
" Aku tidak bisa." jawab Lili.
" Kenapa tidak bisa li.?" tanya Santi heran
" Karna aku sangat mencintainya walau dia sudah tiada.
" Tapi kenapa aku bisa." sergah Santi yang tidak terima akan jawaban Lili.
" Itu karna kamu tidak mencintainya.! bentak Lili meski masih dengan suara yang hanya didengar oleh mereka. " Karna kau tidak benar benar mencintainya, itu sebabnya kau dengan mudah melupakannya." Tuduh Lili dengan mata menatap tajam kearah Santi.
Ya, Lili beranggapan seperti itu, karna yang ia lihat sekerang Santi tengah bahagia dengan Ruben suaminya.
Santi tercengang mendengar tuduhan Lili, bagaimana mungkin wanita itu memgatakan kalau dia tidak sungguh sungguh mencintai mendiang Rio.
" Kamu salah. Kamu sangat salah mengatakan itu." ucap Santi menggeleng. " kamu tau kan alasan aku apa datang kekota ini.? itu semua karna aku tidak kuat menerima kenyataan yang terjadi, aku terlalu lemah untuk sekedar bernapas, aku tidak berani menatap dunia karna selalu saja disetiap aku memandang maka dia akan ada didepan mataku dan hal itu membuatku menyalahkan diriku, seandainya aku mencegahnya utuk menemuiku maka hal itu tidak akan terkadi dan dia masih akan hidup sampai sekarang." tutur Santi panjang lebar mengeluarkan aemua yang ada dihatinya.
Karna jujur, dia juga manusia biasa yang pasti tidak akan teriman jika dipersalahkan atau malah dituduhkan sesuatu yang bukan dirinya.
Lili tersentak mendengar penuturan Santi dan lebih terkejut lagi melihat Santi yang sudah melelehkan setitik air matanya.
" Maaf.. Maafkan aku. Aku mohon maafkan kata kataku Santi." ucap Lili memegang kedua tangan Santi dan kepala yang menunduk menyesali ucapanya yang menyakiti sahabatnya itu.
" Tidak. Kamu tidak perlu minta maaf, karna kamu tidak bersalah, kita hanya dua orang yang mencintai lelaki yang sama di masa lalu dan kita juga adalah dua orang yang memiliki cara tersendiri dalam mencintainya." ucap Santi lembut membalas uluran genggaman Lili.
" Trimakasih." ucap Lili tulus.
" Tidak. Aku tidak terima itu. Yang aku mau kamu lupakan masa lalu itu Li." kata Santi. " Aku tidak memintamu melupakan dirinya sama sepertiku yang tidak bisa melupakan dirinya. Hanya tolong biarkan dia memiliki tempat sebagai kenanganmu di disana bukan sebagai masa depanmu karna itu sangat mustahil untukmu." Menjeda sejenak dan perlahan menarik perlahan napasanya kemudian kembali berkata. " Sama seperti aku yang menempatkan dia di tempat tersendiri.
Lili terdiam tidak menjawab perkataan Santi, karna dalam hatinya ia membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya, percuma mencintainya terus sedangkan dia tidak bisa menjadi masa depannya, namun apa daya juga bila hati masih bertahan untuk tetap mencintai.
***
Sedangkan di tempat Lain, setelah Jovan meneriman telpon dari Lili. Saat ini dirinya tengah berdebat dengan sang pacar, karna keinginan yang berbeda.
"Ayolah sayang, kita temuai teman temanku ya.! bujuk Jovan.
" Tidak. Aku tidak mau. Dan lagi aku masih ingin bersamamu sebelum aku kembali ke paris." jawab Rena.
Ya. Pasangan kekasih itu adalah Rena dan Jovan. Mereka menjalin hubungan sudah lumayan lama, bahkan saat Rena belum kebali ke indonesia, dan ini juga sebenarnya Jovan berada di ibu kota karna ingin bersama kekasihnya.
" Kita masih bisa bersama mereka mengobrol bersama juga." ucap Jovan masih berusaha merayu sang kekasih.
" Tapi apa nanti Santi tidak akan marah padaku." lirih Rena yang takut karna dirinya lah yang menjadi penyebab masalah pasangan suami istri itu menjadi runyam sekali.
" Tidak akan. Kalau dia marah aku akan membujuknya. Dan lagi dia bukan wanita yang pendendam." ucap Jovan meyakini kekasihnya
" Kau sepertinya dekat sekali dengannya." Ucap Rena dengan nada cemburunya
__ADS_1
Dan Jovan hanya tersenyum gemes melihat tingkah pacarnya yang luci saat sedang cemburu buta.
" Tentu saja aku dekat dengannya, dan lagi aku sudah mengengenalnya sejak kami dudul dibanku SMA, dia juniorku saat itu. Dan satu lagi aku hanya mencintaimu saja." ucap Jovan dengan yakin.
Rena tersenyim bahagia mendengar pengakuan kekasihnya itu, ia sungguh bahagia dan ini lah alasannya kenapa Rena tidak lagi mau mengajar Ruben karna dirinya tidal mai serakah seperti wanita lainnya
Cukup Jovan untuknya dan tetap seperti itu, maka Rena tidak mengharapkan yang lain lagi apalagi mencoba mencari yang lain.
" Yaudah deh, kita pergi." ucak Rena akhirnya menyetujui permintaan Jovan.
Mereka pergi menuju kafe yang tadi diberitahukan oleh Lili, Sampai disana mereka masih sempat menyaksikan dan melihta aurah kesedihan dari dua sahabat itu.
" Hei.! ada apa ini.? kok pada begini mukanya." tanya Jovan saat sudah sampai di meja tempat sahabatnya.
Mereka melihat bersamaa kearah jovan, dan santi tentu saja terkejut melihat apa yang didepan matanya. Jovan datang bersama Rena dan lagi tangan mereka saling bertautan mesra layaknya kekasi.
" hallo....Kok diam saja." ucap jovan lagi melambaikan tangannya di depan wajah Santi.
Santi twrsadar dari ketekejutannya, dan sekarang mimik wajah itu menggambarkan kebingunga, dan penuh pertanyaa.
" Kenalin ini Rena, Pacar aku." kata Jovan yang melihat raut bingung temannya.
" Pacar.?" Santi kembali mengulang kata pacar untuk meyakinkan pendengarannya.
" Iya. Pacar aku." jelas Jovan. ia menarik kursi dan mendudukank kekasihnya tepat di samping Santi karan ia ingin Rena dam Santi menyelesaikan permasalahan diantara mereka.
" Bukannya di.-"
Santi terdiam mencoba memahami situasi yang sekarang ada didepan matanya itu. Jika memang Rena dan Jovan adalah sepasang kekasih, lalu kenapa Santi melihat rena sedang bersandar manja dengan suaminya kala itu
" Aku minta maaf." ucap Rena membuyakan bungkaman Santi. " Aku minta maaf karna sudah mebuatmua salah paham. Aku tidak tau kalau kedatanganku membuta hubungan renggang kalian semakin renggang bahkan ternacam berakhir." Ucap Rena dengan tulus.
" Kamu tau dari mana hubungan kami.?" Santi.
" Aku.! aku yang mengatakan saat aku tau kalau ternyata gadis yang kamu lihta di dalan ruangan suamimu waktu itu adalag kekasihku." ucap Jovan mendahului kekasihnya yang hendak Menjawab.
Lagi lagi Santi kembali diam mendengar penjelasan Jovan dan lagi lagi pula terlintas di pertanyaan dibenaknya kenapa Rena bisa ada disana.
" Saat itu aku dan Rena sedang bertengkar dan ternyata dia dtang kesana untuk curhat dengan suamimu. Jika saja saat itu aku tau kalau dia wanita yang kamu maksud, mungkin kita bisa mbicarakannya baik baik." kata Kovan lagi yang seolah tau apa yang ada dalam benak Santi.
" Aku benar benar minta maaf padamu ya." kali ini Rena yang kembali bicara karna dai belum mendaoat jawaban dari Santi atas peeminta maafannya.
" Ya baiklah, tak perlu di bahas lagi, karna sekarang aku baik baik saja kok dengan suamiku. Dan mungkin ini memang jalan untuk kami bisa saling mengungkapkan perasaan. Jawab Santi dengan senyum tulusnya.
" Trimakasih." ucap Rena dengan berbinar saat mendengar ucapan Santi. Dengan reflex ia memeluk Santi dengan erat dan Santi pun spontan membalas pelukan itu
" Udah peluk pelukkya ."? celutuk Jovan.
__ADS_1
Santi dan Rena pun seketika melepaskan pelukannya karna merak baru tersadar aka apa yang mereka lakukan. Keduanya tersenyum malu mengingat kelakuan mereka.
" Nah, sekarang udah kelar kan. ? maka mari kta bersenang senang." Saut Lili girang
" No.! kita masih belum selsai." ucap Santi tegas.
Semua yang mendengar ucapan santi melihat kearahnya. Jovan dan Rena melihat dengan tatapan penuh pertanyaan sedangkan Lili melihat Santi dengan wajah masamnya.
" Emang kenapa dengan anak ini " tanya Jovan menunjuk Lili dengan dagunya yang terangkat.
Santi tanpa melihat tatapan Lili yang memperingatakan dirinya untuk yidak mengatakan perihal perjodohan itu mulai menceritakan semuanya.
" Jdi gitu Van." kata terakhir dari cerita Santi dan tawa Jovan seketika medengar penuturan Santi.
" Aku gak nyangka kamu dijodohkan dengan pria yang sering kamu sebut pria ember." ucap Jivan denga masih saja tertawa.
Sedangkan Rena dan Santi hanya tersenyum melihat wajah Lili yang semakin masam karna ledekan Jovan, namun hal itu tidak bertahan saat Rena mengatakan:
" Riko lelaki yang baik kok Li. Aku mengenalnya sejak kami kuliah dulu dan dia tipe pria yang setia dan penyayang terhadap pasanganya. Dn jujur aku sempat terkejut akan pengakuan kamu karna setauku dia memilki kekasih dulu." tuti Rena menjelasakn apa yang ia ketahui tentang Riko.
" Namanya juga dijodohkan Sayang, mau dia punya pacar atau tidak tidak ada yang bisa mbantah hal itu." jelas Jovan
" Sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi." putus Lili. " mending kita ngobrol yang lain saja ." lanjut Lili.
Mereka pun akhirnya memilih untuk tidak membahas lagi masalah Lili dan mengobrol biasa, menceritaka hal hal kecil yang menimbulkan tawa, hingga ta terasa waktu sudah sore dan suara seseorang menghentikan tawa itu.
" Sayang..." seri Ruben yang baru saja datang kembali dari kantor.
" Mas.." Santi langsung menyambut kedatangan suaminya dan mencium punggu tangan Ruben.
" Kamu ya, gk ingat waktu hem.. Kn tadinmas udah bilang jangan terlalu lama dan cepat kembali." ucap Ruben lembut dengan mecubit kecil hidung Santi setelah kecupan sayang nan mesra mendarat dikening Santi.
" Maaf ya mas, aku keasyikan mengobrol." cicit Santi yang takut suaminya marah.
" Kamu harua mas hukum.! tegas Ruben.
" Maafkan aku ya mas. Mas tega hukum istrimu ini." kata Santi cemberut.
" Tentu saja tega, karna hukumannya itu hukuman yang nikmat." bisik Ruben
" Mas.." rengek Santi yang merasa malu dengan ucapan suaminya.
" Yasudah kita pulang." ajak Ruben.
" Maaf ya semua aku haru pergi suamiku sudah menjemput.
" Ya silahkan." jawab mereka.
__ADS_1
Santi dan Ruben pun berlalu pergi meninggalkan ketiga orang itu termasuk Rena yang sudah diketahui Ruben perihal siapa kekasihnya.
Bersambung....