
Sementara Ruben sudah menancap gasnya menuju alamat yang baru saja dia dapatkan. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, sungguh ia sudah tidak sabar lagi ingin sampai dan bertemu istrinya.
Ya, Ruben berfikir dan berharap istrinya ada bersama sahabat yang dimaksud, agar ia tidak lagi mencari cari keberadaan Santi.
Sampai disebuah kontrakan yang berukuran kecil, Ruben berhenti dan kembali lagi memastikan alamat yang dikirimkan tepat atau tidaknya.
Setelah memastikan kebenarannya, tanpa membuang waktu Ruben turun dan melangkahkan kakinya menuju kontrakan itu
tok...tok....
Ruben mengetuk pintu berkali kali, dan karna tidak ada respon dengan tidak sabarnya ia kembali mengetuk, karna tidak memperhatikan objek yang didepannya.
" Aduhh,,, hidungku.! keluh Lili saat ketukan yang seharusnya tertuju pada pintu malah mengenai hidunya. Dengan kesalpun Lili berteriak.
" hei..! hidungku sakit brengsek.!' teriak Lili yang sukses membuat Ruben terperanjat kaget.
" astaga ya Tuhan....!" pekik Ruben " ma, maaf saya tidak sengaja." jawab Ruben merasa bersalah karna belum mengentahui bahwa Lilu adalah salah satu karyawannya.
" a..Tu..Tuan.! tuan sedang apa disini" tanya Lili dengan menutup mulutnya yang menganga kaget atas kedatangan Ruben bos besarnya.
__ADS_1
" Saya kesini mau tanya, apa istri saya ada disini.?" tanya Ruben.
" is,,istri bapak.? istri yang mana ya pak.? sepertinta bapak salah, karna saya tidak kenal istri bapak dan disini tidak ada istri bapak." jawab Lili yang belum mengetahui siapa istri yang dimaksud Bosnya ini.
" Istri saya Santi teman kamu. Apa dia ada disini,? mana dia.? saya ingin bertemu." ucap Ruben,matanya mencari cari kedalam tanpa menghiraukan reaksi kaget dari Lili.
" apa.! Santi istri bapak.? bapak jangan bercanda deh." saut santi kaget kemudian terkekeh menganggap omongan Ruben adalah candaan.
" saya tidak bercanda. Saya adalah suami Santi, jadi tolong beritahu saya dimana istri saya." ucap Ruben tegas.
" oh...Jadi tuan yang suami dari teman saya,? suami yang mau menceraikan teman saya tanpa alasan iy.! suami yang meninggalkan istrinya karna wanita ular dimasa lalu itu ya.?!' cerca Lili.
" maksudnya apa ini.?" tanya ruben bingung.
" tidak. Kami tidak bercerai, aku tidam jadi menceraikannya da aku ingin menjemputnya pulang." jawab Ruben lantang.
" ha... Kenapa.? kenapa kau tidak jadi menceraikanya.! eh,, dengar ya, seandainya saja kau bukan atasanku pasti saat ini aku sudah menghajarmu supaya jadi prekedel." ucap Lili dengan kedua tangannya saling meremas dan wajah semasam mungkin seolah ia sedang menunjukan seperti itulah yang akan dilakukannya terhadap Ruben.
" Jadi kau karyawan di perusahaan milikku.? tanya Ruben dengan sebelah alis terangkat dan sudut bibir yang terangkat membentuk seringai tipis.
__ADS_1
" iya, emangnya kenapa kalau aku bekerja di perusahaan milikmu.?" tanya Lili masih dengan garangnya keduan tangannya di lipat didepan dada.
" Jadi kau pasti tau kalau aku adalah atasnmu.? tanya Ruben datar. Kini Ruben sudah berubah datar dan suaranya terdengar dingin.
Lili menelan ludahnya kepayahan, ia tau dan menyadari perubahan yang terjadi pada bosnya itu, dan perubahan itu bukalah sesuatu yang baik bagi hidupnya.
" i..Iy..iya pak. Saya t..tau itu." cicit Lili.
" berarti kamu juga tau kalau tidak ada yang bisa membantah dab melawan saya ?" tanya Ruben lagi.
" i..iya. Itu juga saya tau." menjawab dengan menunduk dan terbata bata.
" Lalu kau masih berani menjadikanku pregedel.?" tanya Ruben dan dengan cepat Lili menggelengkan kepalanya dan berkata.
" tidak, tidak pak. Saya tidak berani." jawab Lili dengan cepat.
" Bagus. Lalu apa kau mau berbohong atau jujur pada atasnmu.?" tanay Ruben lagi yang kini sudah menjadikan kekuasaanya sebagai senjata untuk menekan Lili.
" saya mau jujur pak." saut Lili cepat.
__ADS_1
Ruben tersenyum puas dengan jawaban Lili dan kemudian kembali berkata.
Brsambung.....