
" Bagus dan aku yakin dia juga bukan gadis lagi, jadi kalau masalah gilir seperti itu pasti hanya keberatan sesaat saja, dan setelah itu dia akan menikmatinya" ucap Lili dengan gampangnya.
Berbeda dengan Riko yang sudah memucat mendengar perkataan istrinya menjadi ketar ketir, dia sudah tau pertanyaan apa yang akan dilanjutkan berikutnnya. Dan benar saja belum selesai Riko membatin, Lili sudah kembali melayangkan pertanyaan.
"Tapi kamu belum pernah mencicipinya kan?" tanya Lili penuh selidik.
Glek.
"Benarkan, belum dua menit bernafas sudah di serang saja ini" batin Riko melan ludahnya yang tiba tiba tersangkut di tenggorokannya.
"Jawab sayang!" sentak Lili membuat Riko terjingkat kaget.
"Eh, enggak mana mungkin aku mencicipinya, walau suamimu ini hidup di lingkungan bebas tapi tetap memengan teguh kepercayaan negara kita sayang" bohong Riko.
"Ma**us! bisa habis aku jika dia tau kalau aku sudah pernah bahkan beberapa kali mencicipi wanita itu, lagian mana ada kucing yang menolak ikan asin dan aku juga lelaki normal yang di pancing pasti maulah" batin Riko lagi.
"Bagus tapi awas saja jika kau membohongiku! adimu tidak akan pernah meronda lagi seumur hidupmu!" ancam Lili penuh penekanan.
Riko langsung mengusap adiknya mendengar ancaman yang sangat mematikan itu, bisa gila dan karatan adiknya jika tidak pernah di asah, dan bisa nya bisa bisa tidak berfungsi lagi pikirnya.
"Tentu saja aku tidak berbohong sayang, asal kau tau? adikku ini pilih pilih tempat dan teman untuk meronda" jawab Riko dengan cepat.
"Sudah sana mandi, biar adiknya segar" usir Lili dengan asal ceplos.
Riko terkekeh mendengar perkataan istrinya yang semakin tidak bisa di rem lagi, ucapanya sekarang sudah seperti ibu ibu yang memiliki dua anak, dan entah melayang kemana kini rasa malunya yang dulu di milikinya.
***
Di sisi lain, Ans dan Helena bersiap untuk kembali ke Surabaya, setelah tadi dari kediaman Ruben dan perintah Ruben yang meminta mereka agar segera kembali dengan alasan agar tidak merugikan perusahaan dan Ruben saja yang seorang bos besar tidak pergi mengunjungi mertuanya.
Sehingga walau Ans memasang wajah masamnya dan menggerutu tidak jelas tapi tetap saja Ans harus mengikuti perkataan Ruben dan lagi orang tua Ans yang yang sudah merindukan Helena katanya membuat Ans banyak alasan untuk segera kembali.
"Kau tidak masalah sayang jika kita kembali?" tanya Ans dengan lembut.
Helena melihat suaminya sejenak kemudian kembali berkemas mengepak pakaian mereka didalam koper dan menjawab, "tidak masalah, lagian pekerjaan itu adalah tanggung jawab yang sudah di percayakan tuan Ruben padamu, jadi gunakanlah itu dengan baik sayang" jawab Helena.
__ADS_1
Ans mendekat dan memeluk Helena dari belakang, walau perut Helena sudah membuncit besar tapi tangan Ruben masih sampai dan melingkar sempurna di tubuh Helena.
"Oh ya sayang, kapan cek kandungan lagi? dua hari lagi kan ya? tanya Ans.
"Hm, dua hari lagi" jawab Helena santai
Akhirnya kegaitan pengepakan pun siap dan kini mereka sedang berada dj halaman rumah Ibu untuk kembali ke jakarta, "kami pulang bu, ibu jaga kesehatan" ucap Helena sembari menyalami dan mencium punggung tangan ibunya.
"Hati hati sayang, jaga kandunga kamu dan nanti kabari ibu kalau sudah lahiran ya biar ibu bisa ke sana menyambut calon cucu ibu" ucap Ibi dan tangannya mengelus lembut perut Helena.
"Kami pulang bu, dan ibu jaga diri disini" ucap Ans bergantian pamit.
"Hati hati dan jaga putri ibu ya" jawab Ibu.
"Tentu saja aku akan menjaga istri dan anakku bu, tidak akan ku biarkan sesuatu terjadi padanya" ucap Ans dengan yakin.
"Kakak... seringlah main kemari biar aku aku tidak kangent terus" ucap Dian berkaca kaca dan langsung memeluk kakaknya.
"Ck, manja sekali kau!" ucap Nathan mencebikkan bibirnya menahan tangis.
"Tidak!" jawab Nathan dengan cepat.
"Sudah, kau tidak mau memeluk kakak mu ibi Nathan?" tanya Helena dengan lembut.
Tanpa pengulangan Nathan langsung menghambur memeluk Helena dan tangisnya seketikan pecah tidak bisa di tahan lagi "kaka jaga diri disana dan kalau dia menyakitimu maka katakan saja padaku, aku akan menjemputmu pulang" ucap Nathan.
Ans yang mendengar perkataan adik iparnya langsung melototkan matanya dan tanpa aba aba lagi kedua tangannya langsung memisahkan kedua saudara itu dan melingkarkan tangannya di pinggang Helena yang sudah melebar.
"Hei apa apaan kau! kenapa melepaskan kami!" sentak Hathan tidak terima.
"Karena kau tidak boleh memeluk istriku terlalu lama! dia istriku dan hanya aku yang boleh menyentuh dan menelukanya sekarang" ketus Ans dengan wajah datarnya.
"Ck posesif sekali kau ini! apa ibu juga tidak bisa memeluk kakak ku itu sekarang?" tanya Nathan setengah menyindir.
"Kalau ibu boleh dan Dian juga boleh tapi aku? heh jangan harap bisa memeluk istriku lagi!" sinis Ans.
__ADS_1
Nathan yang melihat kepisesifan kaka iparnya senang sekaligus kesal, dia senang karena ternyata Ans begitu mencintai kakanya tapi di waktu yang bersamaan rasa kesal pun ada karena dengan begitu maka dia tidak lagi bisa memelul kaka kesayangannya itu.
"Dia kaka kesayangnku jadi kau tidak bisa melarangku!"
"Tapi dia istri kesayanganku, kesayangan anak anakku kelak, jadi jangan sembarangan memeluknya jika nanti anakku lahir, karena apa? karena dia akan lebih parah dariku" ucap Ans dengan kekehan renyahnya.
"Sudah, segeralah berangkat, nanti ketinggalan pesawat" ucap Ibu melerai perdebatan itu"
Dan akhirnya pasangan itu pun pergi meninggalka rumah sederhana Helena kembali ke kota Surabaya untuk Ans bisa memulai pekerjaannya lagi.
***
Sementara pagi ini Riko dengan penuh semangat datang ke kantor karena apa? susah pasti karena perusahaanya akan beroperasi dengan normal kembali, setelah semalam uang yang dia minta dengan Janeth sudah tersimpan dengaj sempurna di rekening perusahaan dan Janeth pun yang sudah kembali ke negara asalnya sesuai dengan perkataan mereka semalam.
Flashback...
Ponsel Riko berbunyi dan pemanggilnya adalah tak lain adalah Janeth, sebenarnya Riko sangat malas tapi mengingat itu sangat penting bagi perusahaan miliknya sehinga Riko menjawab panggilan itu.
"Ada apa?" tanya Riko dengan suara datarnya tanpa basa basi lagi.
"Aku akan mentransfer uangnya" ucap Janeth pelan.
"Ke rekening perusahaan! jangan padaku" jawab Riko.
"Aku hanya ingin mentakannya padamu dan setelah itu aku akan kembali" ucapnya.
"Bagus! dan ingat jangan pernah kembali ke sini, jikalau harus kembali jangan pernah mengusikku lagi" ucap Riko penuh penekanan.
"Baiklah, dan tolong sampaikan salam ku pada istrimu" ucap Janeth dan panggilan pun terputus.
Flashback off...
.
Bersambung...
__ADS_1