
Ans berjalan dengan gelisah, mondar mandir dan sesekali mengusap wajahnya dengan kasar, rasa cemas benar benar melanda hatinya saat ini, membayangkan apa yang terjadi padi istrinya.
"Tuan, and silahkaa masuk" ucap salah satu perawat.
Tanpa menjawab, Ans menerobos masuk ke dalam setelah mendapatkan ijin dari perawat, "sayang" panggila Ans dengan lembut dan langsung mendaratkan ciuman lembut di kening Helena.
"Sakit Yah" lirih Helena.
"Sabar bunda, bunda harus kuat ya, tahan sedikit lagi" ucap Ans menghapus peluh yang membanjiri kening Helena.
"Istri ada bari pembukaan ke lima, jadi kita haru menunggu hingga pembukaan sempurna baru istri anda bisa melahirkan" ucap Dokter yang biasanya mengontrol kehamilan Helena.
"Tapi bukankah dokter bilang harusnga tiga hari lag?" tanya Ans.
"Benar pak, itu menurut perkiraanku tapi ada beberapa faktor yang membuat lebih cepat daru perkiran" jawab Dokter
"Baiklah apa pun itu tapi berapa lama lagi kami harus menunggu? istriku susah sangat keskitan" tanya Ans dengan wajah cemas yag tidak bisa di sembunyikan lagi.
"Sabar tuan, semai butuh proses!" jawab Dokter.
"Bagaimana bisa saya sabar jika istriku meringis kesakitan terus!" sentak Ans.
"Auhh sayang...Mulesnya ada lagi!" ucap Helena kembali meringis.
"Sayang... Kamu sakit lagi? tahan sedikit lagi ya sayang, atau kamu operasi saja agar tidak kesakitan sepeerti ini?" ucap Ans dengan lembut dan tanganya bergerak searah mengelus perut buncit Helena untuk meredakan rasa sakit.
"Tunggu saja tuan, nanti jika pembukaanya sempurna baru proses persalinan di lakukan"
"Tapi istriku sakit terus!" bentak Ans.
"Ayah..." lirih Helena.
"Iy Bunda ada apa? bunda mau minum atau apa?" tanya Ans dengan lembut.
"Usap pinggangku yah, biar mereda sakitnya"
Tanpa di minta dua kali, Ans langsung menggerakkan tanganya dan mengusap dengan lembut pinggang Helena, sesekali bibirnya mencium pucuk dan pelipis istrinya dengan sayang, dia benar benar merasa nyeri melihat istrinya kesakitan seperti itu, andai bisa di gantikan maka dia akan menggantikan Helena menerima rasa sakit itu.
Tapi ini sudah kodrat wanita menerima rasa sakit dalam saat melahirkan, dan kini tugadnya adalah harus menemani dan menyemangati istrinya agar tetap kuat, membantu istrinya jika kesakitan seperti saat ini Helena meminta Ans mengusal pinggangnya dan Ans melakukanya.
"Masih sakit sayang?" tanya Ans dengan lembut.
"Sudah mulai reda" jawab Helena.
__ADS_1
"Lebih baik banti istrinya berjalan jalan disini tuan, agar pembukaanya semakin cepat" ujar dokter.
"Tapi bagaimana kalau dia sakit lagi!" sentak Ans.
"Lebih bagus karena semakin sering sakit maka pembukaan semakin munuju sempurna" jawab Dokter.
Ans berdecak kesal, tapi tetap melakukan apa yang di katakan dokter setelah sebelumnya bertanya pada Helena kesanggupan istrinya, dan kini mereka hanya mengelilingi ruangan, dan sesekali Helena akan meringis tapi berusaha di tahan agar tidak membuat suaminya khawatir lagi.
"Sayang...!" seru Bunda yang baru saja tiba.
Mereka ada Bunda, Ibu, Dian, Ayah dan Nathan pun tak ketinggalan datang kesana untuk menyambut keponakan dan cucu mereka yang akan menjadi penerus nama Wijaya, walau jenis kelaminnya perempuan tapi tidak jadi masalah bagi keluarganya.
"Bunda, Ibu" seru Ans.
"Bagaimana kamu nak? masih sakit kah? teus apa kata dokter, sudah pembukaan berapa? rentetan pertanyaan di layangkan Bunda karena terlalu khawatir.
Sementara Ans berdecak kesal mendapati banyaknya pertanyaan dari ibunya, apa dia tidak bisa melihat Helena sakit kenapa di borong dengan pertanyaan.
"Ckck bunda bisa tidak jangan banyak bertanya pada istriku!" ketus Ans, "jika mau bertanya, tanyakan saja padaku".
"Ck, anak ini! memangnya kamu yang hamil, makanya bisa menjawab pertanyan Bunda? kan bukan!" cibir Bunda.
"Sudah jangan berdebat lagi" lerai Ayah.
Ans yang mendengar pertanyaan yang sama keluar dari mertuanya, sebenarnya keberatan tapi dia tidak bisa berkata terlalu segan untuk berdebat.
"Sekarang sudah tidak bu, tapi kadang kadang kalau sakit lebih sakit dari sebelumnya" jawab Helena.
"Memang seperti itu nak, tapi nanti nikmatnya akan terasa jika sudah bertemu langsung dengan dia yang kalian nantikan" ucap Ibu dan mengusap perut Helena.
"Itu benar, semua kesakitan akan terbayar jika kalian sudah bisa menyentuh dia yang kalian nanti" timpal Bunda.
Helena tersenyum mendengar perkataan kedua orang tuanya yaitu ibu yang melahirkannya dan juga yang melahirkan suaminya, rasanya sangat bahagia sekali ditemani oleh orang-orang yang sangat menyayanginya, rasa sakitnya seperti tidak terasa lagi dan ketakutan yang sempat menghinggapi hatinya kini sirna entah kemana.
"Terimakasih Bu, Bunda" ucap Helena dengan tulus, "terimakasih kalian sudah mau menemani Helena....." lanjutnya
"Auuh... Sakit lagi Bu..!" keluh Helena disela sela ucapanya.
"Sayang... kamu jangan bergerak, sini sini kamu duduk saja" ucap Ans yang kembali khawatir meliha istrinya.
"Akhh...sakit akh..!"
"Astagaa Bunda panggil dokter cepat!" teriak Ans.
__ADS_1
Tak lama dokter datang bersama beberapa tim medis yang akan membantu, dan keluarga lainnua keluar menyisakan Ans yang masih betah berada di samoing istrinya enggan untuk meninggalkan istrinya yang sedang kesakitan.
"Pembukaan lengkap, siapkan semuanya sus!" titah dokter.
"Tuan, silahkan tunggu di luar, persalinan akan segera" ucap salah satu perawat.
Ans menatap perawat dengan tatapan tajam, membuat sang perawat langsung menciut naylinya tidak berani lagi berkata.
"Aku akan menemani istriku disini dan kau jangan mengaturku!" tekan Ans.
"Susah suster biarkan saja!" sela dokter yang melihay raut kemaran di wajah Ans.
Semua sudah bersiap bahkan posisi Helena yang seharusnya bagaimana pun sudah, dan kini perjuangan wanita itu pun dimulai.
Sepanjang persalinan, tidak sedetikpun Ans menjauh bahkan tidak mengelu saat Helena menjadikan sasaran kesakitannya karena bagi Ans rasa sakit yang di berikan Helena di tubuhnya tidak lah sebanding dengan rasa sakit yanh di rasakan oleh istrinya.
oek oek oek
Satu jam berjuang, akhirnya yang mereja nantikan pun terlahir dengan suara kahs bayi yang sangat merdu di pendengaran semua orang, suara yang membawa bahagia bagi orang dewasa.
Semua yang mendengarnya tersenyum dengan lega, rasa syukur tak henti di panjatkan karena penantian mereka akhirnya tercapai melihat generasi penerus terlahir.
Tak terkecuali Ans sendiri yang sudah tidak bisa menahan rasa bahagia yang membuncah, hingha tidak menyadari kini sudut matanya basah karena haru, terlebih Helena yang tidak bisa lagi manaha tangisnya, tangis bahagia kerena sudah bisa bertemu dengan putrinya.
"Sayang putri kita sudah lahir" ucap Ans sengan segudang rasa haru.
"Putri kita Yah" ucap Helena dengn lemah.
"Iya sayang putri kita, dan terima kasih, terimakasih banyak untuk sesuatu yang sangat berharga ini sayang" ucap Ans dengan lembut dan menciumi seluruh permukaan wajah Helena.
"Jangam berterimakasih karena dia juga putrimu Yah, kita harus merawat putri kita sama sama ya, dan mendidiknya dengan baik" ucap Helena yang di jawab anggukan oleh Ans.
"Maaf tuan, bisa tunggu di luar? pasien akan kami bersihkan" ucap perawat yang sama dengan takut takut.
.
Bersambung...
Hehehe maaf ya jika readers kurang serk dengan model cerita kelahiranya🙏
Soalnya author bingung mau bagaimana nuangkannya, belum pernah ngerasa soalnya sih😂✌
So kalian khayalin saja ya gimana rasanya
__ADS_1