
"Loh Mas.... kita ketemunya di restoran?" tanya Nara.
"Iya..kami janjian disini" jawab Rajesh.
"Ohhh.."
Mereka berjalan memasuoi restoran dengan Nara yang mengait mesra lengan Rajesh sedangkan pria tampan itu tampan tangan kanannya menempelkan telapaknya tepat diatas punggung tangang Nara yang mengait lengannya.
Mereka bak pasangan pengeran dan putri yang menyusuri karpet merah menuju singgah sana, bagaimana tidak dikatakan demikian jika para waitress sudah berjejer rapi menyapa tamu keagungan mereka yang tak lain saja usut punya usut ternyata Rajesh sudah menanamkan saham yang sangat besar terhadap bisnis restoran itu sehingga saat mengatakan pada pemilik restorannya dengan segera permintaanya dipenuhi tapi walau demikian tetap saja Rahes bertingkah seperti pelanggan lainya, membayar semua jasa yang digunakan untuk surprise untuk istrinya.
"Lohhh keanap kita disambut seperti itu Mas?" tanya Nara yang merasa sangat heran dengan semua yang dilakukan para pelayam restoran itu.
"karena memang seperti itulah pelayanan mereka disini dan mungkin juga rekanku meminta hak seperti ini untuk menyambut kita" ucap Rajehs beralasan.
"Berarti ini pertemuan yang sangat formal, untung saja aki berdandan tadi" ucap Nara dengan polosnya membuat Rajesh hanya tersenyum.
"Ayo sayang"
"Selamat datang Tuan Muda....selamat datang Nona Muda" sapa para pelayan yang dipimpin oleh manager restoran.
Nara tersenyum membalas sapaan para karyawan sedangkan Rajesh masih dengan gaya coolnya hanya mengangguk kecil dan menuntun istrinya menuju tempat yang sudah disediakan.
"Mari Tuan saya antar" tawar manager yang langsi lagi hanya mendapat anggukan kecil dari Tuan Mudanya.
Dan sejujurnya itu membuat Nara sangat kesal dengan sikap suaminya yang tidak bisa membedakan antara bawahanya dengan bawahan orang lain semua disamaratakan saja dengan bawahannya yang ada di Indonesia tanpa Nara tau jika Rajesh juga merupakan pemilik dari tempat itu.
Sungguh lucu memang anak serta adik dari pembisnis nomor dua setelah Rajesh, hanya mendapatkan gelar dan naka belakang saja sementara mengetahui semua tentang bisnis Nara masih sangat awam dan inilah buktinya, harusnya Nara sudah bisa mengetahui kalau tamu tamu diperlalukan istimewa berarti hanya ada dua kemungkinan, tamu itu adalah pemilik atau pemegang saham terbesar, dan opsi kedua yaitu mungkin saja tamunya adalah tamu yang sangat spesial yang memiliki pengaruh terhadap suatu usaha tersebut.
"Istirku ini sangat lugu, tidak pantas berada di dunia bisnis karena terlalu Polos dalam urusan seperti ini, pantas saja ayah Anan tidak memaksanya untuk masuk dalam perusahaan karena dia sudah tau karakter putrinya.
"Lohh kita mau kemana Mas..?" tanya Nara setelah mereka melewati lantai satu, padahal disana masih banyak kursi dan meja yang kosong.
"Dia sudah memesan ruang VIP sayang" alasan Rajesh lagi.
__ADS_1
"Apa dia membawa istrinya? karena jika tidak aku tidak akan memiliki teman ngobrol disana" tanya Nara sekaligus menyampaikan keluhannya.
"Tentu saja, dan kamu pasti tidak akan merasa bosan disana" jawab Rajshs meyakinkan istrinya.
Sampai di tempat yang dituju, suasana gelap, sepi bahakn mata tidak dapat melihat apapun membuat Nara langsung memeluk erat lengan suaminya karena takut.
"Mas...kenapa sangat gelap? aku takut, apa jangan jangan temanmu itu mau menipu" ungkap Nara yang saat ini itulah yang terlintas dibenaknya.
Rajesh mengatupkan bibirnya, hampir saja tawanya pecah mendengar kecurigaan istrinya tapi Rajehs berusaha menahan agar tidak kelepasan dan itu akan membuat istrinya curiga sehingga akhirnya Rajehs ikut beracting.
"Tunggulah sayang, aku ambil hp dulu mau nayalain senter" ucap Rajesh dan mulai menurunkan tangan Nara tapi sedikit susah karena rupanya wanita cantik itu malah memeluk suaminya semakin erat.
"Tidak, aku tidak mau...aku takut Mas" geleng Nara karena memang benar benar merasa takut.
"Mas tidak akan kemana...tenanglah, hanya mau ambil hp disaku jas tapi tidak bisa karena kamu terus menempeliku sayang" ucap Rajesh terus berusaha melepaskan tangan istrinya.
"Baiklah, cepat ya Mas..."
"Mas... kami masih disana" ucap Nara dan tanganya mulai merana raba udara tepat dimana Rajehs tadi berdiri, tapi hasilnua nihil tidak ada ribu suaminya disana atau apapun benda disampinya membuat Nara semakin panik.
"Mas...Mas...kamu dimana? jangan tinggalkan aku" teriak Nara.
Naraasih berdiri kaku ditempatnya, kakaknya seolah berat untuk melangkah maupun mundur, ingin maju tapi tidak tau apa yang ada didepannya, ingin mundur, sudah kepalang tanggung karena dia saat ini sudah berada ditengah tengah ruangan itu pikir Nara jika dianalisa dari langkah mereka yang sedikit melangkah jauh setelah anak tangga terakhir.
"Mas....jangan becanda Mas...aku sangat takut" ucap Nara, dia semakin dirundung rasa takut.
Tapi sesat setelahya sebuah cahaya yang ada dihadapannya terlihat menampakan siluet seseorang yang berdiri tegak disana, membuat Nara kesusahn mengenali karena wajahnya tidak terlihat dan membekali cahaya.
Ingin sekali Nara mengira itu suaminya, tapi kokinya berkara bagaimana bisa suaminya sudah sampai disana dengan keadaan gelap.gulita sebelumnya, dan alhasil dari logiknya membuat Nara semakin khawatir jika itu adalah orang jahat dan hidupnya berada dalam bahaya saat ini.
"Mas....ada orang disana...Mas dimana sih..?" keluah Nara yang sudah mulai frustasi.
Satu lampu lagi menyala dan kini siluet pria itu terlihat mulai jelas, dan samar sama Nara mengetahui jika itu seperti siluet kekasihnya tapi kembali, satu lampu lagi menyala dan kini lampu itu tepat menyorot wajah suaminya dan jelas sudah jika pria yang berdiri sedikit jauh dihapannya itu adalah suaminya.
__ADS_1
"Mas..." lirih Nara.
Wanita cantik itu mencoba merdamkan degupan jantungnya, menormalkan kembali pompaan jantungnya yang sempat maratonan setelah melihat jika orang yang ada dihadapannya adalah orang yang sangat dikenalinya.
Pria tampan yang bertubuh tegap itu melangkah pelan tapi pasti menuju sang istri yang masih tidak bisa menyembunyikan ketakutannya diwajahnya.
"Sayang...." sapa Rajehs dengan senyum yang sangat manis ditunjukan pada istirnya.
"Mas....!" lirih Nara.
Rajehs memberikan buket bunga yang disembunyikan dibalik punggungnya, bunga kesukaan Nara yang memang diketahui Rajesh..
Nara mengambil buket bunga yang diberikan Rajesh lalu mencium dan menghirup aromanya dengan salam, merasakan wangi yang membuat Nara tenang dan perlahan jantungnya kini kembali normal.
"Terimakasih Mas..." ucap Nara.
Rajesh tidak menjawab tapi tanganya terulur sebagai tanda dirinya meminta agar istrinya meraih sambutan tangannya.
Nara yang mengerti itu tanpa bicara langsung mengiyakan, mengulurkan tangannya dan mengikuti langkah Rajesh hingga berhenti tepat depan meja makan yang dihiasi bunga mawar berbentuk love dan lilin kecil dan satu yang besar berada ditengah meja bundar itu.
Nara menutup mulutnya karena merasa terharu dengan apa yang dilakukan Rajesh, memont makan malam lantai teratas restoran dengan dikeliling alat musik serta pemainnya, ditambah lagi sinar rembulan yang didukung angin malam yang tidak terlalu kencang dan menusuk tulang menambah kesan romantis malam itu.
"Mas....ini...?" Nara tidak bisa berkata lagi karena terlalu bahagia.
"Ini semua untukmu, untuk kamu yang sudah mau menjadi istriku, menemaniku dan mau menerima segala kekuranganku, mau terpenjara dengan sikap pissesifku...mungkin semua yang aku siapkan tidaklah seberap dengan kebahagiaan yang sudah kamu berikan untukku, terimakasih...terimakasih karena sudah mau hidup denganku" ucap Rajesh penuh ketulusan.
Nara meneteskan air matanya, air mata bahagia karena pria yang terkenal dingin itu kini mampu menyentuh lautan hatinya yang paling terdalam dengan semua yang dilakukannya, semua ucapannya yang terdengar sederhana tapi begitu indah mengalun dipendengaran wanita cantik itu.
.
.
Bersambung...
__ADS_1