
" pikirkanlah lagi, tidak ada salahnya untuk mencoba mendekatkan diri. Kamu tidak akan tau seperti apa sebenarnya perasaan santi padamu kalau kau berdiam ditempta yerus sepeeti ini." ucap riki panjang lebar.
Ruben tidak menjawab atau membantah, karna saat ini pikirannya melayang menerawang dan mengingat perjalan rumeh tangga mereka selama enam bulan ini, dan yang diucapkan riki benar bahwa ia sama selali tidak mencoba mendekatkan diri pada santi, bahkan terkesan ia menutup mata dan hatinya untuk memandang santi.
" aku akan pulang dan mencoba untuk lebih dekat dekatnya." batin ruben.
Riki yang melihat itu pun memikih untuk pergi dari ruangan ruben, ia ingin memberi waktu untuk ruben berpikir.
" aku mau pulang, dan pikirkanlah baik baik." ucap riki kemudian berlalu dari hadapan rube yang tetap bergeming dari lamunanya.
Ruben sudah sangat bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya karan ia memutuskan nanti ia akan pulang kerumah mereka berdua, dan saat pekerjaanya selesai, Ans datang keruangannya dan berkata.
" maaf tuan, kita harus segera keparis." ucap Ans penuh kuatir tapi masih berusaha untuk tenang.
" ada apa.?" tanya ruben datar karna ia tau bahwa ada masalah serius yang terjadi sehingga ia harus berangkat ke Paris mendadak seperti ini.
" proyek hotel yang sedang kita bangun sebagian roboh dan memakan korban jiwa tuan." jawab Ans memberitahu.
" apa..!" pekit ruben yang langsubg berdiri dari duduknya, ia terkejut dan emosi mendengar labar robohnya bangunan yang sedang mereka tangani di Paris.
__ADS_1
" iya tuan hotelnya sebagian roboh." kata Ans mengulang.
" kenapa.?" tanya ruben setelah berusaha meredam emosinya.
" menurut laporang karna bangunannya tidak kokoh tuan, dan menurut saya sepertinya ada yang memanipulasi dana pembangunan sehingga bahan yang dipakai saat ini afalah bahan yg tidak berkualitas." tutur Ans mengutatakan hasil pebyelidikannya.
" berani mereka mengusikku maka terima akibatnya. Ans kita berangkat.!" titah ruben dengan seringai liciknya.
Mereka langsung pergi menuju bandara untuk ke Paris, dan ruben pun harus mengurungkan niatnya untuk pulang kerumah untuk mendekati santi. " tunggulah sampai aku kembali, aku janji akan memperbaiki hubungan kita." gumam ruben dalam hati.
Setelah sekian lama menempuh perjalanan akhirnya ruben dan ans pun samapi di bandara negara Paris, mereka tidak menuju hotel maleinka mereka langsung lelapangan tempat proyek yang sedang dibangun.
Tidak ada yang berani melihat kearahnya, lidah mereka terasa keluh, berat untuk membuka suara, keringat dingin sudah mebasahai badan mereka yang ada disana.
" siapa yang bertanggung jawab disini.?" tanyan ruben datar.
Saling lirik melirik da senggol menyenggol sikut satu sama lain hingga mereka kemabli terkejut dengan bentakan ruben.
" Jawab saya.!" bentak ruben emosi.
__ADS_1
" sa..sa..saya tuan." ucao seseorang pria paru baya dengab terbata, badnnya gematran dahinya dipenuhi dengan bulir keringat pertanda bahwa saat ini ia sangat ketakutan akan kehadiran ruben.
" kau yang bertanggung jawab.?" tanya ruben datar.
" iy,,iya tuan." jawabya tergagap.
" jelaskan.!' perintah ruben to the point.
" sa.. say..saya juga tidak tau kenapa seperti ini tuan, ta..tapi saya sudah membelikan semua bahan yang berkualitas sesuai dengan perintah tuan.
Plak....
" kau tidak tau kenapa seperti ini.!" pekik ruben emosi.
" ampun tuan. Ampuni saya, saya benar benar tidak tau kenapa seperti ini, saya sudah mengikuti semua prooseduralnya dan juga sudah memberi bahan yang berkualitas tapi saya sungguj tidak tau kenapa seperti in tuan, ucapnya memohon dan berlutus didepan ruben.
" Ans, cari tau yang terjadi, dan kala benar dia berbohong maka kau tebas lehernya." perintah ruben dengan tegas.
" Ans hanya mengangguk sedangkan yang menjadi tersangka hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.
__ADS_1
Bersambung....