
Setelah berpamitan dan ritual cium mencium yang tidak ada malu malunya Riko pun berangkat pergi menuju kantornya untuk urusan mendesak.
"Bagaimana kandungau sayang?" tanya Bunda setelah kepergian Riko.
"Baik ma, hanya saja di awal awal aku merasa kualahan mah!" keluah Lili.
"Kenapa.?
"Karena aku harus mengurus diriku dan suamiku yang tiba tiba ingin serba di urus keperluannya"
"Maksudmu kau melayaninya dalam kondisi hamil begini!" pekik mama.
Mama yang tidak menyangka jika apa yang dialaminya dulu ternyata di alami oleh menantunya, sungguh buah memang tidak jauh jatuh dari pohonnya.
Sementara papa langsung tergelak mendengar cerita nenantunya, dia tidak jauh berbeda dari istrinya yang juga mengingat dirinya waktu muda.
"Kenapa papa tertawa?"
Lili menyergit tak mengerti karena memang dia tidak tau apa apa "bagaiama papamu tidak tertawa, kalau dia juga dulu seperti itu kok" celutuk Mama yang membuat papa semakin tergelak dalam tawanya.
"Jangan bilang ini menurun dari papa?" tebak Lili.
"Tentu saja" jawab mereka bersamaan.
Lili melongon mendengar kekompakan kedua mertuanya, baru kali ini dia melihat mereka berdua bisa kompak seperti ini dan lagi ini masalah kekonyolan mereka di masa muda.
"Mertua somplak" batin Lili.
Lili kembali menggeleng saat melihat kini kedua mertuanya saling berdebat, saling mengejek dan saling ujung ujungnya saling tertawa.
"Ma, Pah, aku ke dapur mau buat cemilan dulu" pamit Lili yang tidak ingin jadi nyamuk diantara kemesraan mertuanya.
"Eh mama mau ikut!" pekik mama yang langsung berdiri dan menyusul menantunya.
"Mereka sibuk dengan kegiatan mereka, sementara sedangkan Riko juga sibuk dengan pekerjaanya dengan berkas berkas yang ada di hadapannya.
Sementara di Bandara IbuKota, seorang wanita cantik berjalan dengan gaya modelnya, kacamata yang bertengger indah di hidungnya, menggerek kopernya dengan gaya khas orang kaya.
"Akhirnya, aku bisa tiba disini, menemui cintaku yang sudah lama pergi karena di renggut paksa dariku" gumamnya dengan pelan tapi penuh amarah dan penekanan dalam setiap katanya.
"Selama siang nona Janeth?" sapa seseorang.
Janeth adalah gadis berambut pirang berdarah campuran, dia adalah mantan kekasih yang dulu mengisi hati seorang Riko selama lima tahun, tapi hubungan itu kandas sejak satu tahun yang lalu karena penolakan orang tua Riko yang tidak ingin menantu berdarah campuran.
Itulah alasan mengapa Janeth berpisah dari Rilo sementara mereka berdua salinge mencintai dan bahkan sempat berencana untuk menikah.
__ADS_1
"Ya saya, apa kau anita?" tanya Janeth dengan gaya angkuhnya.
"Benar! mari saya kita segera menuju apertementmu" ajak Anita.
Janeth langsung pergi meninggalkan Anita beserta kopernya untuk du bawakan oleh bawahannya itu "dasar wanita tidak punya sopan santu" umpat Anita dengan tangan mengayun di udara ingin memukul Janeth.
Janeth sudah dalan perjalanan menuji aparetement dan sepanjang perjalanan dia terus memikirkan Riko, dia sangat tidak sabar ingin bertemu dan dia sangat meyakini dirinya jika Riko pun akan senang bertemu dengannya dan menurutnya Riko pasti masih sangat mencintai dirinya tanap tau jika keadaan kini sudah berubah.
"Cari tau tentang kekasihku An dan kabari aku secepatnya!" titah Janeth.
"Untuk apa aku mencari tau tentang kekasihmu? bukankah kau pasti tau tentang dia"
"Jangan banyak bertanya jika kau masih ingin bekerja denganku, dan kau ikuti saja peribtahku! cari tau apa saja tentang dia selana setahun terakhir!"
"Baiklah" jawab Anita yang tidak lagi mau membahasa apapun "untung kau adalah bosku dan aku masih membutuhkan pekerjaan ini, jika tidak maka sudah ku koyak mulut pedasmu itu!" batin Anitas kesal.
Sampai di tempatnya, Janeth langsung beristrahat sejenak karena memang sudah di bersihkan apartementnya jauh sebelum dirinya datang.
Sementara Anita langsung mengerjakan apa yang di perintahkan Janenth "gila..ini benar benar gila, bagaimana seorang yang sudah beristri di katakan kekasih oleh Janeth" gumam Anita yang kini sudah menemukan informasi tentang Riko.
"Apa dia tidak laku lagi sehingga ingin merebut suami orang lain! dasar pelakor!" geram Anita.
Walai dia bekerja dengan Janeth tapi bukan berarti dia akan mendukung sikap seorang pelakor, karena dalam kamusnya tidak pernah boleh ada pelakor.
"Ini informasi yang adan minta"
Janeth mengambil tanpa berucap apa pun, dia kembali masuk dan menutup pintu dengan sedikit kasar membuat Anita kembali mengumpati dirinya.
Taka lama setelah pintu di tutup, Janeth kembali keluar dengam pakaian yang sudah berbeda, satu tas yang di tenteng dengan highls yang tinggi membuat dirinya yang sudah tinggi menjadi lebih tinggi lagi.
"Aku akan ke luar! dan kau yang harus jadi sopirku, aku belum mengetahui seluk beluk disini"
Janeth menyebutkan alamatnya dan Anita sedikit terkejut karena itu adalah alamat pira yang dia cari informasi barusan, yang artinya bosnya ini akan menemui Riko.
Sampai di sana, rupanya keadaan tidak memihak pada Janeth karena waktu sudah menujukan jam pulang kantor yang otomatis Rikp pun sudah kembali dan dia memang sudah kembali.
"Maaf, saya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini" ucap Janeth tapi dengan mimik angkuh.
"Maa nona, Tuan Riko sudah pergi dan jika pun belum maka anda tidak bisa menemuinya jika tidak membuat janji terlebih dahulu".
"Ck, apa kay tidak tau siapa aku! aku kekasih bosmu dan jika aku mengadukannmu maka kau bisa kehilangan pekerjaanmu!" bentaknya.
"Bukankah Tuan Riko sudah menikah jadi mana mungkin kau kekasih Tuan Riko" ejek satpam itu.
"Kau!" bentak Janeth.
__ADS_1
"Nona, lebih baik kita pergi, tidak ada untungnya jika anda berdebat dengan orang yang tidak selevel dengan anda"
Janeth mengikuti perkataan bawahannya dan kini tujuannya adalag Kediaman Riko, dia akan mendatangi pria itu di sana walau istri Riko ada disana sekalipun dan dia tidak peduli.
Sementara Riko saat ini sudah sampai di rumah, senyumnya terbit mana kala melihat Istrinya yang sudah menyambut dirinya di depan pintu, dab benar benar mampur menghilangkan lelas seorang Riko.
"Sayang.." serunya.
"Kau sudah pulang?"
Lili menciup punggung tangan Riko yang dibalas kecupan kening pipi dan berakhor di bibi wanita itu "kemana Mama dan Papa?" tanya Riko yang tidak menemukan kedua orang tuanya.
"Sedang berispa siap dan kau bersiaplah juga karena kita akan menemui rekan bisinis papa dan katanya dia ingin kita ikut makan bersama"
Riko menyerngite mndengar penuturan istrinya, dia baru tau kalau akan ada acara seperti ini "kenapa mendadak?"
"Tidak mendadak, dan ini alasan kami datang kemari untuk memenuhi undangan darinya" saut Papa yang baru keluar dari kamar.
"Lebih baik kau bersiap jangan sampai memberi kesan buruk untuk rekan papa dan kau tau kemungkinan dia ibgin bekerja sama, makanya mengundangmu juga istrimu ikut" timpal Mama.
"Baiklah, aku bersiap dulu"
Riko bersiap menuju kamarnya dan Lili membatu dia bersiap agar tidak terlambat, dan tigapuluh menit kemudian mereka sudah bersiap untuk berangkan dengan Riko sebagai pengemudi.
Mobil mereka keluar dari halama rumah dan tidak lama kemudian sebuah mobil baru saja berhenti tepat di depan gerbang kediaman Riko.
"Permisi apa ini kediaman tuan Riko?" tanya Anita.
"Iya betul, ada apa mencari majikan saya?"
"Nona Janeth ingin menemui dirinya, belia adalah teman kuliah tuan Riko dulu"
"Ohh, tapi maaf tuan Riko dan yang lainnya sedang keluar" jawab Satpan di rumah itu.
"Mereka maksudnya bukan hanya Riko yang keluar?"
"Benar nona, mereka itu berasama tuan dan nyonya besar"
"Tuan dan keluarga sedang keluar beberapa waktu yang lalu"
"Sia**n! aku terlambat lagi!" umpat Janeth.
Bersambung....
Hehehe maaf ya sepertinya konflik mau datang lagiππββ
__ADS_1