Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Masih Riko Lili


__ADS_3

" Maaf."


Lagi lagi jawaban yang bisa di berikan Riko hanya kata maaf dengan wajah memelas dari tunjukan pada Lili bahwa dia memang benar benar minta maaf.


Lili menghela napasnya melihat wajah memelas suaminya, tidak bisa bertahan dalam kemarahan jika Riko sudah menunjukan raut muka yang seperti itu.


Dengan penuh sayang Lili menghampiri Riko dan membatu membenarkan penapilan Riko


" Sini aku benarin dulu."


Lili mulai membetulkan pakaian Riko mulai dari celana Lili memasangkan resleting, kemudian baju yang Lili lepaskan dan kemudian mencari baju yang lain untuk di kenakan Riko karena baju yang tadi sudah basah oleh air yang menetes dari rambut Riko, baru setelah itu di susul dengan Lili merampikan rambut Riko tapi terleboh dahulu mengringkannya dulu barulah di sisir oleh Lili.


Selesai dengan itu, Lili hendak menyemprotkan parfum pada Riko tapi dia lupa jika Riko saat ini sangat sensitif dengan segala jenis wewangian.


Baru saja Lili menyemprotkan, Riko sudah menutup hidungnya dan berlari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya yang hanya cairan bening saja yang keluar.


Lili menyusul Riko ke kamar mandi, dia baru teringat jika suaminya ini tidak bisa mencium aroma apapun itu.


" Maaf ya sayang, aku lupa kalau kamu tidak bisa mencium aroma parfum." ucap Lili sembari memijit tengkut Riko.


Riko tidak menjawab karena masih sibuk dengan kondisinya yang terus muntah " Tidak apa apa." jawab Riko lemas setelah merasa sudah tidak muntah lagi.


Lili memapah tubuh Riko dan membaringkanya dia ranjang milik mereka " tunggu ya, aku ambilaan teh hangat sama bubur dulu." ucap Lili seraya pergi tanpa mau mempedulikan Riko yang hendak merengek lagi.


Bukan Lili tidak mau peduli tapi justru karena dia khawatir akan keadaan Riko sehingga berpikir kali ini harus tegas agar Riko mau makan.


Riko tidak bisa berbuat apa apa lagi, dia hanya menurut saja saat Liki tidak mau mendengar rengekannya lagi karena dia tau jika Lili masih kesal padanya dan dia tidak mau menambahkan masalah bagi dirinya.


Setengah jam kemudian Lii datang dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bibur, segelas air putih dan segelas teh hangat untuk Riko.


" Sayang ayo bangun makan dulu."


Lili mengguncang tubuh Riko yang ternyata sudah tertidur kerena menungguinya mungkin.


Riko menggeliat dan membuka matanya kemudian bergerak untuk duduk bersandar.


" Ini kamu makan bubur dulu ya."


Riko menggeleng tidak mau makan " Makan atau aku marah lagi."


Riko akhirnya mengalah dan dengan terpaksa dia makan walau terasa pahit tapi apa boleh buat dia harus makan agar macan yang ada di depannya ini tidak mengamuk lagi.

__ADS_1


Di tengah aktivitas Riko yang sedang mengunyah buburnya, bel rumah berbunyi dan hal itu membuat Riko berhenti tapi tangannya meraih ponsel dan mendial nomor seseorang.


" Jangan memencet bel rumahku! jika kau berharap ada yabg membuka kama kau tunggu saja sampai jamuran di luar."


Riko berucap dengan dingin karena dia yakin jika yang datang itu adalah asistennya yang sudah biasa keluar masuk dalam rumahnya, dan bel yang di bunyikan oleh Asistennya membuat Riko kesal karena merasa risih.


"Siapa sayang?" tanya Riko yang melihat ekspresi Riko berubah seratus delapan pulih derajat.


" Halim."


" Oh asisten kamu.?"


" Hm..." jawab Riko


Tak lama setelah itu pintuk kamar mereka di ketuk dari luar, dan itu adalah Halim.


Ceklek.


" Halim." panggil Lili


" Selamat siang nona." ucap Halim


Halim menurut dan mengikuti Lili masuk ke dapam kamar mereka " Selamat siang tuan."


" Hm." Riko menjawab hanya dengan deheman saja, raut mukanya mendadak berubah lagi menjadi dingin dan datar dan melihat hal itu membuat Lili tersenyum.


Terasa menggelitik melihat wajah suaminya di depan orang lain yang selalu berhasil membuat lawannya merasa terpojok atau gugup.


" Apa tuan sedang sakit.?" tanya Halim yang sungguh khawatir dengan bosnya.


" Apa kau tidak tau kalau aku sedang berbaring! artinya aku tidak sehat." ketus Riko.


Lagi lagi Lili hanya mengelus dadanya melihat sikap suaminya yang menggunakan otoritasnya sebagai bos, tapi saaat bersamanya saja Rko serperti anak balita yang selalu mau menempel padanya.


Sementara Halim hanya diam tanpa ekspresi karena sudah terbiasa menghadapi sikap tuannya yang semena-mena seperti ini, tapi yang sebenarnya yang Halim tahu kalau Rko adalah orang yang baik.


Bersikap seperti itu agar tidak ada orang yang meremehkannya, dan itu sangat Halim kenal karena dia yang sudah lama mengabdi kepada Riko


" Ini tuan muda berkas yang anda minta."


Halim mendekat dan menyodorkan berkas kepada Riko yang disambut dengan malas oleh Riko" Ada lagi?" tanya Riko malas.

__ADS_1


" Besok akan ada pertemuan dengan klient dan ini tidak bisa saya wakilkan tuan." jelas Halim.


Riko memutar bola matanya malas mendengar penjelasan asistennya sungguh Sebenarnya dia sangat tidak suka sekali tetapi jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi mau tidak mau mereka harus datang.


"Ya baiklah Saya besok akan ke sana kau jemput aku kemarin kan aku sedang malas menyetir" jawab Riko dengan tangan yang bergerak membolak-balikkan berkas dan mata yang terfokus pada berkas.


" Biklah saya permisi tuan." pamit Halim dan langsung perg dari sana.


Setelah kepergian Halim, Lili berjalan mendekat kearah suaminya dia berniat ingin menggoda Riko.


"Sayang perasaan beberapa menit yang lalu suamiku ini masih manja deh." ucap Lili dengan senyum yang melengkung di sudut.


Rico yang mendengar itu menegakkan tubuhnya kemudian menatap Lili dan berkata "Kenapa? kau tidak suka.?" tanya Riko memicingkan matanya.


"Bukan tidak suka hanya saja aku heran, perasan tadi suamiku ini masih manja tapi sekarang sudah seperti macan yang mau berburu saja." jawab Lili terkekeh.


" Ck, aku tidak mau jika bawahanku menganggap remeh diriku! makanya aku haru bersikap tegas dan berwibawa." ucap Riko bangga.


" Tapi kenapa denganku tidak?" Lili lagi lagi menggoda suaminya, dia ingin tau sampai mana ketegadan suaminya ini bertahan.


Dan benar saja, baru beberapa menit berubah menjadi CEO kini sikap kekanakannya kembali lagi.


" Sayanggg..." rengek Riko yang langsung membuang berkas kesembarang tempat dan menyerang Lili dengan ciuman brutalnya.


Dengan senag hati Lili menerima dan membalas lum***n dari RIko dan ide gila mulai muncul di benak Lili.


Wanita itu melayani suaminya dan menyentuh bagian bagian sensitif Riko hingga terdengar erangan niknat dari bibir Riko, karena sentuhan liar Lili.


Riko semakin bersemangat dan membalas istrianya dengan bergerlya kemana mana, hingga baru saja Riko ingin membuka pakaian Lili tapi terhenti karena perkataan Lili.


" Kau tidak lupa kan sayang kata dokter tidak boleh melakukannya dulu untuk kebaikan anak kita." kata Lili dengan senyum yang berusaha ia sembunyikan.


Mendengar perkataan Istrinya, Riko mengerang frustasi karena harus terhenti disaat sedang melayangnya ekspetasinya.


" Sayang... Bagaimana dengan juniorku." rengek Riko.


" Tidak tau, kau main solo saja." jawab Lili acuh dan pergi begitu saja.


Bersambung...


Nanti lagi ye gaesss😊😍😘😘

__ADS_1


__ADS_2