
Satu jam sudah berlalu, Rajesh beranjak dari duduknya berniat untuk melihat keadaan putra dan istrinya sedang melakukan apa saat ini, "pamit sebentar semuanya" ucapan Rajesh.
Semua menoleh mendengar perkataan pemuda tampan itu masih masih melirik jam di pergelangan tangan dan mereka paham ternyata mereka sudah menghabiskan waktu hingga satu jam lamanya pantas saja pria tampan itu sudah ingin beranjak mungkin karena ingin melihat keadaan keluarga kecilnya.
"Pergilah, lihat apa yang sedang dilakukan bocah itu bersama ibunya" ucap Clara.
Rajesh berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju kamar tidur putranya, perlahan tangannya terulur membukakan kenop pintu dan matanya melihat pemandangan yang menyejukkan hati, rupanya kedua orang tersayangnya sedang terlelap diatas ranjang dengan posisi saling berpelukan.
Senyum manis terukir di sudut bibir pria itu tidak menyangka jika akan melihat pemandangan seperti ini jika tahu kebahagiaan akan pernikahan seperti ini mungkin sudah sejak dulu Rajesh mendekati Nara cuma jadi kenalan belinya lebih cepat dari sekarang.
Tapi Kembali Rajesh berpikir jika lebih cepat bertemu dengan Nara, belum tentu gadis itu akan menjadi miliknya karena posisinya hubungan Nara dan Reyhan masih terbilang baik baik saja walau harus berhubungan jarak jauh, tapi kembali lagi mungkin memang takdir ingin mereka bersatu baru saat ini dan dengan posisi Nara yang sedang patah hati.
Perlahan Rajesh berjalan mendekati ranjang milik putranya kok malah lu menyusul merebahkan diri tetap di sisi kanan putranya, tangan yang melingkar memeluk langsung dua orang yang ada di sana entar lain istri dan putranya mengelus rambut keduanya secara bergantian lalu ikut memejamkan mata menyusul keduanya dalam alam mimpi.
Sore sudah menyambut ketiga orang yang masih nayaman dalam tidur kini mulai menggeliat terutama Nara yang tersadar jika saat ini dirinya tengah berada dirumah mertuanya dan kesannya tidak akan baik jika dirinya tidur hingga sore dan tidak melakukan apa apa minimal memasak contohnya.
Tapi saat hendak bergerak, gerakannya terhenti saat merasakan tangan keker yang dia yakini bukan milik Radith putranya tengah memeluk pingangnya dengan erat membuat Nara spontan menoleh kearah pemilik tangan dan rupanya pelakunya adalah suaminya.
Nara kembali pada posisi sebelumnya tapi matanya tidak lagi terpejam, dia sibuk menatap dua pria sebagai anak dan ayah itu, walau bukan darah daging tapi ada banyak persamaan diantara mereka mulai dari sikap, cara bicara, kesukaan dan masih banyak lagi yang sama antara keduanya membuat hubungan sebenarnya tertutupi dan sudah pasti orang orang tidak akan percaya jika seandainya mereka tau jika bukan anak dan ayah kandung.
Tapi Nara lebih menyukai hal ini, biarkan semua orang menganggap jika keduanya adalah anak dan ayah kandung agar tidak ada cibiran dimasa depan pada putra sambungnya itu.
"Kalian sangat tampan" gumam Nara.
"Kami memang sangat tampan" jawab keduanya bersamaan.
Nara tersentak kaget mendengar jawaban kompak dari pria prianya, untung saja tidak ada kelanjutan ucapan Nara tentang Radith, jika saja dia bicara lagi mungkin Radith akan mempertanyakannya.
"Ka..kalian sudah bangun?" tanya Nara gugup.
Nara gugup bukan karena apa apa, hanya Nara gugup karena merasa hampir saja bergumam yang sudah pasti akan memicu banyak pertanyaan.
"Tentu saja, buktinya kami menjawab" kata Rajesh dengan santai yang dijawab anggukan oleh Radith.
"Iya benar, tidak mungkin kami menjawabnya" timpal Radith membenarkan perkataan ayahnya yang entah kenapa kali ini sangat kompak.
"Ckck...kalian membuat Mommy kesal saja, kenapa tidk langsung bangun saja" ketus Nara.
Tubuhnya meringsut turun dari ranjang dan diikuti kedua pria itu, ikut bangun menyusul sang wanita cantik.
"Mom...?"
__ADS_1
"Ada apa Boy..?'
" Mau kemana?" tanya Rajesh.
"Aku mau bantu masak didapur" jawab Nara sembari mengeringkan wajahnya yang habis dibasuhnya.
"Loh bukannya ada bibi yang memasak?" tanya Radith tak mengerti.
"Memangnya Radith tidak ingin makan masakan Mommy?" tanya Nara.
"Tentu saja aku makan mom, jangan tanyakan hal itu lagi" jawab Radith dengan cepat.
"Iya, Daddy juga ingin makan" timpal Rajesh.
"Maka Mommy akan memasak untuk kedua prianya Mommy" ucap Nara yang disambut binar bahagian oleh Radith.
Bagaimana tidak bahagia jika inilah yang sejak dulu juga dirasakannya, ingin mencicipi maskaan seorang ibu setiap saatnya dan sepertinya satu persatu harapannya akan terwujut dan itu semua berkat Nara yang menjadi ibu sambungnya.
"Mom, aku ingin makan nasi goreng" ucap Radith merequest.
"No...! tidak baik makan nasi goreng dimalam hari, lebih baik makan yang lain saja dan nasi goreng besok pagi boleh dimakan" jelas Nara.
Radith sempat kecewa tapi mendengar ibunya mengatakan jika besok akan dimasakan nasi goreng membuat dirinya kembali bersemangat, setidaknya walau tidak malam ini tapi besok pagi bisa dicicipi dan dia akan meminta Nara membuatkan bekal juga untuknya.
"Baiklah, lebih baik bersihkan diri dan Mommy akan ke dapur" titah Nara yang langsung dilakukan oleh kedua pria itu.
"Selamat sore...." sapa Nara membuat para maid disana langsung mengangguk hormat.
"Tidak usah seperti itu, biasa saja padaku" ucap Nara yang merasa tidak enak sendiri karena dikediamannya para Maid tidak seperti ini, mereka bahkan sangat dekat dengan anggota keluarganya.
"Selamat sore Nyonyax" sapa Bibi yang dulunya bertugas untuk membersihkan apartemenr miliknya dan Rajesh.
Rupanya dia adalah salah satu pembantu kepercayaan dalam keluarga itu dan bisa dikatakan dia kepala pelayan disana.
"Bibi...."
"Iya Nona Muda, ada apa anda sampai ke dapur? jika butuh sesuatu biarkan para Maid yang membawakannya" ucap kepala pelayan.
"tidak Bi, saya ingin memasak makan malam" ucap Nara dengan lembut.
"Tapi Nyonya Muda, kami takut kena marah" sauth salah satu pelayan yang takut jika menjadi sasaran kemarahan sang majikan arogantnya itu.
__ADS_1
"Diamlah...! tidak ada yang meminta pendapatmu" tegas kepala pelayan membuat semuanya menunduk.
Nara yang melihat hal itu, menjadi berpikir mungkin peraturan keluarganya seperti ini dan memang ketegasan dalam bekerja diterapkan sangat ketat.
"Apa Tuan Muda sudah tau hal ini Nyonya Mudam" tanya kepala pelayan yang memang sudah beberapa kali bertemu dengan Nara dan sudah mengetahui seperti apa Nara sehingga berpikir untuk tidak perlu melarang tapi bertanya apakah Tuan Muda tau dan dari jawaban Nara bisa menentukan keputusan.
"Tentu, dia sudah tau jika aku akan memasak makan malam" jawab Nara.
"Silahkan Nyonya Muda, mereka bertiga akan menemani anda untuk membantu setiap keperluan yang lain" ucap kepala pelayan.
"Baiklah terimakasih" ucap Nara.
"Tidak perlu berterimakasih Nyonya, ini sudah pekerjaan kami... kalau begitu saya permisi Nyonya, saya harus melepaskan jemuran dulu" pamit kepala pelayan.
"Silahkan"
Setelah kepergian kepala pelayan, kini Nara siap untuk bertempur dengan dapur yang perdana baginya dimasuki, dan benar saja karena baru pertama kali, alhasil Nara selalu meminta bantuan para Maid yang sudah ditugaskan untuk membantunya.
"Terimakasih banyak ya, maaf sudah merepotkan kalian" ucap Nara setelah makanan selesai dimasak semuanya.
"Tidak perlu berterimakasih Nyonya, karena ini pekerjaan kami sebenarnya" ucap salah satu Miad.
"Tidak apa apa, aku hanya ingin memasarkan untuk keluargaku" ucap Nara dengan senyum ramahnya.
"Wahhh Nyonya sangat ramah ya, murah senyum lagi" ucap satunya lagi denhan berdecak kagum memuji Nara.
"Bini bisa saja, jangan terlalu memuji saja, nanti saya besar kepala" canda Nara.
"Hehehe... maaf Nyonya saya kelepasan bicara"
"Tidak masalah, saya suka jika kalian bisa menerima saya dan saya harap kalian jangan terlalu formal padaku"
"Akan kami usahakan Nyonya" jawab mereka bersamaan.
"Yasudah, aku sepertinya akan merepotkan kalian lagi, tolong ya tata dimeja makan...saya ingin membersihkan diri dulu" pinta Nara yang langsung dijawab anggukan oleh mereka bertiga.
"Terimakasih" ucap Nara kemudian berlalu pergi.
.
.
__ADS_1
Bersambung....