
Loh nak, kamu kenapa.?" tanya mama panik saat dirinya tidak sengaja menoleh dan melihat menantunya meringis kesakitan
Semua orang menoleh dan memandang kearah Santi, semua ikut terkejut dan panik melihat putri dan menantu mereka kesakita.
" Sakit....!" rintih Santi yang kini berpindah meremas jemari mertuanya.
" Apa kamu mau melahirkan.?" tanya bunda ikut panik.
" Astag, Pak siapkan mobil kita kerumah sakit sekarang, sepertinya Santi memang akan melahirkan." teriak Ayah yang langsung menuju kearah putrinya dan membantunya berdiri, membopong dengan di bantu besan dan istrinya menuju mobil.
Papa Prasetya tanpa di perintah dua kali langsung berlari ke halaman depan rumah untuk menyiapkan mobil, dengan tangan yang bergerak mengotak atik ponselnya untuk menghubungi putranha Ruben.
Kini mama, bunda, Santi dengan diantar oleh papa langsung menuju rumah sakit, sedangkan Ayah, kembali kerumah untuk menyuruh Bi Asih mempersiapkan semua keperluan lahiran putrinya.
***
Sedangkan di kantor, Ruben yang sejak tadi gelisah dari rumah, kini semakin gelisah, tanap tau apa penyebabnya, dia terus saja kepikiran dengan Santi istrinya, apalagi saat ini istrinya itu tidak mengangkat panggilannya yang sudah pukuhan kali.
" Kamu kemana sih sayang,? kok panggilan mas tidak diangkat sih, apa mungkin kamu lagi bicara sama mama dan bunda." guman Ruben sambil tangannya terus saja menghubungi istrinya.
Sambil menunggu panggilannya di angkat dan dirinya larut dalam pikirannya tentang istrinya, panggilan masuk dalam ponselnya, dan dengan cepat Ruben melihat ID nya berharap itu adalh istrinya.
Namun wajahnya seketika meredup, lesu nampak terlihat diwajah pria itu saat tau bukan istrinya lah yang menghubunginya melainkan papanya.
" Iya pah." jawab Ruben lesu. Namun sejurus kemudian wajahnya berubah tegang saat mendengar perkataan sang papa.
Tanpa membuang waktu lagi, Ruben langsung melesat pergi meninggalkan ruanganya menuju halaman perusahaan.
Tidak lagi mempedulikan panggilan sekretarisnya yang mengingatkan dirinya untuk segeta meeting, karna baginya istrinya adalah yang utama dan persetan dengan rapat atau uang yang raib karena ketikahadirannya.
Dengan wajah cema dan khawatir, Ruben memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan sapaan dari semua karyawan dan satpan kantornya tidak lagi dihiraukan, karna pikirannya sudah dipenuhi oleh bayang bayang istrinya yang akan melahirkan putra mereka
Sepanjang perjalanan, Ruben selau melafalkan doa dalam hatinya, berharap di beri yang terbaik untjk istri dan anaknya, terlebih ia sangat berharap anak dan istrinya bisa selamat dari sesi yang sedikit banyaknya bisa saja kemungkinan ada hal buruk terjadi.
Dua puluh lima menit, perjalan yang dipakai Ruben menempuh rumah Sakit internasional, yang seharusnya jika berkendara normal, waktu tempuh yang digunakan adalah empat puluh lima menit, tapi bagi ruben tidak lah samapai, bahkan dua puluh lima menit yang dilaluinya itu masih terasa sangat lama baginya, sehingga sesekali Ruben akan mengumpat jika keadaan tidak sesuai ekspetasinya.
Sampai di rumah sakit, Ruben dengan kekuatan ekstra digunakanya berlari menuju rumah sakit, dan langsung melesat ke ruangan tempat Santi akan melahirk, karena tadi papa sudah memberitahunya letak ruangan istrinya.
" ho..ho..ho.. Bagaimana istri ku.?" tanga Ruben dengan nafas ngos ngosan saat sudah sampai di depan ruangan bersalin.
" Dia ada di dalam, dan ternyata masih pembukaan lima, kau masuklah ke dalam istrimu pasti sangat membutuhkanmu." ucap Papa.
Tanpa menjawab lagi Ruben langsung memasuki ruangan itu, membuka sedikit kasar pintu sangkin cemasnya dia pada istrinya.
" Mas." lirih Santi saat melihat kemunculan suaminya dari balik pintu.
__ADS_1
" Sayang." panggil Ruben yang langsung berlari melesat disamping istrinya, merengkuh tubuh gembul itu da mencium seluruh wajah istrinya.
" Kamu tahan ya sayan, kamu harus bisa melahirkan putra kita, jangan menyerah apalagi lemah ya." ucap Ruben dengan tangan menopang tubuh istrinya dan satunya lagi digunakan untuk mengusap usap pinggan Santi
" Sakit mas, aku tidal kuah, huhuhuhu." ucap Santi di iringi nafas yang berhebus pendek karna sakit yang kian mencekam perutnya.
" Aakkhhh... sakit mas." ringis Santi dengan mencengkram kuat lengan suaminya menancapkan kuku cantiknya disana, dan meninggalkan bekas sebagai kenangan.
" Sayang kamu kuat ok, tarik nafas ya dan buang sayang, atur pernapasanmu biar relax " ucap Ruben sedangkan dirinya sendiri pun sudah berkeringat gingin menyaksikan kesakitan istrinya.
" Astaga...Suster, dokter...!" Ruben berteriak memanggil dokter saat ringisan dan cengkramam istrinya semakin kuat menacap di kulitnya, bukan karna tidak kuat menerima hal itu, tapi dirinya tidak kuat melihat istrinya yang masih saja kesakitan.
" Selamat siang tuan nona, saya cek dulu ya sudah pembukaan ke berapa." ucap dokter yang baru saja tiba, setelah tadi ia juga sudah memeriksa pasien itu satu jam yang lalu.
" Heii.! kau cepat periksa istriku.! kau jangan tersenyum saja." bentak Ruben yang kesal saat melihat ekspresj dokter yang menangani istrinya menebar senyum yang membuat Rben naik pitam.
" Mas.." tegus Santi yang mengetahui suaminya marah, ia tau kalau Ruben sangat menghawatirkanya, dan sangat peduli, dengan mereka tapi bukan berarti boleh saja Ruben membentak apalagi memarahi tim medis.
" Tapi kamu kesakitan sayang." ucap Ruben lembut dengan gerakan tangan yang mengusap peluh istrinya.
" Aku tidak apa apa mas, sudah jangan marah biarkan mereka bekerja." kata Santj dengan senyum yang dibuat semanis mungkin untuk suaminya.
Ruben tidak lagi berkata, dia membiarkan istrinya di periksa oleh dokter, dengan posisi masih menopang tubuh santi dan sesekali kecupan ia daratkan untuk istrinya sebagi penguat.
" Ahkkkk...Dokter aku sudah tidak kuat ini saki sekali." teriak Santi.
" Ok,, atur napas ya, ikuti instruksi saya nona, satu dua tiga mengejan nona." ucap Dokter memberi aba aba.
" Aaakkkhhhh...!" Santi mengejan dengan sangat kuat mengikuti semua arahan dari dokternya
" Ayo nona, dorong lagi, kepalanya sudah terlihat lebih kuat lagi nona ayo dorong." dokter masih saja menginterupsi.
Lagi lagi Santi mengejan dengan sanagtbkuat menggunakan seluruh kekuatan yang masih tersisia yang dimilikanya, sedangkan Ruben dengan setia berada di samping Santi memeberi kekuatan bagi istrinya untuk melahirkan.
Setelah beberapa menit, akhirnya suara bayi pun terdengar memenuhi seluruh ruangan iru, bahkan sampai di telinga pada orang tuan yang masih dengan setian menunggu diluar ruangan.
oekk..oekk..oekkk
Suara bayi yang terdengar membuat kebahagian membuncah dirasakan oleh Ruben, dengan penuh kebahagian ia menciu seluruh wajah Santi kemudian mememeluknya dengan mesra.
Tak lama berselang kembali terdengar lagi suara bayi, dan itu adalah anak kedua mereka, berjenis kelamin perempuna, tiada terkira lagi kebahagiaan Riko.
" Terimakasih sayang. Ini sangat istimewa, sangat membuat mas bahagia, kamu benar benar wanitaku yang hebat dan terbaik. Terimakasib sudah memberi mas anak yang sangat tampan." ucap Ruben Lembut dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Terharu, dia sangat terharu dan bahagia akhirnya bisa melihag anaknga lahir ke dunia, hasil dari cinta mereka, cinta yang akhirnya bersatu setelah banyak rintangan yang mereka lewati.
__ADS_1
"Jangan berterimakasih mas, karena dia adalah anakku dan mas adalah suamiku dan sudah menjadi kewajibanku untuk itu semua." balas santi dengan air mata bahagia yang sudah mengalir membasahi pipinya.
Ruben mengusap air mata itu, kemudian mengecup kedua mata istrinya dengan penuh syukur disusul kening, kedua pipi dan berakhir dengan ******* kecil dibibir Santi.
" Ini tuan, selamat ya anak pertama anda laki laki dan yang kedua berjenis kelamin perempuan dan semuanya sehat, barat badan tiga koma tujuh kilogram, sesuai dengan bobot badan anak yang mendapatkan nutrisi dari bundanya dengan baik." ucap Dokter dengan menyodorkan bayi laki laki itu yang sudah dibersikan oleh petugas.

Santi mengambil kedua anaknya dan meletekannya di depan dadanya, Ruben mendekat dan menicum pelan kenig putra dan putrinya kemudian beralih lagi pada istrinya, kecupan singkat ia daratkan.
***
Saat ini santi sudah berada diruang perawatan setelah tadi di bersikan oleh perawat dan kini ia berbaring di atas brankar karna tidak bisa bergerak banyak.
Sementara para orang tua, sedang mengelilingi cucu pertama mereka, penerus dari keluarga Prasetya.
" Ohhhhh cucu kita manis manis sekali ya pah." kata mama riang.
" Iya mah, sangat tampan dan cantik." jawab papa.
"Dia juga cucu kami pak Prasetya jangan lupa itu." sentak ayah kesal.
"Ayah " tegur bunda
Sedangkan Prasety acuh saja dan masih fokus pada cucu pertamanya. " Heii biarkan istriku menggendongnya juga." kata Ayah yang dari tadi ingin sekali menyentuh cucunya tapj tidak bisa karnaa sudah di kuasai oleh Prasetya dan istrinya.
Mama tanpa banyak bicara langsung memberikanya, tapi berbeda dengan papa yang sedikit cemberut, karna merasa belum puas menatap dan bermain dengan cucunya.
"Apa sudah ada nama untuk anak kalian bou.?" tanya mama
Ruben yang berada disamping Istrinya dan fokus memperhatikan putanya, menoleh melihat kearah mamanya. " Sudah, namanya sudah aku siapakan." jawab Ruben.
" Siapa namanya mas.?" tanya Santi karna memang dirinya tidak tau siapa nama putranta yang akan di sematkan oleh suaminya.
"Alvaro Rubeno Prasetya dan Kanaya Rubeno Prasetya" jawab Ruben mantap memberi nama anaknya.
" Alvaro Rubeno Prasetya, Kanaya Rubeno Prasetya." saut merea serempak.
" Nama yang bagus mas." ucap Santi.
" Iya sangat bagus." jawab mereka hampir bersamaan.
" Welcome to the world baby boy Alvaro dan Kanaya." ucap Papa Prasetya.
Mereka semua merasakn kebahagian hari ini, bahagia karna adanha anggota keluarga yang bertambah, anggota yang akan menjadi penerus dari nama besar mereka.
__ADS_1
Dan terlebih, bagi pasangan muda yang baru saja mendapatkan gelar baru, yaitu orang tua. Akan ada tugas dan tanggung jawab yang besar di pundak mereka untuk menjaga dan menuntun anak untuk menjadi seorang yang berguna, menjadi seorang yang bisa di andalkan oleh orang lain, terlebih lagi mereka harus mempersiapkan putra mereka untuk mengemban tanggung jawab besar sebagai penerus dari keluarga Prasetya dan hal itu pasti tidak lah mudah.
🎀TAMAT🎀 ......