
Usai makan siang, pasangan itu langsung memutuskan untuk pulang ke Mension Fernandese karena besok harus berangkat ke Hawai seperti rencana yang sudah disiapakan Rajesh, dan mungkin setelah kembali dari sana Rajesh berniat untuk memboyong Nara dan Radith tinggal di Mension sendiri, Mension yang memang sudah disediakan Rajesh untuk dia teinggali bersama keluarganya yang sudah disediakan jauh jauh hari saat pertama kali melihat Nara Satu tahun yang lalu.
Rajehs duduk diliris penumpang bagian belakang bersama istrinya karena saat ini sudah ada sopir yang memang sejak tadi menunggu majikannya keluar dari Hotel.
Dan sepanjang perjalanan tidak sekalipun Rajesh beranjak bareng sejengkal saja dari sisi istrinya, tubuhnya benar benra merapat dengan Tubuh Nara, merangkul mesra istrinya walaupun sebenarnya wanita cantik itu merasa sangat malu karena ada supir, tapi dia hanya bisa pasrah akan sikap suaminya karena percuma juga jika menegur, karena Rajesh akan ada saja alasan untuk menyanggah dan akhirya pra tampan itulah yang akan memenangkan perdebatan.
Sampai di Mension keluarga Fernandese sudah menyambut karena tadi sebelum berangkat Rajehs sudah memberi kabar pada keluarganya dan kini mereka sudah berada di depan pintu utama termasuk Lilvie adik Heru dan keluarganya.
Tak ketinggalan Radith yang sangat antusias menyambut kedatanga wanita yang sangat diharapakan jadi ibu sambungnya sejak dulu dan kini sudah terwujud membuat Radith bahagia tiada terkira.
"Mommy.....!" teriak Radith setelah mobil yang menampung orang tuanya berhenti sempurna di depan pintu utama, sepertinya Rajesh sengaja melakukan hal itu agar istrinya tidak berjalan terlalu jauh mengingat kondisi Nara yang sedang tidak enak dibagian sensitivenya.
"Haii sayang...." sapa Nara dan merentangkan kedua tangannya agar Radith masuk dalam pelukannya.
Radith yang mengerti hal itu langsung saja berlari dan memeluk Nara, "Mommy...kenapa baru datang?" tanya Radith dengan sedikit kesal karena tidak pulang bersama orang tuanya.
"Maaf sayang, Mommy bangun kesiangan" jawab Nara tidak enak hati karena merasa mengabaikan Radith.
"Baiklah kali ini aku maafkan" kata Radith dengan gaya sok coolnya membuat Nara mengacak rambut bocah itu dengan gemas.
"Apa kau tidak mau Mommymu masuk Boy?" tanya Heru membuat Radith spontan menoleh dan melihat kearah kakeknya.
"Tentu saja tapi aku harus memluknya terlebih dahulu sebelum Nenek dan yang lainnya" jawab Radith membuat semua orang yang ada disana terbahak tak terkecuali Nara dan Rajesh yang merasa sangat lucu akan jawaban bocah tampan itu.
Ternyata otak licik dan penuh dengan eegala perhitungan menurun padanya terbukti fair jawabnnnya yang sudah memprediksikan kemungkinan yang akan terjadi.
"Keturunan Fernandese memang penuh dengan perhitungan" celutuk Heru yang di jawab anggukan oleh Darren suami Silvie.
"Benar kakak, bahkan istri dan anakku saja penuh dengan perhitungan apalagi jika menyangkut uang bulanan" timpalnya.
Semua orang kembali terbahak mendengar perkataan Darren, karena memang benar adanya kedua gadis yang sialnya adalah istri dan putrinya selalu jeli dalam menghitung uang bulanan khusus untuk keperluan belanja pribadi.
"Ayo masuk dulu" ajak Clara pada menantunya.
Nara mengangguk lalu berjalan dengan di gandeng oleh dua prianya yang berbeda generasi, diapit sisi kiri dan kanan membuat Naea berasa seperti tuan putri yang di kawal oleh pengawal.
"Berasa Putri raja diapit kedua pria tampan hihihi" batin Nara terkikis geli memikirkan pikiran konyolnya.
__ADS_1
"Selamat menempuh hidup baru sayang, dan selamat datang di keluarga kami, menjadi bagian penting dari kami" ucap Clara seraya memeluk tubuh menantunya.
"Terimakasih Mah...semoga aku bisa menjadi menantu yang baik untuk kalian" kata Nara sungguh sungguh.
"Tidak perlu menjadi orang lain agar dianggap baik, cukup tunjukan dirimu sebenarnya itu saja sudah cukup untuk kami" jawab Clara memberi pengertian terhadap ucapan menantunya.
"Baiklah, sekali lagi terimakasih Mah" ucap Nara.
"Sama sama sayang"
"Selamat untukmu ya cantikk...selamat datang di keluarga besar kami" kata Silvie gantian memeluk menantunya.
"Terimakasih Tante"
"Sama sama sayang, jika kamu suka belanja kapan kapan kita belanja bersama, kita habiskan uang para suami kita" kata Silvie yang langsung disanggah oleh Rajesh.
"Istriku tidak seperti itu Tante, dia tidak gila rebgan barang barang mewah" kata Rajehs dengan suara dinginnnya.
"Aish kau ini ya... masih saja dingin paahal sudah ada yang menghangatkan" goda Silvie membuat Nara bersemu merah.
"Janga ucapanmu Mah...!" tegur Darren memhuat Silvie mencebikkan bibirnya tidak suka"
"Terimakasih Om"
"Selamat datang nak, semoga kamu betah dengan keadaan keluarga baruku" kata Heru setelah Nara mencium punggung tangannya dengan sopan.
"Terimakasih Pah sudah mau menerimaku"
"Tentu saja, kamu adalah pilihan kami, berati apapun itu kami harus menerimanya dan Papa yakin kau wanita yang tepat untuk si Arogant itu" ucap Heru membuat Nara tersenyum mendengar sebutan suaminya si arogant.
"Ayo Masuk," ajak Clara.
"Rajesh, bawalah istrimu istrhat mungkin masih kelelahan" Titian Heru yang langsung dijawab anggukan oleh Rajesh tapi Radith melakukan unjuk rasa, protes akan hal itu
"Kenapa Kakek menyuruh Mommy untuk istrahat, bahkan Mommy belum tau kamarku dimana" cebik Radith, "dan lagi sudah dari kemarin Mommy bersama dengan Daddy, lalu kenapa sekarang dengan Daddy lagi" lanjutnya.
Rajehs melongo mendengar putranya protes, sedangkan orang orang paru baya itu hanya geleng kepala, berbeda dengan Nara yang tersenyum geli dengan aksi protes anak sambungnya
__ADS_1
"Mas... boleh aku bersama Radith sebentar?" tanya Nara.
Rajesh sebenarnya keberatan tapi demi sang istri dan lagi mengingat mereka yang akan pergi dua Minggu kedepan menjadi ikhlas membagi waktu istrinya untuk Radith.
"Baiklah temani anak itu"
"Anak kita, jangan lupa itu Mas" ucap Nara penuh penekanan, karena tidak suka dengan sebutan Rajesh untuk Radith.
Mendengar istrinya protes membuat Rejash tersenyum, dia bahagia karena gadis pilihannya mampu menerima Radith selayaknya anak sendiri seperti dirinya yang sudah sejak kecil menyayangi Radith penuh kasih.
"Ya anak kita" ralat Rajesh setelah mendapat teguran dari istrinya.
"Boy..kau mau menunjukan kamarmu pada Mommy?" tanya Nara membuat Radith merespon cepat.
"Tentu saja, apa Mommy mau melihatnya?" tanya Radith dengan antusias.
"Tentu saja jika kamu tidak keberatan" kata Nara.
"Mana mungkin aku keberatan Mom, aku justru sangat senang" saut Radith dan langsung menuntun Nara pergi menuju kamar.
"Saya permisi sebentar ya...." pamit Nara sebelum akhirnya ikut melangkah menyusul Radith.
"Dasar bocah itu, sebegitu bahagianya memiliki Ibu" kata Heru setelah tingga mereka saha yang ada disana termasuk Rajesh yang akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan para tetua.
"Tentu saja dia bahagai karena semua yang dia rencanakan akan segera terkabul" ucap Clara, "putramu saja yang membuang waktu begitu lama" sinis Clara dengan mata yang melirik kearah Rajesh.
Pria tampan yang kini menjadi sasaran kesalahan menghela napasnya dengan dalam, bukan tidak mau tapi entah kenapa tidak ada satu wanita pun yang dulu mampu meraih hatinya dalak sekali pertemuan saja seperti Nara dan lagi dia tidak ingin salah dalam mengambil dan memilih istri karena ini menyangkut kebahagiaan putranya, ditambah lagi jika saja mungkin Rajesh menikah dengan cepat berarti Nara tidak akan menjadi istrinya kini.
"Tapi jika tidak begitu mungkin aku tidak akan menikah dengan Nara dan belum tentu Radith menyukainya sepeti dia menyukai Nara" tutur Rajesh memberi alasan yang masuk akal.
"Iya kamu benar juga, belum tentu mereka seperti Nara pilihan Mama" saut Clara membenarkan perkataan Rajesh.
"Iya Kaka, bisa jadi gadis itu malah hanya ingin menumpang kenyamanan dan kekayaan saja" timpal Silvie.
"Iya betul" respon Yerin yang kini suasana sudah berubah menjadi sesi gosip membuat para lelaki hanya menghela napasnya dalam.
.
__ADS_1
.
Bersambung...