Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua, Semakin Pintar


__ADS_3

Riko tertawa gemes melihat sikap istrinya, Dia tahu jika istrinya tidak akan meninggalkan dia karena sudah pasti dia akan digandrungi sama bidan-bidan centil menurut panggilan Lili, sepanjang perjalanan mobil tidak terasa sunyi karena suara Miley yang terus berceloteh tanpa kejelasan suaranya, kadang-kadang dia akan berteriak kadang-kadang dia akan tertawa dan sesekali akan merengek kepada mama muda itu.


Sampai di rumah sakit khudu untuk posyiandu untuk imunisasi, Riko mengambil alih Miley dalam gendongan Lili, dan wanita itu sendiri mengaitkan tanganya di lengan Riko yang masih memiliki ruang.


Dan benar saja, ini lah yang paling tidak du sukai oleh Lili, tatap pria padanya dan tatap para wanita pada suaminta rerlebih bidan yang berlomba untuk menangani Miley agar bisa bisa berdekatan dengan Riko sanga ayah bayinya, dan sesekali bidan itu akan merasa gemas dan mencubit gemas kadang mencium pipi Miley membuat Lili semakin kebakaran jenggot.


Sementara Riko sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, selama para bidan itu tidak mengusik apa lagi menyentuhnya maka tidak masalah baginya.


"Ck, kenapa bida bidan centil itu lagi yang bertugas" decak Lili yang tentunya pasti di dengar oleh Riko.


Berhenti sejenak dan Riko kembali meletakan Miley di tangan Lili yang di sambut walau tidak mengerti oleh wanita itu, setelah Miley berpindah tangan kini Riko yang mengambil alih tas perlengkapan putrinya beserta tas Lili sendiri di tenteng dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainya dia lingkarkan di pinggan Lili memeluknya dengan posesif.


Lili tentu saja senang karena Riko melakukan itu berdasarkan inisiatif sendiri, seolah mengerti apa yang menjadi keinginannya tanpa sadar jika Riko melakukan itu karena memiliki alasan sendiri dan alasanya tak lain adalah karena mata pria pria yang jelalatan mulai memandang ke arah iistrinya.


Mereka terus berjalan, dengan sesekali Riko berbicara untuk mengalihkan perhatian Lili agar tidak menghiraukan tatapan pra hidung belang menurut Riko, hingga sampai dan duduk pun Riko belum melepaskan rangkulanya walau kini sudah berpindah pada bahu Lili dan mereka pun mulai asyik dengan dunia mereka sendiri tanpa menghiraukan tatapan bayak orang yang merasa iri akan keharmonisan keluarga kecil itu.


Jangan tanya kenapa tidak mengambil nomor antrian atau kenapa tidak mengisikan formulur lagi karena jauh saat pertama kali Riko datang untuk mendaftarkan Miley imunisasi, Riko sudah membooking satu dokter khusus untuk melayani mereka dan menangani putrinya agar tidak membuat putrinya merasa gerah karena menunggu.


Dan benar saja, setelah pasien yang baru saja keluar langsung di gantikan oleh Riko dan istrinya yang masuk menbawa Miley untuk imunisasi, walau sebelumnya sudah banyak yang menganti lebih dulu.


"Haii baby Miley... kamu semakin menggemaskan sekarang, tambah tembem dan makin membuat dokter saya pengen cium" sapa Dokter yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak.

__ADS_1


"Suster tolong timbang dulu," pinta Dokter, setelah itu tinggi pun di ukur dan masih banyak lagi yang di tanyakan Dokter pada pasangan itu selama satu bulan berjalan ini, serta mengatakan efek dari imunisasi kali ini agar orang tua tidak panik dan salah memberi penanganan nantinhya.


Selesai dengan itu semua, pasangan orang tuan muda itu keluar dan kini tujuannya adalah kembali kerumah, tapi sebelum itu Riko lebih dulu datang ke apotik rumah sakit untuk menebus obat sesuai yang di resepkan dokter untul Miley.


Tidak jauh berbeda dengan kegiatan pasangan yang du surabaya, kini Jenn sudah bisa mengoceh dan membeo semua yang di katakan, sudah bisa memanggi mama dan papa walau sebenarnya Helena sudah sering mengatakan kata bunda untuk di panggil tapi piji tuhan hanya bisa mengatakan nda saja tapi tetap saja lenih dominan kata mama yang sering terlontar


"Bunda....bunda dasi hitam ayah dimana?!" teriak Ans.


Sat ini dirinya sedang bersiap untuk berangkat ke kantor dengan Jenn yang berada di lantai berlaskan karpet bulu, sedang bermain dengan mainannya dab sesekali dia akan membeo perkataan Ans seperti yang baru saja di ucapkan Ans.


"Nda...na si tam ana..!"


Ans yang mendengar hal itu tertawa geli, dia tidak habis pikir anaknya benar benar cepat sekali menangkap setiap kata yang mereja ucakan walau hanya akhir kata tapi itu sudah benar benar kemajuan yang luar biasa bagi kedua orang tua itu, dengan segera Ans mengahampiri putrinya dan memangkunya kemudian menciun gemas pipi Jenn berulang ulang mempmbuat si penilik terkiki geli.


"Anan...anan.."


Saru kata yang terus terlontar daru bibir Jenn yaitu kata jangan, menyuruh ayah untuk tidak melakukan itu tapi rupa rupanya bukannya berhenti Ans malah semakin gencar menciumnya bahkan kini tangan Ans tak segan menggelitik perut Jenn membuat gadus balita itu semakin tidak kuat untuk tidak tertawa bercampur tangis meminta untuk di hentikan.


"Astaga ayahhh....! kenapa malah bermain! ayah tau kan ini sudah jam berapa? jangan main mulu deh, nanti lagi tapi sekarang harus kerja dulu" ucap Helena yang baru kembali dari dapur mempersiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.


" Ok bubda sayang" jawab Ans dengan segera.

__ADS_1


Helena sendiri memilih untuk memandikan Jenn karena setiap paginya tugas Ans yang akan menyiapakn air mandi untuk Jenn, sehingga Helena tidak perlua repot lagi untuk menyiapkan air.


"Nanti kalau sudah siap, ayah langsung turun ya" pesan Helana sebekum benar benar masuk kedalam.


Ans hanya mengedikkan bahunya acuh, karea sudah terbiasa Helena mengatakan itu tapi Ans tetap tidak akan mau mendengarnya, dia akan tetap menunggu istri dan anaknya selesai lalu akan turun bersama sama di meja makan.


Sepuluh menit kemudian Helena sudah kembali dia pun sudah segar, menggunakan sistem cepat untuk mandi karena tidak mau jika suaminya menunggu lama, tapi kembali Helena hanya bisa menghela napasnya mendapati Ans yang masih duduk manis dj sofa dalam kamar mereka memainkan ponselnya memposting beberapa foto keluarganya di sosmet yang entah sekali dalam beberapa bulan atau bahkan tahun.


"Ayah kenapa belum turun sih?"


"Bunda pasti sudah tau kebiasaan ayah buka? jadi jangan di tanyakan lagi" jawab Ans santai.


"Sudab bantu bunda pakaikan baju Jenn" pinta Helena yang langsung di anggukan oleh Ans.


"Dengan senang hati untuk putri cantik ayah"


Sementara Helena sendiri memilih untuk mengenakan pakaiannya, dia baju stelan untuk mempermudah dirinya jika sewaktu waktu Jenn merengek minta susu, setelah semua selesai dan Jenn pun sudah sangat cantik di dandani Ans dengan pita yang menjepit rbut Jenn mereka semua turun menuju meja makan.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2