
Sampai di sana, Helena dan Ans langsung menuju hotel milik Ruben yang sudah mereka sepakati sebelumnya, Jenn sudah tertidur dalam pangkuan Ans dan Helena bersandar karena merasa sedikit pusing setelah melakukan penerbangan.
Sampai di sana, Ruben dan keluarganya sudah menunggu kedatangan mereka di lobi berasama Alvaro yang selalu berwajah dingin dan datar, dia sibuk dengan ponselnya tanpa mau tau urusan luar apa lagi mendengar ocehan Naya.
Sampai di sana, mereka turun dan Ruben susah menunggu, "akhirnya kalian sampai juga" ucap Ruben.
"Maaf tuan, kami sedikit terlambat" ujar Ans.
"Tidak masalah, lebih baik istrahat dulu kasihan Jenn yang suh tertidur"
"Baiklah, kami permisi" ucap Ans lalu pergi dan disusul Helena setelah berpamitan pada Santi.
"Selamat siang tuan muda Alvaro" sapa Ans tapi tidak ada sahutan.
Kanaya yang melihat kakanya tidak menjawab langsung bertindak melepaskan earphon di telinga Alvaro membuat bocah tampan itu merasa tertanggu dan menatap tajam saudara kembarnya
"Jangan mengangguku Naya!" ucapnya dingin.
Naya cemberut mendengar perkataan Alvaro, "Ckck... Kakak ini tidak bisa menghargai orang tua ya, paman Ans menyapamu tapi kaka malah cuek dan tidak menjawab!" ketus Kanara.
Alvaro yang tadinya menatap Kanaya adiknya kini mengalihkan perhatiannya pada Ans yanh di katakan Naya, seketikan pandanganya terpaku pada gadis kecil dan cantik yang sedang tertidur dalam gendongan paman Ans nya.
Walau tajam tatapan itu tapi terlihat ada tersirat makna yang berbeda melihat wajah teduh bocah cantik itu dan Ans hanya tersenyum melihat sikap anak bos nya itu.
"Kami masuk dulu tuan muda, kenalannya nanti saja" ucap Ans dengan senyumnya.
Alvaro tersadar karena perkataan Ans, ekspresi wajahnya kembali datar dan lagi lagi Ans san Helena hanya tersenyum melihat itu, Mereka melawati Alvaro yang kembali menatap Jenn dengan mata tajamnya.
"Kaka, apa dia anaknya paman yang namanya Jenn?" tanya Naya membuat Alvaro kembali melihat ke arah Kanaya.
"Jadi namanya Jenn?"
"Tidak tau" jawab Naya santi membuat Alvaro menggeram kesal.
"Ck kau bilang namanya Jenn!" ketus Avaro.
"Iya benar, tapi kan itu nama anaknya paman Ans"
"Hei jadi maksudmu dia bukan anaknya paman Ans"
"Bisa jadi" jawab Nara Asal.
__ADS_1
"Ck, dasar lola! tentu saja itu anaknya pama Ans, kalau tidak mana mungkin dia juga ikut" ketus Alvaro.
"Mana tau itu anak tetangga" celutuk Naya dengan kekehannya membuat Alvaro pergi menahan kesal.
Tak lama setelah itu Riko dan keluarganya tiba dan lagi lagi Ans menyambut mereka dan mempersilahkan untuk istrhat seperti Ans dan keluarganya tapi Miley tidak mau istrhat.
"Aku mau bertemu Varo pa" ucap Miley.
"Dia mungkin sedang isrtahat" jawab Riko dengan lembut.
"Tidak pah, itu mereka sedang duduk" tunjuk Miley.
"Mi.... kita istrhat dulu ya sayang nanti kalian mainnya" bujuk Lili.
"Tidak mau! aku mau bersama Naya dan Varo" teriaknya membuat beberapa pengunjung menatap ke arah mereka termasuk Alvaro dan Kanaya yang mendengar teriakan Miley.
"Ck..Gadis cerewet itu kenapa juga ikut!" ketus Alvaro tidak suka.
"Kakak ini bagaimana sih! dia kan Miley anak paman Riko dan tante Lili, lagian kenapa sih kakak tidak pernah suka dengannya?"
"Karena di sangat cerewet dan aku tidak sukan dengan yang cerewet" jawabnya dingin seraya mebalikkan badanya.
Tapi niat untuk pergi jadi urung saat mendapati Miley gang sudah berada di sampingnya dan memegang pergelangan tangannya.
"Tidak dan harusnya kau tidak udab datan!"
"Kenapa kau sangat dingin sekali!" ketus Miley, "tapi tidak apa apa, aku tetap suka dan aku mau menikah dengamu" celutuk Miley membuat para orang dewasa tertawa.
"Aku tidak mau menikah denganmu! kau sangat cerewet!" ucap Alvaro seraya menyentak lengannya membuat kedua tangat Miley terlebas dan mundur beberapa langkah.
Ruben dan Santi yang melihat itu sangat terkejut dan tidak suka dengan perbuatan anaknya "Alvaro...!" sentak mereja serentak.
Alvaro melihat bunda dan ayahnya secara bersamaan, tidak ada rasa bersalah apa lagi takut di matanya karena menurutnya apa yang di lakukan itu sudah benar dan dia mau orang tuanya paham akan hal itu.
"Kenapa kasar pada Mi Varo?!" tanya Ruben dengan suara datarnya.
Riko dan Lili yang melihat itu hanya diam, mereka bisa maklum jiwa anak anak memang seperti itu, mereka tidak marah justru merasa tidak enak hati melihat Ruben seperti marah pada sikap Alvaro.
"Kenapa ayah bertanya lagi, harusnya kalian tau jawabanya kalau aku tidak suka di sentuh oleh orang lain tapi bocah cerewet ini berani sekali menyentuhku" ujar Alvaro tak kalah dinginnya.
"Alvaro! kau tau dia bukan orang lain, dia anak dari sahabat ayah!" bentak Ruben.
__ADS_1
"Tetap saja dia orang lain dan aku tidak suka di sentuh kecuali bunda dan Nara!" teriak Avaro kemudian berlalu pergi menuju kamarnya.
"Avaro...!" teriak Ruben.
"Sudahlah Ben, kau jangan emosi seperti itu. Maklum jiwa anak anak memang seperti itu dan kau tau dia seperti dirimu" kekeh Riko akhir kalimatnya.
"Maafkan Varo ya Li" pinta Santi.
"Tidak masalah, namanya juga anak anak" jawab Lili dengan senyum tulusnya.
"Mi sayang, maafkan Varo ya, jangan bersedih" ucap Santi dengan lembut seraya mengelus pipi Miley dengan lembut.
"Tidak apa apa tante, nanti aku pasti bisa bermain lagi dengannya tapi kalau dia nakal lagi aku akan mencubit pipnya saja!" kesal Miley.
"Boleh, dan tante akan membantu Mi mencubit pipinya" jawab Santi dengan semangat.
Dan mereka pun semua tertawa bersama melihat Miley yang rupanya belum menyerah untuk mendekati Alvaro yang dingin itu.
Malam Harinya, sesuai dengan yang di rencanakan jika malam ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan ketiga pasangan itu yang di ramaikan oleh para karyawan Ruben yang bekerja di hotel dan restoran seluruh Bali.
Acara sudah di mulai, semua berlumpul dan berdiri di depan kue masing masing dengan anak anak yang menjadi pendamping mereka, acara berlangsung sangat meriah walau habya di hadiri oleh para bawahan Ruben tapu tetap semua berjalan penuh hikmat bahkan terksesan luar biasa karena bau kali ini mereka merayakan tanpa rekan bisnis.
Jenn duduk di salah satu meja, dia sedang menikmati kue yang ada disana setelah acar potong kue yang di lakukan oleh orang orang dewasa kini segmentnya adalah mengobrol dan mencari kelompok masing masing.
"Hei kau kenapa sendirian" tanya Alvaro dengan wajah dinginnya.
Sepertinya bocah tampan itu ingin berkenalam tapi gengsi masih menguasai penuh kesadaranya membuat dia masih berbicara dengan angkuh.
Tidak ada balasan membuat Alvaro kesal, baru kali ini ada orang yang tidak merespon dirinya, tidak mau menjawab bahkan tidak memandang dirinya sama sekali.
"Hei kau dengar aku tidak!" sentak Alvaro.
"Berbicaralah yang sopan dan bertanya dengan benar baru aku akan menjawab" jawab Jenn dengan acuh.
"Aku mau menikahimu nanti jika sudah dewasa!" ucap Alvaro dengan lantang.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Kuy mampir πΆπ