Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
kemana Istriku


__ADS_3

Ceklek.....


Pintu rumah itu terbuka dan menampakan seorang wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik dan muda.


" Nak Ruben." ucap Bunda terkejut.


" Bu..Bunda." ucap Ruben gugup menyalami dan menciun punggung tangan bunda


" Ada apa nak.? kenapa kamu bisa disini.? ayo mari masuk dulu." ajak bunda masuk kedalam yang diikuti oleh Ruben,sedangkan Ans hanya menunggu didalam mobil saja.


" Duduk lah nak, bunda panggil ayah sebentar." kata bunda dan berlalu pergi sedangkan Ruben hanya pasrah mengikuti kata mertuanya.


Tak berapa lama keduan pasangan suami istri itu kembalu muncul menemui sang tamu yang ada yang tak lain adalah menantu mereka sendiri.


Ruben yang melihat kedantangan ayah mertunya langsung beranjak berdiri dari duduknya dan hendak menyalami ayah mertuanya tapi tidak ada respon dari lawannya, bahkan yang didaptkan hanya tatapan tajam dari ayah.


Ruben tau kalau saat ini ayah mertuanya itu sedang marah padanya, dan ia tidak masalah akan hal itu. Karna mang dari awal dia yang salah, dia yang sudab menyakiti perasaan istrinya dengan gugatan cerai hanya karna pendapat dan analisanya sendiri tanpa mauencari tau kebenaran yang terjadi.


Melihat hal itu bunda pun menegur sang suami.


" Ayah, menantu kita itu." tegur bunda mencolek lengan suaminya dan tatapannya sudah nyalang memandang.


Melihat pelototan dari san istri itu hanya bisa mendesah pelan, karna ia tau istrinya bisa marah kalau ia tidak merespon sang menantu yang katanya menantu kesayangan bunda. Dengan berat hati ayahpun mengulurkan tangannya untuk di salami oleh Ruben.


" Silahkan duduk nak Ruben." ucap Bunda untuk memecah kecanggungan di antara mereka.

__ADS_1


" ah,, iya. trimakasih bunda." jawab Ruben dan langsung duduk ditempatnya semula dan ayah juga duduk di sofa tepat didepab Ruben.


Glekk...


Ruben nampaknya kesusahan menelan ludahnya sendiri saat tak sengaja matanya beradu pandang dengan mertuanya.


Ruben yakin kalau saja saat ini Ayah mertuanya tidak sedang berada dirumah dan bunda pun tidak ada dirumah, pasti saat ini ruben sudah menerima pukulan dari sang ayh mertua.


" Ruben ngobrol dulu dengan ayah, bunda mau buatkan minuman dulu." ucap bunda


" Tidak perlu repot bunda." jawab Ruben untum menghilangakn ketegangan hatinya saat ini.


" Tidak apa apa nak. Kamu ngobrol dwngan ayah dulu ya." jawab bunda seraya pergi meninggalkan mertua dan menantu itu.


Setelah kepergian bunda, keheningan dan ketegangan kembali terasa, hawa tiba tiba saja mencekam diri dan itu hanya di rasakan oleh Ruben.


" em..ak..aku aku mau menjemput Santi yah." jawab Ruben gugup.


" Untuk apa.?"


" ya,,untuk membawanya pulang kerumah bersamaku ayah."


" Bukankah kalian sudah bercerai.?"


" Tidak. Tidak ayah, kami tidak bercerai." jawab Ruben cepat.

__ADS_1


" kalau tidak.? lalu kenapa putriku kembali kesini." tanya ayah dengan sorot mata yang mulai memancarkan amarah


" Maaf yah. Tolong maafkan saya. Sungguh saya minta maaf untuk tindakan saya. Aku begitu bodoh dalam mengartikan sikapnya dan,, dan aku terlalu buta melihat ketulusannya selama ini." tutur Ruben dengan sorot mata penuh penyesalan.


" Selama ini aku hanya menuruti apa yang aku lihat tanpa berusaha mencari tau kebenarannya. Aku. Aku berpikir kalau Santi masih mencintai kekasihnya itu dan bersikap baik padaku itu karna disuruh bunda saja." lanjut Ruben menjelakan semua alasannya.


" Apa maksudmu nak.? kali ini bukan ayah yang bertanya, melainka bunda yang baru saja kembali dari dapur dan tak sengaja mendengar penuturan menantunya.


" begini bunda, sebenarnya." Ruben mulai menceritakan apa yang selama ini ia lihat dan yang rasakan. Mulai dari awal mereka menikah, Santi yang selalu diam diam menangis didepan figuran Rio, percakapan Istrinya bersama bunda kala itu, hingga kedekatan Santi besama Jovan yang berujung gugatan cerai itu.


" Astaga..Ya Tuhan. Selama itu kah kesalapahaman di antara kalian, dan apa tadi kamu bilang.? Santi dekat denga laki laki yang bernama Jovan Ikandar." tanta bunda dengan nada tak percaya.


" Iy bunda. Aku minta maaf bun, yah. Aku tidak bermaksud menyakiti Santi. Aku hanya tidak tau apa yang harus ku lakukan dan jujur aku terbakar cemburu melihat dia bersama pria lain." tutur Ruben dengan nada memelas.


" Sudahlah tidak perlu merasa bersalah nak, yang lalu biarlah berlalu dan berusahalah untuk memperbaikinya." tutu Bunda lembut.


" Bunda.!" sergah Ayah yang tidak terima dengan kepusan Istrinya.


Sedangkan bunda hanya menggelang pelan dan matanya melotot melihat suaminya dan seketika Ayah kembali diam.


Dan hal itu sontak saja hampir membuat tawa Ruben meledak jika tidak melihat tatapan mertuanya yang melototinya.


" Tapi Santi tidak ada di sini nak." ungkap bunda yang membuat seketika tawanya tergantikan dengan wajah muram saat mendegar ucapan bundanya.


" Istriku kemana bun."?" tanga Ruben.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2