
"Sudah selesai" ucap Rajesh lalu meletakan barang uanh tadi digunakan untuk mengeringkan rambut Nara.
"Terimakasih" ucap Nara dengan tulus.
"Sama sama sayang.. ayo kita sarapan" ajak Rajesh.
"Ini sudah bukan pagi Mas, ini saja sudah lewat jam makan siang" kata Nara dengan kekehanya.
Rajesh ikut tertawa dengan tingkahnya yang memikirkan ini masih pagi, mungkin karena asyik dengan kegiatan yang mengasikan membuar dirinya tidak ingat waktu lagi.
"Hehehe... Mas pikir masih pagi sayang" jawab Rajesh dengan cengirannya.
"Tentu saja Mas mikir begitu, orang pikiran Mas sudah dipenuhi kemesuman semua" sindir Nara.
Tapi bukan tersinggung Rajehs malah merasa bangga karena perkataan istrinya, dia merasa tidak ada salahnya jika mesum pada istri sendiri.
"Tidak masalah mesum pada istri sendiri" jawab Rajesh merasa benar.
"Ckck...terserah padamu Tuan Maha benar" ketus Nara lalu pergi meninggalkan Rajesh dengan wajah cemberutnya.
Rajesh menyusul istrinya dengan senyum gemes yang masih melekat di sudut bibirnya, mensejajarkan langkahnya agar bisa berjalan beriringan dengan wanitanya, lalu menggandeng tangan Nara dengan mesra membuat Nara yang awalnya cemberut menjadi senyum Malu malu.
"Sepi ya Mas?" tanya Nara heran, pasalnya tidak ada satupun keluarganya yang terlihat selain Leo, itupun pria itu baru saja datang.
"Mereka sudah kembali lebih dulu" ucap Rajesh memberitahu.
"Loh kok aku tidak tau?" tanya Nara dengan kening yang mengerut.
"Karena kita baru keluar dari kamar"
"Terus Mas tau dari mana?" tanya Nara masih dengan wajah polosnya
Rajesh jadi gemas dengan tingkah instrinya yang tiba tiba kurang tanggap, "tak perlu tau Mas tau dari mana, yang penting jawabannya adalah mereka sudah kembali lebih dulu, lagian kenapa sih jadi Lola begini? apa jangan jangan karena abis itu ya....?" goda Rajesh membuat Nara merona malu.
"Itu saja yang ada dipikiranmu..! tidak ada yang lain apa selalin mesum terus..!" ketus Nara.
Nara mencebikkan bibirnya, memanyunkan untuk menutupi rasa malunya tapi bukannya berhenti, tingakah Nara justru membuat Rajehs tak tahan dan akhirnya berakhir dengan Rajehs yang mematuk bibir Nara tiba tiba
__ADS_1
"Mas..." pekik Nara.
Nara tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya, bagaimana bisa tidak memilah tempan jika ingin mencium membuat Nara sangat geram karena kini beberapa orang yang menyaksikan adegan itu menatap mereka dengan tatapan yang banyak ekspresi.
"Loh kenapa? kalau tidak mau patuk ya...jangan begitu bibirnya" jelas Rajesh.
"Tapi bisa lihat kondisi kan?"
"Tidak bisa, saat keinginan sudah sangat membuncah maka tempat tidak akan dipikirkan lagi, jadi jika tidak mau di cium didepan umum maka jangan memancing" ucap Rajehs yang justru seolah menuding Nara pemicuya.
Nara mendengkus sebal dengan jawaban suaminya yang ada saja bahan untuk menyanggah dirinya, "terserah padamu, tapi lihatlah mereka semua jadi menatap kita seperti itu" kesal Nara.
"Jangan pedulikan, karena kita tidak salah.. kita pasangan halal jadi tidak ada dosa dan jika mereka mencibir biarkan saja, toh dosa mereka yang tanggung" jelas Rajesh yang tidak mau memikirkan pandangan orang orang
"Terserah padamu saja" akhirnya Nara hanya bisa pasrah, semua apa yang dikatakan selalu saja ada sanggahan dari Rajesh dan menunjukan jika apa yang dikatakan pria itu sudah yang paling benar.
"Selamat siang Tuan Muda, selamat siang Nona Muda" sapa Leo setelah majikannya sudah sampai ditempat yang disiapkan.
"Selamat siang sekretaris Leo" jawab Nara ramah sedangkan Rajesh hanya mengangguk kecil dengan muka masamnya.
Entah kenapa selalu saja jika Nara tersenyum dengan pria lain membuat hatinya memanas berasa tidak rela jika senyum istrinya dinikmati banyak orang, Rajehs hanya ingin dirinya sendiri yang melihat dan menikmati semua yang berhubungan dengan Nara istrinya.
Dengan cepat Rajehs merangkul pinggang Nara dengan mesra seolah menunjukan kepemipikannya pada wanita itu dan hal itu membuat Leo maupun Nara hanya merotadikan bola matanya merasa jengah dengan tingakah konyol Rajehs.
"Ckck.. menjijikan sekali kebucinan Tuan Muda ini, apa dia pikir aku akan merayu istrinya? maaf saja Tuan, walau Nona Muda memang sangat cantik tapi aku masih menyayangi nyawaku" bantin Leo dengan penuh geram.
"Astaga possesifnya belum hilang, padaha itu sekretarisnya sendiri" jerit batin Nara tapi tidak dapat melakukan apapun selalin pasrah menerima semua perlakukan Rajehs yang menuru pandangan orang lain sangat romantis.
"Silahkan Tuan, makan siang sudah saya siapkan" ucap Leo yang tidak ingin berlama lama ditempat itu.
Rajehs menarik kursi untuk istrinya kemudian untuk dirinya sendiri sedangkan Leo menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar menghidangkan makan siang sesua dengan perintahnya tadi pagi.
"Setelah ini kamu kemana Leo?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu Tuan? bukankah Anda harusnya sudah tau?" jerit Leo dalam hatinya.
Ya, hanya dalam hati Leo berani menjawab sesuka hatinya, berani mengumpat dan megatai Tuan Mudanya tapi dari mulutnya sudah jelas berbeda kata yang keluar, "saya akan kembali ke kantor Tuan Muda, banyak berkas yang harus saya siapkan sebelum sampai di meja kerja Anda.
__ADS_1
"Bagus, dua minggu kedepan jangan ganggu aku, urus semuanya sebisaku dan hubungi aku jika memang tidak mampu, ingat jangan hubungi aku jika bisa kau tangani sendiri..!" tegas Rajesh membuat Leo hanya bisa mengangguk pasrah.
"Loh memangnya Mas mau kemana?" tanya Nara.
"Tidak kemana mana kok"
"Lalu kenapa Mas tidak masuk hingga dua Minggu kedepan? apalagi coba kalau ingin pergi.
"Iya tapi bukan Mas saja yang pergi tapi kita berdua?"
"Ha...."
Nara melongo mendengar jawaban suaminya, kemana gerangan si pria tampan itu akan membawanya? apakah akan bulan madu? tapi kemana bulan madunya? apapun itu Nara butuh jawaban saat ini dan yang pasti dari Rajesh.
"Kita akan berbulan madu selama dia Minggu di Hawai" kata Rajesh membuar Nara membulatkan matanya.
Wanita cantik itu tidak menyangka jika suaminya akan membawanya ke Negara yang sangat ingin dikunjunginya, apakah ini sebuah kebetulan? atau Negara itu juga disukai oleh suaminya? atau bahakan suaminya sebenarnya sudah tua tempat dimana saja Nara ingin berkunjung?
Tapi apapun itu, bagaimanapun itu, yang jelas saat ini adalah Nara sangat bahagia karena akan berlibur ke Negara yang dia impikan, yang lebih menyenangkan adalah bukan hanya sekedar berlibur disana melainkan untuk bulan madu bersama sang suami.
"Sungguh yang aku dengar ini Mas?" tanya meyakinkan pendengarannya.
"Sunguh, kita akan bulan madu di Hawai"
"Ahhh itu negara kesukaanku... terimakasih Mas" ucap Nara dan langsung menghadiahi satu kecupan dipipi Rajesh membuat pria itu tersenyum puas.
"Sama sama sayang, Mas senang jika kamu suka dengan Negara pilihanku" kata Rajesh.
"Helehhh tentu saja Nona Muda ada senang, secara Tuan Muda sudah mencarinya terlebih dahulu..." batin Leo merasa jengah dengan sikap Tuannya yang sudah menampakan tingkat kebucinannya padahal belum seberapa lama kebersamaan mereka.
"Untung saja aku minta Leo cari tau semua, walau cuma kecupan hadiahnya tapi tetap terasa sangat manis" batin Rajehs dengan senyum penuh kemenangan.
"Ayo kita makan dulu, habis dari sini kita harus bersiap karena besok kita sudab harus berangkat ke Hawai" kata Rajesh yang langsung di jawab anggukan oleh Nara.
Mereka makan sedangkan Leo memilih untuk mengundurkan diri dan kembali ke kantor setelah mengirimkan pesan singkat pada Tuan Mudanya, walau belum di baca apalagi di balas yang sudah Leo yakini tidak akan terjadi hal demikian tapi tetap saja memang seperti itulah kebiasaanya, akan mengirimkan pesan singkat pada Rajesh.
.
__ADS_1
.
Bersambung....