
Pekan yang di nanti oleh kedua pasangan untuk pergi ke tujuna yang sudah mereka rencanakan, tapi berbeda dengan Helena yang memang tidak tau apa apa karena Ans yang tidak mengatakan apapun padanya.
"Sayang....Ayo cepat...!" teriak Lili.
Dia mendengus kesal saat mendapati RIko yang masih terlihat sangat santi, tidak seperti dirinya yang sangat antusias.
"Iya sebentar...!" teriak Riko tak kalah kerasanya.
"Ck, dia ini tidak sabaran sekali!" gerutu Riko yang merasa kesal dengan istrinya yang sangat tidak sabaran.
Riko menghampiri istrinya danga wajah masamnya karena dia tidak suka terburu buru, lagi pula waktu masih sangat pagi sekali yaoi istrinya sudah heboh saja.
"Kenapa lama sekali sih sayang!" ketus Lili saat Riko sudah di hadapannya.
Riko mengdengus kesal, merasa jengah dengan sikap istrinya yang tidak berhenti memgomel "kalau mengomel lagi, aku cari istri baru saja" ancam Riko.
Lili yang mendengar perkataan Riko langsung mendelik tajam menatap pada Riko yang membuat dirinya kesusahan menelan ludahnya.
"Coba saja kau cari istri baru! akan ku buat kau dan istrimu itu tidak akan menikmati udara lagi!" ucap Lili penuh ketegasan.
Wajahnya benar benar memerah karena marah dan tidak suka dengan perkataan Riko, walau dia tau itu hanya guyoan suaminy tapi memberi ketegasan pada Riko haruslah di laukan.
"Sayang...Kau terlihat menyeramkan sekali jika sudah seperti ini" ucap Riko ragu ragu
"Karena beginilah seirang istri jika suaminya berani mancari madi untuknya! dan kau jangan coba coba melakukan itu!" tegas Lili.
"Tentu saja tidak sayang...Aku hanya akan setia padamu" jawab Riko cepat " tapi kau jangan mengomel terus itu membuaku pusing" lanjut Riko yang kali ini mengeluh.
Lili melototkan matanya mendengar kelanjutan dari ucapan suaminya, bagaimana bisa dengan gampangnya dia mengeluh pusing jika Lili terus mengomel padanya.
"Sayang bilang apa? kamh pusing jika aku mengomel? apa kau tau? aku mengomel karena dirimu! karena kamu yang selalu membuatku darah tinggi!" ketus Lili.
"Benarkah aku membuatmu darau tinggi sayang?" tanya Riko dengan ekspresi seriusnya.
"Tentu saja!" jawab Lili asal.
"Mendengar perkataan Lili, membuat Riko murung, dia sama sekali tidak pernah berpikir jika sikapnya yang seperti ini akan membuat istrinya merada jenuh.
"Maafkan aku sayang..." lirih Riko dengan wajah memelasnya.
Lili yang melihat jawah memelas suaminya menjadi tidak enak hati, dia tidak hanya asal menjawab, bukan benar benarnya.
"Sayang, aku hanya bercanda" ucap Lili mengelus pipi Riko dengan lembut kemudian menciumnya dengan lembut.
__ADS_1
"Sungguh!" seru Riko.
"Sungguh, dan ayo kita pergi nanti kita akan telat."
"Baiklah ayo kita pergi"
Mereka pergi meninggalkan rumah, menuju bandara, sepanjang jalan senyum merekah tidak lepas dari Lili karena sebentar lagi dia akan melepaskan rindunya pada kedua orang tuanya.
.
.
.
Jika Riko dan Lili pergi dengan perasaan senang walau sempat ada cekcok, maka berbeda cerita dengan Ans dan Helena.
Wanita itu belum tau apa apa, karensa hingga kini Ans belum mangatakan apa pun padanya, sehingga Helena hanya sibuk mengepak pakaian Ans ke dalam koper.
Jangan di tanya lagi bagaimana ekspresinya, dia murung tidak bersemangat melepas kepergian Ans, apa lagi pemberitahuan dari As jika pria itu akan pergi selama satu minggu.
Dua hari saja rasanya Helena sudah uring uringan, nafsu makan tidak ada, semua serba malas di lakukan, lalu apa kabar yang satu minggu ini? entah apa yang akan di lakukan Helena nanti.
"Sudah selesai Helen?" tanya Ans yang baru saja siap mandi.
"Sebentar lagi" jawab Helena malas.
Ans mengulum senyumnya melihay tingkah istrinya yang sama sekali tidak bersemangat, sangat manis dan menggemaskan melihat wajah murung itu.
Ingin sekali rasanya Ans tertawa, tapi dia berusaha menahan dirinya agar tidak kelepasan sehingga membuat Helena marah atau bisa saja semakin sedih karena merasa di tertawakan nasibnya.
"Sudah selesai" ucap Helena.
Kini dia bergerak berjalan menuji Ans untuk membantu Ans mengenakan pakaiaannya, tapi dengan Ans menolak.
"Tidak usah! lebih baik kau mandi juga" ucap Ans menggiring Helena menuju kamar mandi.
"Loh kenapa aku harus mandi?" tanya Helena dengan kening mengerut.
"Karena selama satu minggu, kamu akan tinggal di rumah Bunda" jawab Ans.
"Tidak mau!" tolak Helena.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Pokoknya tidak mau!" sahut Helena dengan lantang.
"Aku tidak suka di tolak dan tidak ada penolakan!" tegas Ans.
Helena mau tidak mau mengikuti perkataan Ans, dia memasuki kamar mandi dan memebrsihkan dirinya sesuai dengan perintah Ans.
Sementara Ans sendiri, setelah Helena masuk dalam kamar mandi, dia langsung membuka lemari dan mengambil beberapa dress yang bisa di gunakan oleh Helena dan di masukan dalam koper miliknya.
Dan setelah semua di rasa beres, Ans langsung mengambil pakaian kasualnya untuk di kenakan, dan pakaian yang di siapkan Helena tadi kembali dia simpan dalam lemari.
Beberapa menit kemudian, Helena selesai dengan ritual mandinya, dan mengenakan pakaiannya baru setelah itu dia keluar dari kamar mandi.
Tapi Helena menyergit heran dengan pakaian Ans yang hanya menggunakan pakaian santai, bukan kemeja dan jas yang dia sediakan tadi.
"Sini keringkan rambutmu" pinta Ans menepuk ranjang.
Helena mengikuti perkataan Ans walau sebenarnya dia bertanya tanya, apakah pria itu tidak jadi pergi atau bagaimana.
"Kenapa memakai pakaian ini? apa kau tidak jadi pergi?" tanya Helena berharap jawaban Ans adalah tidak jadi pergi.
"Tentu saja jadi, aku hanya mau menggunakan pakaian ini dalam pesawat agar tidak membuatku risi" jawab Ans santai.
"Ohhh" lirih Helena yang kecewa karena jawabannya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan.
"Sudah ayo kita pergi" ajak Ans dengan senyum bahagianya.
Sikapnya seolah tidak peduli dengan murungnya Helena, senyum terus mengembang di bibi pria itu.
..."Apa kau sebahagia itu kerena mau pergi" batin Helena yang menatap sendu wajah suaminya....
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, karena Ans yang memerintahkan itu, dia mau menikmati perjalan mereka dengan santai, walau sebenarnya perasaanya sudah tidak sabar untuk sampai disana dan berduaan dengan Helena, tapi dia juga memikirkan kehamilan Helena.
"Kenapa kau murung terus Helen?" tanya Ans yang mendapati Istrinya tidak bersuara, dan lebih betah pada kebisuannya.
"Tidak ada" jawab Helena singkat.
Helena terus saja melamun, sampai dia tidak sadar jika jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju kediaman mertuanya, dan Ans yang mengetahui itu hanya tersenyum simpul.
Itu artinya dia tidak usah susah menyuruh Helena untuk tidur atau segala macamnya.
Mobil berhenti membuat lamuna Helena terhenti, dia mengedarkan pandanganya pada keadaan sekitar di mana orang orang lalu lalang disana.
"Bandara." lirih Helena.
__ADS_1
Bersambung...