Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Seasin Dua Kecelakaan


__ADS_3

"Karena aku bisa menangani masalhanya sendiri jadi aku tidak memberitahukan padamu, lagi pula jika aku tidak bisa melakukannya maka aku pasti akan kembali mengajukan kerja sama padamu walau aku tidak tau apa kau akan menerima pengajuanku atau tidak jika aku melihat laporan perusahaanku" jawab Riko memberi penjelasan.


"Memangnya apa yang tidak aku tau tengan masalahmi Riko dan apa ini semua ulah Janeth?" tanya Ruben.


Riko menarik napasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia mulai menceritakan semua, "sebenarnya......"


"Jadi dia nekat berbuat seperti itu hanya untuk membalasmu?" tanya Ruben tak percaya.


"Ya, aku pun tidak percaya jika dia sampai


melakukan itu," jawab Riko dengan desahan beratnya, "dia sangat sakit hati tapi apa yang bisa aku lakukan Ben? jika orangku ingin yang terbaik untukku" ucap Riko.


"Kau menyesal?"


"Tentu saja tidak, justru aku akan lebih menyesal lagi jika aku mempertahankan perak dan membiarkan berlian asli di ambil orang lain" jawab Riko dengan senyum mirisnya mengingat kebodohannya yang dulu terus menolak perjodohan itu, walau akhirnya tetap ia menikah juga kerena ancaman orang tuanya.


"Ku pikir kau menyesalinya"


"Jadi kau mencurigainya?" tanya Ruben yang kembali pada poko permasalahan.


"Ya, karena aku yakin ayahnya pasti memutus semua akses biaya kelakuannya"


"Dan dia meminta bantuan pria hudung belng untuk membantunya?" tebak Riko.


"Kurasa kau sudah tau itu" jawab Riko.


"Ck, aku tidak menyangka kau bisa jayuh cinta sama wanita seperti itu" decak Ruben dengan kepala menggeleng tak percaya.


"Jangan lupakan jika kau juga sama sepertiku mencintai seorang jalang" ejek Riko yang membuat Ruben bungkam, sedangkan Riko tersenyun puas karena berhasil membalas Ruben.


"Sudahlah, lebih baik kau cari tau lebih lanjut jangan mengambil langkah gegabah bisa saja ada orang lain yang mengambil kesempatan itu untuk menghancurkanmu dan kau menuduh orang yang salah, dan lebih baik kau terus perketat penjagaan untuk istrimu lebih dulu" ucap Ruben panjanh lebar.


Riko pun memutuskan untuk kembali ke ruamh, setelah percakapannya dengan Ruben usai, dan sampai di rumah dia langsung menuji kamar tempat istrinya berada, memastikan keadaan istrinya baik baik saja.


****

__ADS_1


Tiga hari kemudian, Ans, dan Helena masih berada di ibu kota, setelah pertemuan para pimpinan cabanga perusahaan selesai yang berlangsung selama dua hari full dan kini masub lari ke tiga mereka di sana dan rencana Ans ingin melakukan kegiatan berpacaran dengan Helena, seperti anak remaja lainnya dan dia ingin mencoba hal itu bersama Helena.


"Bunda, kita pergi jalan hari ini ya" ucap Ans di sela sela kegiatan Helena menyusui Jennifer.


Helena mengerutkan keningnya mendengar perkataan suaminya, tidak biasanya suaminya berkata atau mengusulkan sesuatu yang hanya mengahabiskan waktu.


"Ayah tidak sakit?" tanya Helena.


Ans memberengut kesal mendapati respon istrinya yang malah menanyakan kesehatannya, dia memasang wajah masamnya dan menjawab pertanyaan istrinya "demam" jawab Ans asal.


Sementara Helen khawatir mendengar jawaban suaminya yanh ternyata deman, dengan pelan Helena melepaskan dirinya dan menuju suaminya mengecek suhu tubub Ans dengan tangan yang ia tempelkan di kening Ans, sementara pria semakin kesal mendapati istrinya yang malah menganggap itu serius.


"Ck, jangan pegang pegang!" ketus Ans menyingkirkan tangan Helena dengan sedikit kasar.


"Ayah kenapa malah marah? kan bunda mau ceha suhu tubih ayah loh?" tanya Helena yang semakin tidak mengerti.


Ans gas sendiri, tangannya mencubit pipi istrinya dengan gemas, "ayah tidak sakit bundaaaa"


"Tapi ayah bilang demam"


"Tapi memang benar kan tumben ayah ngajak jalan, tidak biasanya"


"Ayah ingin menghabiskan waktu berdua dengan bunda karena selama dua bulan waktu bunda bersa ayah di sabotase oleh putri kita sehingga ayah merasa tersingkir" jawab Ans dengan wajah yang di buat sesedih mungkin.


"Ayah cemburu?"


"Tidak"


"Lalu?"


"Ayah berduaan dengan bunda titik!" tegas Ans.


"Tapi putri kita bagaimana yah, siapa yang akan menjaga dan bagaimana jika di butuh susu?"


"Nyetok" hawab Ans.

__ADS_1


"Baiklah tapi jangan sampai satu hari, takut Jenn tidak tenang" ucap Helena akhirnya mengalah.


"Ok sayang"


Helena langsung melakukan apa yang di katakan suaminya, menyetok asi untuk putrinya beberapa botol, agar nanti jika di perlukan maka tinggal di panaskan sana sebentar cukup hangat hangat saja, sementara Ans langunv melesat pergi ke kamar mandi yang terdapat di dalam kamar merena setelah dulu Ans merombaknya.


Sementar Riko belum juga menemukan tanda tanda Janeth yang akan kembali menerornya, semua kebali seperti sebelumnya normal dan tidak ada yang mecurigakan, begitu juga dengan Lili yang sudah mulai bersikap biasa saja, tidak ada raut ketakutan apa lagi kahawatir karena mendengar perkataan Riko yang hanya sebuah kebetulan kejadian itu.


Namun justru saat ini mereka gelisah karena sejal tadi pagi Lili tidak merasakan tanda tanda mengalami kontraksi untuk melahirkan dan itu membuat Riko dan Lili bertanya tanya, dan bukan hanya mereka saja, kedua orang tua mereka pun ikut merasa gelisah mengapa tidak sesuai dengan prediksi dokter.


"Sayang kamu tidak merasa kontraksi?" tanya Riko yanh sudah keberapa kali, tapi selalu di jawab gelengan oleh wanita itu.


Riko mendesah frustasi dan mengusap wajahnya dengan kasar, "kita tunggu satu sampai sampai siang, dan jika tidak ada tanda tanda, maka kita langsung ke rumah sakit" ucap Riko yang di jawab anggukan oleh Lili.


Mereka semua berkumpul di ruang tengah menunggu reaksi Lili apakah akan kontrkasi atau tidak, mereka seperti menunggu sinetron kesayangan mereka saja tidak sabar sampai pada jam tayangnya.


"Sayang belum lagi?" tanya Riko lagi dan lagi Lili menjawab dengan gelengan.


Lagi lagi Riko mengusap wajahnya "ayo kita jalan jalan sebentar di sini bolak balik di sisni, mungkin dengan begitu kontraksimu akan ada, kamu ingatkan kata dokter kemarin?" tanya Riko yang di jawab anggukan oleh Lili.


Mereka mulai berjalan mengujir luasnya ruang tengah milik mereka, dan sesekali Lili akan berhenti jika lelah tali dia tidak pantang menyerah terus berjalan jalan hingga kontraksi datang.


Tapi satunjam sudah dia berjalan di dalam ruangan tapi tidak membuahkan hasil, keadaanya masih sama tidak merasakan mulas sedikitpun.


"Sayang kita kerumah sakit saja sekarang" ajak Riko dan langsung memapah Lili berjalan keluar menuju mobil mereka, dengan segera Riko melajukan mobilnya dengan kecepatan di bawaha rata rata, karena tidak mau membuat istrinya merasa tidak nyaman dan selain itu dia tidak mau membahayakan bayi mereka.


Sampai di pertigaan, mobil berhenti karena lampu merah dan tak lama setelah itu mobil Riko kembali melaju tapi tanpa di duga sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melanju dari arah kiri dan Riko yang melihat itu langsung membanting setir kemudi untuk mengelak tapi dari arah yang berlawan pula sebuah truk juga melaju dengan kecepatan tinggi.


Riko masih berusaha untuk mencari keselamatan tapi naas truk sudah lebih dulu menabrak bodi mobil dan....


Brakkk......


"Aakhhhhhh......."


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2