
"Kenapa gelisah? jawab saja masih pekerjaan sebelumnya" ucap Ans.
"Tapi Ibu bilang uang yang dia terima sangat banyak jadi mustahil jika itu ku dapatkan dari perjaan itu" sanggah Helena.
"Apa Ibu mempermasalahkannya?"
"Tidak" jawab Helena.
"Lalu apa yang membuat istriku gelisah? pasti ini bukan karena pertanyaan Ibu kan?" tebak Ans.
Helena tidak menjawab pertanyaan Ans, karena memang tidak tau apa yang harus di katakan, antara jujur atau tidak.
"Apa ada yang di katakan Ibu sayang? atau kau ingin menemui Ibu?" tanya Ans.
Helena menundukan wajahnya tidak berani menatap wajah suaminya yang menatap dirinya dengan lekat, "jawab sayang, apa rindu Ibu?" ulang Ans.
Dengan lemah akhirnya Helena menganggukan kepalanya, mengiyakan sebagi jawaban dari pertanyaan suaminya tanpa mengeluarkan sepata kata.
Ans tersenyum dengan jawaban Helena, dia tau bagaimana perasaan Helena "kita akan menemui Ibu" ucap Ans yang membuat Helena langsung mengangkat wajahnya dan memandang lekat mata suaminya untuk mencari kebohongan disana.
"Benarkah?" tanya Helena sengab suara lembah.
Ans mengangguk mantap "iya kita akan menemui Ibu dan kita akan berangkat jika sudah ada kepastian jadwalku dari Miko" jawab Ans.
Mendapat jawaban dari Ans, tidak serta merta membuat Helena senang atau girang justru membuat dia kembali berpkir akan apa yang terjadi jika mereka menemui Ibunya.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Ans yang melihay raut Helena yang justru ada kecemasan di sana.
"Aku takut menghadapi Ibu" lirih Helena.
"Tidak usah khawatir, semua akan baik baik saja dan Ibu tidak akan pernah kecawa" ucap Ans menenangkan istrinya.
"Bagaimana kamu busa berkata begitu? sementara keadaanku seperti ini" tanya Helena.
"Karena suamimu ini tidak akan membiarkan istri cantiknya berusaha sendirian apalagi mengahadapai masalaha sendirian" ucap Ans mencubi pelan pipi Helena.
"Baiklah, aku siapkan air hanga untuk mandi" ucap Helena yang di angguki Ans.
Ans melihat kepergian Helena, kemudian mengirimkan pesan pada Miko agar mengosongkan jadwalnya selama beberapa hari minggu ke depannya dan sekaligus memerintahkan untuk mencari informasi tentang Ibu mertuanya.
Ans berencana akan menemui lebih dulu mertuanya sebelum membawa Helena ke sana, agar tidak ada drama kesedihan atau kekecewaan seperti yang di takutkan istrinya.
Sementara di Ibu kota, kembali Janeth mengamuk di dalam apartementnya, bagaimana tidak mengamuk jika hari ini ada banyak hal yanh membuat mood nya rusak dan membangkitkan amarah dalam dirinya.
__ADS_1
Pertama matanya menyaksikan bagaimana kekasih hatinya memuja istrinya di hadapannya tanpa mempedulikan perasaanya, kedua Lili yang dengan terang terangan meyuruh dirinya pergi bahkan mengancamnya jika tidak menuruti permintaanya dan sore ini kembali amarah menggebu dalam dirinya karena penolakan Riko terhadap ajakan makan malamnya.
"Akhhh....! aku benci aku benciii...!" teriak Janeth dengan barang yang terus melayang dan hancur marena perbuatannya, "aku benci wanita si**an itu, aku benci padamu Lili! karena mu kekasihku meninggalkanku hiks...hiks..! aku benci kamu!" teriak Janeth dalam kamarnya.
"Nona...nona Janeth apa yang terjadi?! jangan berbuat nekat nona!" seru Anita yang khawatir akan sesuatu yang buruk.
"Aku benci dia Anita! aku benci dia yang sudah merebut kekasihku..!" teriak Janeth.
"Sudah nonq, keluarlah dulu mari tenangkan pikiran dulu" saut Anita.
"Tidak! aku tidak mau, lebih baik kau pergi saja!" bentak Janeth.
"Tapi nona, aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan yang seperti ini"
"Jangan pedulikan aku! aku tidak akan melakukan hal bodoh Anita! aku belum mendaptakan kekasihku kembali!"
Anita menghela napasnya mendengar jawaban Janeth, benar benae wanita yang menjadi bosnya ini terobsesi dengan Riko, entah bagaimana kisah mereka dulu sehingga tidak bisa melupakan Riko bergitu saja, tapi yang pasti kini adalah dia harus bisa mengawasi Janeth agar tidak melakukan hal yang akan merugikan dirinya dan orang lain.
Anita memutuskan untuk diam, berjalan menuji kamarnya setelah mendengar perktaan Janeth jika dia tidak akan melakukan hal bodoh karena belum mendapatakan kekasih hatinya dan itu sudah cukup membuat Anita tenang.
"Hiks hiks, kau jahat padaku Riko, kau sudah tidak mencintaiku lagi kau sudah melupakanku" tangis Janeth, "tidak! aku tidak boleh menyerah, aku harus mendapatkanmu Riko!" tekat Janeth.
"Anita...Anita..!" teriak Janeth.
"Besok akan mulai bekerja dan kau cari seseorang yang bisa mencari peretas handal" titah Janeth.
"Untuk apa nona?"
"Jika kau masih ingin bekerja denganku maka jangan pernah banyak bertanya dan lakukan saja perintahku!" ucap Janeth penuh penekanan.
Setelah melakukan hal itu, Janeth kembali masuk dan kini tujuannya adalah menghubungi Ayahnya, karena Ayahnya akan menjadi kunci berjalannya rencananya.
"Ayah!" seru Janeth setelah panggilan terhubung dan terjawab.
.....
"Aku tentu saja rindu Ayah"
.....
"Tapi aku butuh bantuan Ayah" ucap Janeth dengan nada manjanya.
"Aku ingin menggantikan posisi Ayah di perusahan sampai waktu yang belum aku pastikan"
__ADS_1
.....
"Ada hal yang harus aku lakukan Ayah, dan aku harap Ayah mau memenuhi keinginan anakmu ini."
.....
"Benarkah? baiklan terimakasib and I love you muachh" ucap Janeth dan langsung mengakhiri panggilannya.
"Aku pasti akan mendapatkanmu Koko, pasti akan mendapatkanmu!" ucap Janeth dengan seringai liciknya.
****
"Sayang, kapan jadwal kontrolmu lagi?" tanya Riko.
Saat ini pasangan itu berada di dalam kamar setelah makan malam dan kini bersantai dengan berselonjor kaki dan Lili yang bersandar manja di dada bidang Riko.
"Satu minggu lagi sayang, memangnya kenapa?"
"Aku sudah tidak sabar melihat perkembangan anak kita di dalam" jawab Riko dengan tangan yang mengelus lembut perut Lili.
Lili ikut menempelkan telapak tanganya di punggung tangan Riko sehinga kini kedua tangan itu menempel dan bergerak teratur mengelus perut Lili yang mulai membuncitu itu.
"Aku juga tidak sabar menggendong anak kita sayang" jawab Lili tapi pikirannya melayang memikirkan rivalya.
"Apa yang yang membenani pikiranmu sayang?" tanya Riko yang sedari tadi menangkap ada kegelisahan di wajah Lili.
"Entah kenapa aku merasakan akan ada sesuatu yang menghantam rumah tangga kita" jawab Lili jujur.
"Apa yang kamu katakan? itu hanya kegelisahan ibu hamil saja, jadi jangan pikirkan apa pun, lebih baik pikirkan anak kita saja" ucap Riko mencium kening Lili.
"Tapi aku tidak bisa tidur sayang" jawab Lili.
"Jangan membantah suamimu ini, ayo tidur"
Riko membaringkan tubuh Lili setengah memaksa, dan mau tidak mau akhirnya Lili menuruti perkataan Riko, tapi matanya masih tetap terbuka terasa enggan untuk terpejam.
"Merem sayang, bukan melotot" ucap Riko.
Lili pun akhirnya menuruti permintaan suaminya, memaksakan mata yang sebenarnya tidak bisa tidur, tapi karena permintaan Riko akhirnya Lili menurut.
"Aku pikir cuma aku yang berperasan cemas, tapi istrikipun merasakannya" batin Riko.
Bersambung...
__ADS_1