Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
suka


__ADS_3

Malam semakin larut satu keluarga itu memutuskan untuk beristirahat karena besok pagi pagi mereka harus berangkat ke geraja untuk pemberkatan, Nara sendiri merasa gelisah didalam kamarnya dan pada akhirnya memutuskan untuk memasuki kamar kedua orang tuanya karena memang saat ini sepertinya gadis itu memerlukan orang tuanya saat ini.


Tok Tok Tok


"Ayah...Ibu... apa kalian sudah tidur? boleh aku masuk?" tanya Nara.


Tak lama menunggu pintu kamar orang tuanya terbuka menampakan Anan yang sudah memakai piyama tidurnya, "Nara sayang... kenapa belum tidur?" tanya Anan heran, pasalnya ini sudah sangat larut.


"Aku tidak bisa tidur Ayah" jawab Nara dengan lirih.


"Masuklah sayang, Ibumu juga tidak bisa tidur" kata Anan membuat Nara langsung masuk melihat keadaan Ibunya.


Dan benar saja, Naina sang ibu masih saja betah dalam posisi duduk didepan balkon kamarnya mengabaikan angin malam yang marasuk menusuk kulit hingga ketulangnya.


"Ibu...."


Naina menoleh dan mendapati anaknya berada disana, "ada apa sayang? kenapa belum tidur?" tanya Naina heran.


"Dia sama sepertimu tidak bisa tidur" celutuk Anan menjawab pertanyaan istrinya.


Naina maupun Nara hanya tersipu dengan perkataan pria paru baya itu, "Ayah apaan sih.. kan Ibu sudah bilang kalai mau tidur ya tidur saja lebih dulu" kesal Naina.


"Tida bisa jika kamu saja tidak bisa tidur"


"Ibu... bolehkan aku tidur disini bersama kalian" pinta Nara dengan tatapan memelasnya.


Naina yang mendengar permintaan putrinya langsung berjalan mendekat dan memeluk Nara dengan sayang, "Tentu saja sayang boleh, Ibu juga ingin tidur disampingmu hanya saja Ayah bilang mungkin kamu tidak akan nyaman" adu Naina dengan wajah kesalnya pada Anan, menandakan jika perkataan suaminya salah besar karena ternyata putri bungsunya juga ingin tidur bersama mereka.


"Ayah pikir mungkin kamu tidak akan nyaman jika kami tidur denganmu" kata Anan menjelaskan.


"Tidak ayah, justru aku yang merasa mungkin mengganggu Ayah dan Ibu"


"Tidak sayang, kamu tidak pernah mengganggu Ibu dan Ayah, iya kan Yah..?" tanya Naina meminta pendapat suaminya.


Anan mengangguk, tentu saja dirinya tidak akan pernah keberatan dengan hal seperti ini karena memang Anan juga sangat merindukan saat seperti ini, saat dimana dulu suka menidurkan anak anaknya.


"Ayo kita tidur, Ayah tutup balkonnya" titah Naina yang kini melupakan suaminya.


Anan hanya menggeleng melihat tingkah istrinya jika sudah menyangkut anak anak maka Anan akam terlupakan tapi tidak masalah karena bagi Aman itu jauh lebih baik dari pada istrinya murung sepanjang hari.

__ADS_1


"Ayo sayang tidur di tengah" kata Naina yang langsung dijawab anggukan.


Nara kini berbaring di tengah tengah kedua orang tuanya, sedangkan Anan dan Naian tidur dengan posisi miring, memeluk dan mengelus lembut kepala Nara agar tertidur dan jujur saja Nara merasa sangat nyaman dengan semua itu, rasanya dia kembali pada masa kecilnya dimana dengan cara seperti inilah dirinya mudah tertidur.


"Aku rindu usapan ini Ayah, Ibu" lirih Nara.


"Ibu juga merindukan itu, tapi bagaimana lagi anak anak Ibu sudah beranjak dewasa bahkan sebentar lagi akan menikah semua" jawab Naina.


"Aku sayang kalian Ayah Ibu" kata Nara.


"Ibu juga sayang sama kamu nak"


"Ayah juga mencintaimu"


Anan dan Naian menjawab kompak, mengatakan jika mereka juga sama mencintai putri bungsu mereka, walau mungkin kebersamaan mereka tidak akan seperti itu tapi bagi mereka Nara tetaplah putri kecil yang akan mereka wujutkan semua keinginannya.


Nara tersenyum, dia sudah tau akan hal itu tapi rasanya mendengar dari mulut orang tuanya terasa jauh lebih menyenangkan dan itu memang kini yang tengah dirasakan gadis cantik itu.


"Tidurlah Princess, besok kita harus bangun pagi" kata Anan yang dijawab anggukan oleh Nara.


Mata keluarga bahagia itu terpejam, menyelami mimpi yang akan mengantarkan orang orang menyongsong fajar yang menjadi teman setia menemani manusia manusia untuk beraktifitas seperti biasa.


***


Nara sendiri sudah sejak pukul lima pagi bersiap dan pihak MUA sudah merias wajahnya sedemikian rupa, walau terlihat natural seperti permintaan Nara tapi bukan berarti pihak perias melakukan asal asalan, karena sudah pasti pekerjaan mereka yang akan menjadi taruhannya jika sampai tidak memuaskan sang Tuan Muda.


"Mbak, jangan terlalu menor ya, aku ingin terlihat natural saja" pinta Nara.


"Baik Nona, seperti yang nona inginkan" jawab Perias.


Dan akhirnya setelah dua jam lebih berkutat dengan alat make up, riasan wajah Narapun selesai dan kini tinggal memasangkan gaun pengantinnya saja, gaun pengantin yang tempo hari sesuai dengan keinginan Nara dan lihatlah anak manusia itu kini menjelma bagai bidadari dari kayangan yang memancarkan aura kecantikan yang luar biasa berisnar membuat semua orang yang akan melihatnya akan terkagum kagum hingga enggan untuk berpalin.


"Wahhh Nona Muda sanhat cantik luar biasa, bagai bidadari kayangan Nona" kata perias dengan decakan kagum yang luar biasa.


"Ahhh Mba bisa saja" kata Nara tersipu malu mendekat pujian seperti itu.


Walau sebenarnya Nara juga mengakui perubahannya yang semakin tampak cantik tapi tetap saja rasanya dipuji berlebihan membuatnya justru tak nyaman.


"Saya bicara fakta Nona, Anda sangat bersinar padalah kalau dilihat model gaun anda sangat sederhana tapi tidak membuat kadar sinar kecantikan Nona berkurang bahkan semakin bertambah walau riasannya juga nampak natural, mungkin karena memang Anda sudah cantik dari kian" puji perias.

__ADS_1


"Terimakasih ya.."


"Sama sama Nona Muda"


Tok Tok Tok...


"Nara...kakak masuk yaa..." teriak seseorang dari luar kamar yang tak lain adalah Martha kakak iparnya.


"Masuk saja Kak, pintu tidak dikunci kok" saut Nara.


Tidak ada sahutan lagi tapi berganti dengan pintu yang terbuka membuat Nara spontan memandang kesumber suara dengan senyum manisnya.


"Wahhh... adik Kakak sangat cantik..." puji Martha dengan kagum.


"Benarkan Nona, jika Nona Nara sangat cantik walau terlihat sederhana dan riasannya juga tamapk natural?" tanya Perias meminta pendapat untuk mendukung apa yang menjadi pendapatnya.


"Kamu benar sekali dan ini semua hasilnkerjamu yang mampu membuat adikku semakin sempurna dan bersinar" jawab Martha membenarkan ucapan sang perias.


Nara semkain merona malu dengan ucapan kakak iparnya, "Kakak bisa saja, dan aku cantik karena memiliki kakak yang cantik pula" kata Nara yanh kini menggoda Martha.


"Ohh tentu sayang, kakak harus bisa menandingi kakakmu yang tampan itu, jika kakak tidak cantik mungkin kakakmu yang tampan itu tidak akan tertarik denganku" jawab Martha membanggakan diri.


"Hahahah... kakak benar sekali, itu juga pengakuan kak Lionel padaku, katanya begini 'calon kakak iparmu sangat cantik membuat Kakak jatuh cinta.." jelas Nara menirukan perkataan Lionel saat pertama kali melihat Martha.


Martha yang mendengar perkataan adik iparnya ikut tertawa, dia baru mendengar hal ini dan terntu saja merasa bangga atas pujian sang suami pada pertemuan pertama keduanya dan dia sangat bersyukur karena Lionel sudah menaruh hati sejak pertama bertemu sehingga tidak perlu mengalami nasib seperti tokoh tokoh novel yang harus menderita lebih dulu untuk mendapatkan cinta sang suami.


"Kamu sudah siap kan? kakak padahal diminta mengecek loh, tapi malah asyik bercerita padaku" gerutu Martha pada dirinya sendiri sedangkan Nara hanya tersenyum melihat tingkah kakak iparnya.


"Sudah Nona, Nona Nara sudah selesai" yang menjawab adalah perias memberitahukan pekerjaannya.


"Baiklah terimakasih ya"


"Sama sama Nona, sampai bertemu nanti sore untuk acara selanjutnya" kata perias karena memang dia lagi yang ditugaskan untuk merias Nara dalam acara resepsi pernikahan mereka.


"Baiklah, sekali lagi terimakasih" kata Nara dengan tulus.


"Sama sama Nona, ini sudah tugas kami"


"Sudah ayo kita pergi sayang, jangan sampai mempelai wanitanya terlambat" celutu Martha yang hanya bisa dijawab senyum oleh Nara.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2