
Saat ini pasangan yang saling terbuka yangvtak lain adalah Riko dan Lili sedang bersandar manja di ranjang yang ada di kamar Lili dulu dengan kaki yang berselonjor.
Lili dengan aktivitas mengunyah cemilannya dan Riko yang sedang fokus pada laptop miliknya, walau tidak datang ke kantor tapi Riko tetap memantaunya dan setiap saat Halim terus memberikan laporan padanya.
"Sayang a...."
"Kamu saha yang makan sayang" sahut Riko yang tidak melepaskan fokusnya.
"Coba dulu, sekali saja a..."
"Tapi sekali saja ya" ucap Riko kemudian membuka mulutnya.
Lili menyuapi Riko dengan cemilan yang ada di tanganya, awalnya Riko menolak tapi setelah mencoba rasanya dia jadi ketagihan bahkan tak jarang dia meminta di suapi saat Lili lama memasukan dalam mulutnya.
"Mana yang kok berhenti?" tanya Riko.
Ya, sesuai dengan yang di katakan suaminya kalau hanya sekali suap saja, dan Lili pun melaukanya tapi rupanya kini suaminya meminta dirinya untuk menyuapkannya lagi.
"Apanya yang mana?" tanya Lili tapi mulutnya tidak berhenti mengunyah.
"Cemilannya dong Yang..."
"Lah bukanya tadi bilang hanya sekali saja ya?" tanya Lili dang muka yang di buat sebingung mungkin.
Riko menghentikan pekerjaanya, memandang istrinya yang sok bingung tapi mulutnya tidak berhenti mengunyah .
"Iya tadinya begitu tapi sekarang aku mau lagi" jawab Riko dan kembali mengotak atik laptopnya.
"Ayo sayang a.." ucap Riko yang tak kunjung menerima suapan istrinya.
Lili menurut menyuapi cemilan ke dalam mulut Riko, dan bergantian memasukannya ke dal mulutnya sendiri dan itu terjadi hingga seterunya sampai bungkusan berserakan di atas ranjang Lili.
"Astaga sayang...Ino bungkusan kenala berserakan semua!" pekik Riko "lalu kemana semua isinya?" tanya Riko yang membuat Liki berdecak kesal.
"Ck, kau ini menbuatku kesal saja sih!" ketus Lili.
"Loh aku hanya bertanya sayang, kenapa harus marah sihh"
__ADS_1
"Kamu masih bertanya kenapa sebanya ini dan kemana isinya, padaha sudah jelas kita berdua yang makan!" ketus Lili.
Riko terdiam mendengar jawaban istrinya karena baru tersadar jika dirinya juga ikut mengemil kerena sudah ketagihan dan kini dia hanya bisa menggaruk tengjuknya dengan barisan gigi yang dia tunjukan pada Lili.
"Maaf sayang, aku tidak sadar jika kita yang menghabiskan semuanya, karena biasanya aku tidak suka ngemil makanya tidak merasa" ucap Riko yang langsung mengaitkan tangannya do bahu LIli dan merangkulnya lalu mencium pelipie wanitanya.
"Tapi kenyataan kau makan ini kok!"
"Iya sayang, maaf ya kalau aku tidak sadar"
Riko memcium bibir Lili dengan lembut sebagai bentuk maaf sekaligus untuk merayu wanitanya tapi baru saja dia mau melancarkan aksinya pintu kamar di ketuk dari luar.
"Lili...Riko...Kalian sudah tidur..!" teriak Bunda.
Riko mengeram kesal karena aktifitasnya terganggu, sepertinya selama berada disini makan jangan harap bisa meronda dengan istrinya dan itu membuat Riko menjadi kesal sendiri.
Sementara Lili mengulum senyumnya melihat wajah kesal Riko yang seperti itu, harus bagaimana lagi? itu adalah resikonya dan mereka harus bisa menahan diri.
Walau sebenarnya Lii juga menginginkanya tapi keadaan seperti ini tidak bisa di hindari karena dua yakin jika hal seperti ini akan terus terulang mengingat bagaimana sikap Bundanya yang tidak akan bisa diam.
Lili bergerak manuju pintu dan membukankan pintu untuk Ibunya "kenapa Bunda?"
"Kalian sedang apa di dalam kemar kenapa tidak keluar?" tanya Bunda dan menerobos masuk dalan kamar melihat apa yang di lakuakn anak dan menantunya.
"Astaga Lili...Kamu ngemil disini? kami benar benar tidak berubah ya, selalu saja mengemil di dalam kamar bahkan di depan suamimu lagi!"
Lili hanya nyengir kuda saat mendapat omelan Bundanya, kereba memang benar adanya sejak dulu dia akan selalu mendapat omelan kalau ketahuan ngemil di dalam kama.
Sementara Riko menyerngitkan keningnya tidak paham kenapa Mertuanya berkata demikian, tapi sesaat kemudia dirinya baru sadar jika dulu kebiasaab istrinya adalah mengemil di dalam kamar.
Dengan senyum yang terbit di kedua sudut bibirnya, Ans mendekati mertuanya dan berkata "tidak apa Bun, nanti aku bereskan"
Dia langsung bergerak memunguti bungkusan makanan yang baru saja tandas mereka makan, sementara Lili sangat terharu melihat kesabaran Riko dalak menghadapi dirinya, bahkan tak jarang Riko yang selalu mengalan dan meminta maaf jika Lili yang berbuat ulah, contohnya saja sekarang.
"Maaf ya Bun, jika Bunda tidak suka" ucap Riko
"Kenapa kamu yang minta maaf, putri Bunda ini yang melakukan salah kok harusnya dia yang bertanggung jawab"
__ADS_1
Ibu yang tadinya ingin terus mengomeli putrinya karena kesal berganti jadi rasa haru melihat menantunya yang di bilang sangat tepat untuk putrinya, bukankah ini bisa dikatakan jika di tidak salah menjodohkan putrinya.
Tapi rasa bangga itu seketika meredup mana kala mendengar pengakuan Riko "Karena kami berdua yang ngemil bunda" ucap Riko.
"Astaga..Menantu dan anak sama!" ucap Bunda langsung pergi meninggalkan kamar.
Sementara Riko dan Lili tertawa lepas setelah kepergian Bunda, mereka juga tidak tau kenapa sore ini bisa kompak ngemil seperti itu.
Tidak biasanya bagi mereka, bahkan Lili sudah lama meninggalkan kebiasaanya itu tapi kini kembali lagi sore ini, jangan taya Riko yang lebih parah, kegiatan yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya dan kini dia terkontaminasi dengab istrinya.
"Untung Bunda tidak jantungan!" ucap Lili masih tertawa lepas.
"Bararti kamu suka negmil sayang dari kecil?" tanya Riko.
Kegiatan mereka saat ini adalah Riko membereskan sampah yang berserakan di kamar sedangkan calon mama muda itu kembali bersandar dan berselonjor kaki di atas ranjang.
"Hooh, ngemil yamng seperti ini" jawabnya.
"Tapi kenapa tubuhmu tetap kurusan, dan baru sekarang saja mulai melebar" ucap Riko yang tidak pernah menyangla jika perkataanya akan menjadi bumerang bagi dirinya.
"Kamu bilang apa sayang....? badan aku melebar?" tanya Lili penuh penekanan.
"Iya, badan kamu mulai berisi" jawabnya yang masih tidak sadar jika sekarang istrinya sudah berkacak pinggang dengan mata yang sudah melotot ke arahnya.
"Oh jadi menurutmu aku gemuk iya!" teriak Lili.
Riko terlonjak kaget mendengar teriakam istrinya, kegiatannya terhenti berganti dengan dia yang mengelus dadanya.
"Kenapa kalau kamu gemuk? tidak ada salahnya kan?" tanya Riko yang kembali mengulang kata gemuk itu.
"Kau! berani sekali mengataiku gemuk, akan ku perhitungan denganmu!" teriak Lili dan beranjak turun dari sana menghampiri Riko dan memukul lengan Riko dengan buasnya.
"Astaga sayang, jangan memukulku begitu,,, ampun sayang...tapi aku berkata jujur jika badanmu melebar" teriak Riko seraya berusaha menghentikak gerakan tangan Lili.
Lili terhenti berganti dengan mata yang bekaca kaca, "apa kau akan melirik wanita lain jika aku berubah gemuk?"
Bersambung...
__ADS_1