
"Apa yang kau lakukan Helena? Bukankah aku sudah bilang kamu istirahat saja dulu, kamu sedang hamil besar, nanti kalau terjadi apa apa bagaimana?" Darren berkata dan mengapiri Helena.
Tidak ada sahutan dari Helena, matanya masih terfokus pada pria yang ada di depannya. Pria yang dikenalnya tanpa sengaja lima bulan yang lalu, pria yang membuatnya harus menjalani kehidupan yang seperti ini. jauh dari keluarga berjuang sendirian, bahkan saat ini dia sedang mengandung anak dari pria itu.
"Helena hei Helena! kamu mendengarkanku . " Daren la Melambaikan tangannya di hadapan Helena karena tak kunjung mendapatkan respon dari wanita cantik itu.
"Eh iy iya ada apa Darren?" tanya Helena yang tersadar.
" Ada apa dengan Kenapa kamu lama begitu? apa kau mengenal Tuan Ans?" tanya Darren yang mengalihkan pandanganya ke arah Ans.
" Tidak. aku tidak mengenalnya. " jawab Helena sedikit gugup.
" Oh, aku kira kau mengenalnya karena tuan Ans ini juga berasal dari ibu kota."
"aku tidak mengenal Daren." jawab Helena memandang ke arah lain.
" baiklah jika seperti itu. Dan kau antarkan itu ke meja tuan Ans, ayo Helen kita istrahat dulu." ajak Darren.
mata Ans tidak berpaling memperhatikan setiap gerakan dan komunikasi yang terjadi antara Daren dan Helena. lagi lagi banyak pertanyaan yang berputar-putar di pikiran Ans tentang Apa hubungan mereka bagaimana mereka bisa mengenal dan Kenapa mereka begitu akrab.
"Apa kamu kenal wanita itu?"bertanya kepada pelayan yang sedang mengalami melayani.
" Kenal Tuan dia adalah Helena, wanita yang dipekerjakan tuan Darren lima bulan yang lalu." jawab pelayan dengan sopan.
" Baiklah kamu boleh pergi. "usir Ans.
Rupanya pertemuan Ans dengan Helena membuat mood Ans jadi buruk, keinginannya untuk makan makanan yang pas di lidah menjadi hilang.
" Miko kau cari tau wanita tadi."
" Wanita yang sedang hamil itu?" miko memastikan.
" Tentu saja. Memangnya siapa lagi ha!" senrak Ans yang memang benar benar tidak baik moodnya.
" Dasar tuan ini.! coba saja kau yang jadi bawahanku pasto udah aku pites kau ini." Miko benar benar megumpat dan merutuki bosnya dalam hati.
__ADS_1
" Kau dengar tidak apa yang kukatakan Miko! " lagi lagi berkata dan sedikit berteriak di dalam ruangan itu saat Miko hanya diam saja.
" Iya tuan Saya dengar dan akan saya selidiki segera." jawab miko dan muka yang sudah masam.
"Sudah ayo kita pergi." kata Ans yang langsung melenggang pergi tanpa menunggu asistennya lagi.
Lagi-lagi orang yang menjadi asisten nya itu hanya bisa mengumpat didalam hati tanpa berani mengutarakannya secara langsung, Karena bagaimanapun dia masih membutuhkan pekerjaan itu. jika sampai dia melawan maka Habis sudah nasipnya dan keluarganya yang bergantung pada pekerjaannya ini.
" langsung antarkan saya ke rumah. saya sudah tidak mood lagi untuk kembali ke kantor." keluhan yang langsung menarik paksa dasi yang melingkar di lehernya dan melepaskan jas yang melekat di tubuhnya dengan kasar dan melemparnya asal.
Sementara itu di dalam ruang istirahat yang terdapat di restoran itu, Helena sedang melamun di tempatnya, dia memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang.
Pertemuannya dengan Ans benar benar membuat dia takut. Takut jika keluarganya dalam bahaya, takut jika Ans mencari keberadaanya. Dan sepertinya Helena harus pergi lagi dari kota ini.
Ya, Helena memutuskan akan pergi lagi dari kota itu, mengingat pembicaraan Darren rado padanya saat bertanya tentang Ans.
" Darren kenapa kau mengatakan kalau tamu kita tadi dari ibukota?" kata Helena pura pura tidak tau.
" Iya memang dia dari ibu kota." jawab Darren.
" Lalu kenaa bisa sampai disini?"
Helena sangat terkejut mendengar Lelaki itu bekerja di sini yang artinya Ans akan menetap disini, dan jika demikian lalu bagaimana dengan nasibnya kedepan, apalagi pertemuan mereja sudah terjadi, Helena tidak bisa lagi menghindar dan jalan satu satunya adalah pergi dari kota ini.
" Aku harus pergi dari sini. Aku tidak mau kalau dia menyakiti keluargaku." monolog Helena.
***
Sedangkan disana di ibukota, suasana Rumah yang di tempati Riko dan Lili masih saja tegang akibat kejadian itu, dan jujur saja Riko tidak menyuakai ini, dia sangat gusar dengan perubahan sikap Lili padanya.
Padahal dalam pikirannya jika dia sudah merenggut kehormarmatan Lili maka dia bisa dengan mudah mendapatkan wanita itu, tapi sepertinya planinggnya salah besar, bukannya takluk Lili malah seankin dingin dan semakin menjauh darinya.
" Aku tidak bisa seperti ini terus." Kata Riko frustasi saat dirinya sudah berada di dalan ruangan kantor miliknya.
Bagaimana tidak frustasi, pagi tadi saat Riko mau bicara dengan Lili, tapi Wanita itu malah mengacuhkannya ditambah wajahnya sangat dingin, tatapanya menghunus itu menurut Riko.
__ADS_1
" Aku harus bagaimana ini? ah, aku minta bantuan Ruben saja mana tau dia punya solusinya untukku." gumam Riko dan langsung mendial nomor sahabatnya.
" Kamu sibuk tidak?" tanya Riko to the point saat panggilannya di jawab oleh Ruben.
" Ada apa ha! kau menggangguku saja!" ketus Ruben dari sebrang sana.
" Ck, kau ini. Bisa tidak lembut sedijit jika bicara denganku." balas Riko tak kalah ketusnya.
" Untuk apa aku lembut padamu? kelembutanku hanyan untuk istriku."
" Aishh sudahlah, bukan itu tujuanku bicara denganmu."
" Lalu ada apa."
" Aku ingin kau memberiku solusi."
" Memangnya ada apa denganmu.?
Riko mulai bercerita hanya lewat telepon saja karena sama sama sibuk dan tidak bisa temu ramah. Kejadian yang dilakukannya hingga efek dan akibat dari perbuatannya.
" Buahahahahahaha." Ruben tertawa ngakak mendengar cerita Riko, bagaimana tidak tertawa jika ceritanya adalah Riko yang tidak bisa menaklukan Lili dan dirinya tidak berdaya sama sekali atas perbuatan Lili.
" Kau jangan menertawakanku Ruben." kata Rko masam.
" Aku tidak menertawakanmu tapi aku menertawakan nasibmu."
" Ais kau ini. Cepat katakan apa yang bisa aku lakukan.
" Kau dekati saja dia lagi, tunjukan kelembutanmu padanya, bila perlu kau buatkan kejutan untuknya, biasanya wanita akaj tersentu bila di beri kejutan dan ucapkan kata kata manis padanya."
" Apa kau yakin hal itu?"
" Kau coba dulu bodoh. Bagaimana bisa kau tqu hasilnya jika kau tidak mencobanya. Ah sudahlah aku banyak pekerjaan."
Panggilan terputus dan Riko kembali termenung di kursi kebesarannya. Oh bukan termenung tapi lebih tepatnya memikirkan cara untuk bersikap manis dan kejutan apa yang harus dia berikan untuk Lili.
__ADS_1
" Apa yang harus aku lakukan untuk bersikap manis padanya? apa aku harus mengubah cara bicaraku? atau aku panggil sayang saja kali ya? ah mana mungkin aku melakukan itu, dan mana mungkin juga dia suka dengan panggilan itu, yang ada dia akan memberiku tatapan pedang nya lagi padaku." gumam Riko bergidik sendiri.
Bersambung...