
Dua orang pemuda dengan stelan jas yang rapi dan tentunya pasti mahal, tengah berada dibandara kota B. Mereka baru saja tiba di kita itu.
Apalagi yang menjadi alasannya jika bukan untuk menjemput sang pujaan hatinya yaitu Santi sang istri tercintanya itu lasan Ruben dan bukan alasan Ans.
" Ans kita langsung ketempat istriku saja." titah Ruben.
Ans hanya menghela napasnya kasar muka masamnya sudah di tekuk berulang kali. dia benar benar kesal dengan bosnya yang seenaknya berkata.
" dasar bos sialan.! enak sekali dia berkata. apa dia tidak tau kalau aku lelah.! aku jadi menyesal telah mengikutinya kemari." rutuk ans dalam hatinya.
" hei.! kenapa wajahmu seperti itu. apa kau tidak suka dengan ucapanku.? kalau kau tak suka maka kau boleh pergi dari sini.!" teriak Ruben yang menangkap wajah masam asistennya.
" eh, ti..tidak tuan. Saya sangat suka.Tidak mungkin saya membantahmu Tuan." jawab Ans kelabakan saat kepergok oleh tuannya.
" Bagus kalau kau tidak beretan." saut Ruben dan beralalu dari hadapan Ans menuju mobil yang sudah stay menanti mereka.
" kalau saja aku bukan bawahanmu, dan kalau saja aku tidak butuh uangmu itu, sudah aku kuliti hidup hidup kau itu." umpat Ans yang lagi lagi hanya bisa berkata dalam hati.
Perjalan yang mereka lewati cukup membosankan bagi Ans karna dari awal memasuki mobil hingga kini, tidak ada pembicaraan antara mereka. Dan lagi melihat bosnya yang selalu berubah ubah ekspresi. Kadang gelisa, kadang senyum dan hal itu benar benar membuat Ans sangat muak.
" Dasar tidak waras. Dulu saja kau tidak memepedulikanya, tapi sekarang terbang sana sini untuk mencari istrinya." gumam Ans dalam hati sesekalj matanya melirikn bosnya lewat kaca spion mobil.
Mobil sudah sampai dihalaman rumah yang terlihat lebih besar dari rumah milik orang tua santi di kota M.
Membuka pintu mobil dan memarik nafanya dalam dalam kemudian turun dan mulai melangkah menuju rumah sesuai alamat yang diberikan padanya mertuanya padanya.
Tok...tok...
__ADS_1
Pintu diketuk Ruben saat kakinya sudah sampai di teras itu, tidak ada sauhatan dari dalam dan hal itu membuat Ruben gusar ia kembali lagi mengetuk berkali kali dan lebih kencang dari sebelumnya.
Setelah setelah ketuka yang untuk kesekian kalinya, akhirnya sahutan terdengar dari dalam. " sebentar."
Tak lama setelah itu pintu terbuka menampakan seorang gadis belia yang berumur sekitar lima belas tahunan.
" Siapa.?" tanya gadis itu dengan kening menyergit tanda ia tidak mengenal siapa tamu itu.
" Apa ini Rumah pak ilham.?" tanya Ruben berusaha ramah terhadap gadis belia yang imut itu didepannya.
" Iya benar, Ada apa ya cari ayah.?"
" Bukan. Saya kesini bukan untuk mencari ayah kamu." saut Ruben cepat.
" lalu cari siapa dong.?" tanya Nanda dengan gaya labilnya.
" Wahhh... Ternyata suami kan Santi tampan ya." ucap gadis belia itu dengan mata berbinar daat melihat pemandangan yang menyejukan mata.
Mendengar hal itu membuat Ruben besar kepala dan tentunya bangga karna adanyang memujinya saat ini.
" trimakasih cantik." jawab Ruben yang spontan mengusak rambut gadis itu dan tentu saja hal itu dusambut baik oleh nanda si gadis belia.
" Ayo om masuk." jawab Nanda yang berhasil membuat Ruben seketika berubah datar. Ia tidak suka dengan panggilan itu.
" Bisa tidak jangan memanggilku om.!" tanya Ruben penuh penekanan.
" Lalu aku harus panggil apa dong.?" tanya Nanda dengan raut bingungnya.
__ADS_1
" panggil kakak saja."
" Apa tidak masalah ya Om.?" tanya Nanda lagi dan itu semakin membuat Ruben memberenggut kesal.
" Kalau saja bukan anak kecil, pasti sudah aku beri pelajar mulutnya yang berani mengataiku om om." ucap Ruben dalam hati.
" iy tidak masalah." jawab Ruben dengan memasang senyum baik baik sajanya.
" Baiklah. Ayo kak kita masuk." ajak nanda dengan menarik lengan Ruben masuk kedalam rumah.
" mah..Mama.... ada tamu ini mah. Katanya suami kak Santi." Nanda berteriak memanggil mamanya yang berada di dapur.
" Ho mama...." panggil Nanda lagi dengan intonasi suara yang dibuat bernada.
Ruben hanya dia saja melihat tingkah anak labil itu, ia cukup mengkebalkan kupingnya saja mendengar suara cempreng Nanda.
" kamu kenapa sih berteriak terus. kamu anak gadis loh." tegur wanita yang tak lain adalah mama gadis belia Nanda.
Nanda hanya menyegir kuda mendengar teguran ibunya.
" ini loh ma. Ada suami kak Santi." jawab Nanda menarik kembali lengan Ruben dan mendekat kearah mamanya.
mama nanda melihat kearah yang dimaksud putrinya. seorang pemuda dengan stelan mahalnya berdiri disamping Nanda dengan sudah memasang senyum termanisnya.
" Hallo. Saya Ruben suami Santi." ucap Ruben memperkenalkan diri.
Bersambung....
__ADS_1