Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Mau Menjemput


__ADS_3

Istriku kemana bun.? kenapa tidak ada disini.? info yang saya dengar kalau Santi kembali kesini. Lalu kenapa bunda berkata dia tidak ada.?" tanya Ruben beruntun.


Ayah hanya berdecak mendengar rentetan pertanyaan dari menantunya itu.


" hei.! kau terlalu banyak bertanya ya." ketus Ayah.


" Ayah.!" tegur bunda tegas. " memang Santi kembali kesini tapi baru saja tadi pagi pagi buta ia pergi lagi. Katanya ia mau menenangkan pikirannya sejenak." sambung bunda menjawab pertanyaan menantunya.


Ruben mengusap wajahnya kasar, berkali kali mengehebumbuskan napasnya dengan berat. ia tidak menyangka kalau akan terlambat menemui istrinya. Andai semalam ia berangkat pasti saat ini sudah bersama istrinya.


" kemana bun.? kemana istriku pergi biar aku menjemputnya." tanya Ruben lagi.


" ke kota B." kali ini ayah yang menjawab saat ia melihat raut wajah frustasi dari menantunya. Sebenarnya ia ingin sekali membuat Ruben kesusahan mencari istrinya, namun ia juga sadar kalau Ruben bukan orang sembarangan. Pasti bisa dengan mudah menukan Santi dan juga ia ingin rumah tangga anaknya baik baik saja


" Kota B." gumam Ruben.


" ya dia ke kota B. Katanya di mau berkunjung ke rumah tantenya dan mungkin akan tinggal beberapa waktu disana untuk rehat sejenak." jawab bunda panjang Lebar.


Ruben langsung bangkit dari duduknya, berbalik dan hendak melangkah pergi tetapi lembali terhenti saat mertunya berkata:


" kau mau kenama nak.?" tanya bunda yang membuat langkah Ruben terhenti.

__ADS_1


" Mau menyusul Istriku bun." jawab Ruben


" Apa kau tau diamana harus menyusul istrimu.?" tanya ayah ikut angkat bicara kali ini.


Ruben dia tidak menjawab pertanyaan Ayah mertuanya karna ia baru teringat tidak memiliki alamat Istrinya di kota B.


Dan melihat diamnya Ruben membuat ayah hanya tertawa kecil. Ia menertawakan sikap menantunya yang sudah tidak sabaran.


" Istrahat lah sebentar, nanti lanjutkan mencari putriku itu. Lagian dia tidak akan tersesat disana karna ada tempat yang akan di tujunya." tutur ayah.


" Itu benar nak, istrahat lah sebentar dan kamu pasti belum makan siang kan,? kasian temanmu itu yang ada diluar.


Ruben hanya bisa pasrah mendengar penuturan mertunya, iapun baru teringat akan Ans yang pasti saat ini sudah menekuk wajah dinginnya itu.


" Yasudah. Ayah akan mengantarmu ke meja makan dan bunda panggil temanmu itu dulu." kata bunda seraya pergi.


Mereka pergi menuju meja makan setelah binda pergi menuju halaman rumah dimana Ans berada. Sampai disana merka tidak langsung makan tapi masih menunggu sang bunda.


" Ayah." panggil Ruben.


' hemm." hanya deheman yang diberikan oleh ayah untuk merespon panggilan menantunya.

__ADS_1


" Bisakah ayah memberiku alamat Istriku.?" tanya Ruben ragu ragu.


Tidak ada jawaban, hanya pandangan matanya yang menatap intens kearah menantunya dan hal itu sukses membuat Ruben jadi kikuk.


" selesaikan dulu makanmu dan baru lah nanti kau ambil alamatnya. Karna saya tidak dapat berpikir saat sedang makan." jawab ayah dengan santainya.


" tapi ayah sedang tidak makan bukan.?" tanya Ruben yang masih tetap membujuk ayah.


" ck. Kau itu ya.! Ayah bilang nanti ya artinya nanti." ketus Ayah.


Ruben kembali diam saat mendapati Ayah mertuanya kesal. Sungguh ia tidak ingin berdebat dengan mertuanya karna jika itu terjadi makan bisa saja ia akan dipersulit bertemu istrinya, meski sebenarnya ia bisa mencari tau sendiri, tapi mungkin akan memakan waktu walau sedikit.


" J**ika kau bukan ayah mertuaku dan kalau ini semua bukan demi istriku, sekarang kau pasti aku hajar sampai mampus." batin Ruben dengan kesalnya.


" Loh, kenapa belum disentuh makananya." tanya bunda yang membuat Ruben berhenti mengumpat mertuanya.


Ruben menoleh ke arah mertua dan asistennya.Ia melihat asistennya sudah memasang wajah datar dengan sepenuhnya dan Ruben hanya menanggapinya dengan senyum kecilnya saja.


" Kami menunggu bunda dan asisten menantumu itu." jawab ayah melirik Ruben dan Ans.


Sedangkan yang lirik hanya memasang wajah tidak peduli. Dan mereka pun mulai menyantap makanan dalam diam dan penuh nikmat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2