
Nara mengetuk pintu kamar Radith lalu membukanya perlahan, dia melihat anak sambungnya meringkuk dibawah selimut dan dia yakin jika Radith hanya berpura pura tidur dan itu terlihat jelas dari nafasnya yang tidak beraturan.
Melangkah perlahan menuju ranjang, lalu duduk disisi ranjang tepat dihadapan anak kecil itu, perlahan tangan Nara terulur menyingkap selimut dan dia melihat Radith yang rupanya menangis tapi berusaha ditahan oleh anak kecil itu.
Hati Nara pilu melihat air mata Radith, rupahya bocah tampan itu pandai berakting, dia akan bersikap dingin dan datar dihadapan orang lain tapi jika sedang sendiri seperti ini rupanya dia menangis dibalik selimut.
"Ohh Boy... maafkan Mommy jika menyakitimu" ucap Nara tak kuasa menahan perasaannya.
Nara meraih tubuh Radith agar bangun dan duduk seperti dirinya dan Radith hanya menuruti perintah ibu sambungnya dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.
"Jangan menangis Boy, maafkan Mommy jika membuatmu menangis, Mommy tidak tahan melihatmu seperti ini" keluh Nara dengan wajah sedihnya.
Radith menghapus air matanya, dia tidak suka melihat ibu sambungnya bersedih apalagi menanhis, "aku tidak menangis Mom, jangan bersedih" ucap Radith.
"Maafkan Mommy, jika kamu tidak mau kami pergi maka Mommy tidak akan pergi" ucap Nara meyakinkan Radith.
"Sungguh Mommy tidak akan pergi jika aku tidak mau Mommy pergi?" tanya Radith.
"Iya sungguh, Mommy tidak akan berangkat"
"Lalu bagaimana dengan Daddy? apa dia akan pergi sendiri?" tanya Radith.
"Tidak.. jika Mommy tidak pergi maka Daddy juga tidak akan pergi" jawab Nara tenang.
Radith menatap ibu sambungnya dengan lekat, melihat kesungguhan dari sorot mata itu, dan benar saja ibunya tidak berbohong, semua apa yang dikatakan benar adanya.
"Pergilah Mom" ucap Radith.
Nara tercengang mendengar perkataan Radith yang singkat tapi jelas dan mampu mengejutkan Nara, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakannya dan kini wanita cantik itu ingin memastikan pendengarannya.
"Apa yang kamu katakan Boy?" tanya Nara yang ingin memastikan pendengarannya.
"Pergilah, pergilah bersama Daddy" jawab Radith dengan yakin.
"Sungguh...?" tanya Nara.
"Sungguh tapi malam ini aku ingin tidur dengan kalian" kata Radith membuat Nara kembali kerkejut tapi sesaat kemudian tersenyum.
"Baiklah kita tidur bertiga" kata Nara membuat Radith tersenyum bahagia.
"Jadi kita deal?"
"Deal...ayo kita kekamar kalian Mom" ajak Radith.
Nara beranjak dan diikuti oleh Radith dengan wajah binar bahagianya menuju kamar Rajesh membuat pemilik kamar itu mengerutkan keningnya, pasalnya putranya sedang dalam mode marah tapi kini sekarang malah mencetak senyum bahagia.
__ADS_1
"Kau kenapa Boy? tidak marah lagi?" tanya Rajesh masih dengan kening mengerut.
"Tidak..." jawab Radith singkat.
"Ohh baguslah" jawab Rajesh yang merasa tidak perlu bertanya akan apa alasannya, tapi sesaat kemudian pria tampan itu kembali mengalihkan pandangannya melihat Nara dan Radith, menatap dengan penuh curiga.
"Lalu kenapa kamu disini? kenapa tidak tidak di kamar? ini sudah malam" ucap Radith.
"Ini aku mau tidur Dad" jawab Radith singkat.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan tidur disini malam ini" jelas Radith membuat Rajesh melototkan matanya.
"Kau jangan bercanda Radith"
"Tidak...yang dikatakan Radith benar, dia akan tidur dengan kita malam ini" ucap Nara dengan lembut.
"Sayang...are you kidding me?" tanya Rajesh.
"Tidak Mas, Nara akan tidur bersama kita malam ini" jawab Nara sekali lagi menjelaskan"
Rajesh melemas tak berdaya, padahal ini baru malam keduanya bersama Nara tapi sudah diganggu oleh bocah yang sangat menyebalkan padanya, ingin sekali rasanya Rajehs membuang putranya itu ke kutup Utara.
"Jangan merencanakan rencana Dad, karena kalian pergi besok berdasarkan keputusanku, Daddy tau?Mommy bilang, dia tidak akan pergi jika aku tidak mengijinkan" ucap Radith dengan senyum liciknya.
Rajesh semakin melotot mendengar perkataan anaknya, dia merasa tidak penting bagi Nara sehingga keputusan bulan madunya saja harus menunggu persetujuan dar bocah tampan itu dan lagi lagi Rajesh hanya bisa menggerutu dalam hati tanpa berani mengutarakannya.
"Ayo Mom, kita tidur" ajak Radith yang langsung dijawab anggukan oleh Nara.
"Boy, kau tua posisi yang semestinya?" tanya Rajehs yang kembali ingin menjalankan rencananya seperti kemarin saat dihotel.
"Tentu, lagi pula aku tidak berniat tidur bersebelahan dengan Daddy" jawab Radith.
Rajehs hanya mengelus dadanya, dia tidak mau lagi berurudan dengan bocah itu karena sudah yakin kalau hanya akan berakhir dengan dia yang akan kalah berdebat.
"Tapi sebelumnya kau suka tidur di sampin Daddy" sindir Rajesh.
Tapi bukan Radith namanya jika meresa terprovokasi oleh ucapan ayahnya, dia cuek saja seolah kata itu hanya hiburan semata, "benar tapi kini sudah ada Mommy" jawab Radith singkat.
"Anak ini ya..." decak Rajesh.
"Sudah kita tidur saja, jangan ada yang berdebat lagi" titah Nara.
Mereka bertiga tidur dengan posis Rajesh dan Radith saling memeluk Nara, membuat wanita cantik itu kesulitan untuk bergerak, "Bisakah jangan terlalu erat memeluk?"
__ADS_1
"Dad... jangan terlalu erat memeluk Mommy" ucap Radith yang malah menuduh ayahnya.
"Seharusnya kamu yang jangan terlalu erat memeluk Mommymu, karena tanganmu terlalu kecil" balas Rajesh tidak ingin mengalah.
"Jangan membuatku kesal Dad, lebih baik longgarkan saja pelukanmu" ancam Radith.
"Jangan mengancam Boy, itu tidak akan berpengaruh" jawab Rajesh tetap keukeh.
"Astaga... jika begini kalian tidur berdua saja, dan aku akan keluar" ancam Nara, dia sudah sangat pusing menhadapi perdebatan kedua pria yang berbeda generasi itu.
Dan seketika keduanya bungkam, serempak melonggarkan pelukannya juga membuat Nara ingin sekali tertawa tapi berusaha untuk ditahan.
"Kembali tidur" titah Nara.
Radith tertidur sedangkan Rajesh masih terjaga memastikan bocah Lima tahun itu tertidur dan setelah semua aman dirasanya, kini dia membangunkan Nara perlahan.
"Sayang....sayang bangun.." bisik Rajesh tepat ditelinga Nara.
Wanita cantik itu menggeliat karena sesungguhnya dia juga hampir menyelami alam mimpi tapi kembali tersadar kala mendengar suara Rajesh yang meminta dirinya bangun.
"Sayang... Mas tidak bisa tidur" rengek Rajesh masih dengan berbisik.
"Kenapa?" tanya Nara ikut berbisik.
"Karena tidak enak enak" jawab Rajesh membuat Nara membulatkan matanya, dia tidak percaya dengan suaminya ini, bagaimana bisa tidak bisa tidur karena belum melakukan olahraga malam.
"Ada Radith Mas...tahanlah sampai besok" bisik Nara lagi.
"Tapi berikan ciuman dulu, biar Mas bisa tidur" pinta Rajehs dengan manja"
Tak mau berdebat mengingat sudah malam dan matanya sudah sangat berat karena mengantuk akhirnya mengabulkan apa yang diinginkan suaminya.
Berpikir mungkin cuma ciuman saja tapi rupanya, Rajehs malah meraup bibir Nara dengan rakus dan penuh tuntutan membuat gadis cantik itu terkejut dan kewalahan mengimbangi kebrutalan ciuman suaminya.
Merasa sudah kehabisan nafas, Nara memilih melepaskan tautannya, tangannya mendorong keras dada bidang Rajehs hingga membuat pria itu bergeser posisi, "kau mau membunuhku Mas" pekik Nara tapi tetap mengontrol suaranya.
"Maaf sayang, Mas kelepasan" ucap Rajesh merasa bersalah melihar istrinya yang terengah.
"Sudahlah kita tidur lagi" ucap Nara dan langsung mengambil posisi untuk terlelap, begitu juga dengam Rajehs yang kembali melingkarkan tangannya diperut rata Nara dan ikut terlelap menyusul bocah tampan yang lebih dulu tertidur itu.
.
.
Bersambung....
__ADS_1