datang daei kejauhan, berjalan tergesa menuju ruang operasi tempat Helena berdiri, dan Helena sendiri bisa menebak jika itu adalah keluarga pasien, karena tadi dalam perjalan Helena menghubingi Ruben agar mengatakan keadaa pada keluarga masing masing dan kini keluarha iti tiba di depannya dengan raut wajah yang kini sangat khaatir dan menyedihkan.


"Helana! dimana mereka?" tanya Ruben.


"Maaf tuan, perempuannya masih berada di ruang operasi karena dia harus segera di tangani untuk menyelamatkan keduanya kata dokter" jawab Helena.


"Siapa yang menjamin hal itu?" tanya Ruben penuh selidik.


Walau dia sudah bisa menebak tapi Ruben tetap bertanya untuk memastikan tebakannya dan benar saja dugaan Ruben saat Helena menjawab.

__ADS_1


"Suami saya tuan" jawab Helena dengan sedikit bergetar tapi masih berusaha tersenyum.


"Aku tau kamu pasti merasa terluka dan bertanya tanya bagaimana hubungan mereka, dan aku yakin kau akan semakin terlukan jika tau bagaimana rumitnya hubungan mereka hingga menyeretmu masuk dalam kehidupan Ans" batin Ruben menatap lekat wajah Helena.


"Terimakasih, sudah menulung anak anak kami nak" ucap Mana dengan tangis yang sudah membajiri pipi.


Helena tersenyum mendengar ucapan terimakasih itu, "sama sama bu, lagi pula suami saya yang menolong bukan hanya saya saja" jawab Helena.


"Lalu dimana dia?" tanya mama Lili.


"Dia di dalam mendonorkan darahnya karena nona itu kehilangan banyak darah sementara untuk operasi bisa berjalan harus menjalani transfusi dara lebih dulu" jawab Helena.


Tangis kedua orang itu semakin pecah mendengar keadaan Lili, dan tangis haru pun bercampur saat mengetahui ada orang yang mau menolong hingga mendonorkan darah.


Mama Riko segera meraih tangan Helena meremasnya pelan menyalurkan rasa terimakasih melalui tindakannya itu, "terimakasih nak sudah mau memberi pertolongang yang luar biasa" ucap mama Riko.


"Iya nak, kalian benar benar malaikan penolong kedua putra dan putri kami, walau tidak tau bagaimana nantinya tapi sungguh kamu berterimakasih pada kalian" timpal mama Lili.


"Kalian tau jika dia adalah istrinya Ans Wijaya" ucap Ruben yang membuat ke empat orang tua itu menoleh dan melihat Ruben dengan tidak percaya.


Terlebih mama Lili yanh sedikit tidak enak hati mendengar jika yang menolong putrinya adalah pria yang dulunya tidak ia inginkan menjadi menantunya bahkan menyuruh Riko menantunya kini agar secepatnya menikahi Lili agar Ans tidak lagi mengganggu putrinya, tapi kini pria itu juga yang menolong putrinya.


"Terimakasih"


"Dia orang yang anda jauhkan dari putri anda dan menyuruh sahabat saya untuk segera menikahi Lili!" ucap Ruben penuh penekanan membuat mama Lili semakin menangis.


Sementara Helena terkejut mendengar kenyataan bahwa wanita yang sedang bertaruh nyawa itu adalah wanita yang pernah mengisi hati suaminya membuat Helena berfikir akankah suaminya masih menyimpan rasa.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2