
" Kamu masih ingat sayang saat teman mas yang bodoh ini datang pertama kali kerumah kita.?" tanya Ruben lembut dengan tangan terus mengelus kepala santi dengan lembut yang membuat seorang jomblo didepannya hanya bisa mengumpat.
" Hei.! jangan mengataiku bodoh terus. Akun ini tidak bodoh, Kalau aku bodoh aku tidak akan mungkin bisa mempimpin perusahaan yang besar.!" sergah Riko yang tetap tidak teriman dikatalan bodoh oleh Ruben.
" Diam kau.! aku tidak bicara padamu." jawab Ruben santai dengan mata tetap menatap istrinya.
" Cih.! dasar gila.! budak cinta.!" maki Riko.
" Sekali lagi kau mengumpatku, bersiaplah kau ku tendang dari rumahku ini.!" ucap Ruben yang kali ini menatap tajam kearah Riko.
" Hentikan.! Kenapa kalian selalu bertengkar." tegur Santi.
" Dia yang mulai sayang. Mas kan tadi lagi cerita sama kamu." kata Ruben manja.
" Bukankah kau yang mengataiku bodoh dan aku menegurmu.! tapi sekarang kau mengadu dengan lebainya pada istrimu." Sanggah Riko
" Tuh kan Sayang, mas gak ngomong sama dia loh." adu Ruben lagi.
" cih."
" Sudahlah, jangan ada yang bertengkar lagi. Dan kau mas.! jangan mengatainya bodoh lagi." tegas Santi.
Ruben langsung terdiam mendengar perintah istrinya. Ia menekuk wajahnya, sedangkan Riko terkiki geli melihat sikap sahabatnya yang menjadi seorang penurut.
" Lalu kenapa rupanya dengan kedatangan kak Riko saat itu.?" tanya Santi yang sudah mengubah panggilannya pada Riko menjadi kakak.
Mendengar Santi memanggil Riko dengan embel embel kakaK dan bukan mas lagi membuat semangat Ruben kembali lagi.
Ruben sangat senang kala mendengar itu, yang artinya ia berbeda denga Riko dan ia merasa lebih spesial bahi Santi.
" Jadi gini." Ruben menjawab dengan semangat. " kan diaau cari wanita yang di jodohkan denganya yang berasal dari kota yang sama denganmu dan ternyata orang itu adalah sahabat kamu Lili karyawan mas itu loh." jawab Ruben antusian dan hanya memandang istrinya dan mengabaikan Riko yang kembali menekuk wajah masamnya.
" Apa." pekik Santi tepat di telinga Ruben.
" Aduh sayang,,, jangan berteriak begitu dong kuping Mas sakit tau." ucap Ruben dengan mode ngambeknya.
" hehe maaf ya mas. Tadi itu reflek, kaget soalnya." jawab Sanri menyengir.
" tapi kenapa mesti di telinga mas sih." keluh Ruben.
" maaf ya mas." ucap Santi menundukan kepalanya merasa bersalah dan takut jika suaminya marah.
Melihat perubahan wajah suaminya membuat Ruben kembali mengubah ekspresinya menjadi sebuah senyum manis.
" Sudah jangan sedih. Tadi mas cuma bercanda kok." ucap Ruben terdengar sangat lembut.
" beneran mas gk marah sama aku.?" tanya Santi memastikan.
" Beneran sayang. Mas gak marah kok." ucap Ruben dengan kedua tangan mengapit pipip pipi Santi dang mengankatnya menghadap kerahanya dan.
__ADS_1
Cup..
Satu kecupan singkat mendarat dibibir Santi yang membuat ia sangat malu karna ada orang lain disana selain mereka saja dan tenti saja orang itu menyaksikan apa yang tengah mereka lakukan.
" mas." lirih Santi menundukan wajahnya.
" cium jha trus cium..dan Saya gak dianggap disini." celutuk Riko.
Santi semakin menundukan wajahnya saat mendengar celutukan teman suaminya itu, ingin sekali rasanya ia bersembunyi di lubang Semut agar tak bisa dijangkau mata tapi keadaan tidak mendukung karna rumahnya begitu besar dan tidak ada akses bagi semut membuat sarang disini.
" Makanya nikah." sindir Ruben.
" Gak ada calonnya." jawab Riko sekenanya.
" Loh bukannya Lili calonnya kak Riko.?" tanya santo bingung dengan jawaban enteng Riko.
" Tapi aku tidak mencintainya dan dia juga tidak mencintaiku. Intinya kami tidak cocok. jawab Riko.
" Kakak tau dari mana kalau Lili tidak menyukai kaka. Trus kalau seperti itu lalu bagaimana dong?" tanya Santi meminta keputusan.
" Yah,, gk tau deh." jawab Riko.
" Yudah batalkan saja jika tidak saling suka." Usul Santi.
" Udah tapi mamaku tidak mau dan katanya orang tua Lili juga tidak mau." jawab Riko lagi.
" Sayang bagaimana kalau kamu tanya dulu hal ini pada Lili." Usul Ruben licil karna ia tidak mau kalau istrinya tau tentang rencananya untuk Riko.
" oh iya ya. Aku mending tanya sama Lili dulu deh ya." pikir Santi.
" Iya tanyakan dulu padanya." Dukung Ruben.
" Yaudah aku kekamar dulu ya mas, kak Riko. Ponselku disana soalnya." pamit Santi.
" Iya sayang hati hati ya." jawab Ruben basa basi.
Sementara Riko yang melihat Ruben mengusei secara tidak langsung istrinya itu hanya diam saja karna ia tau kalau ruben punya rencana. Dan rencana itu tidak boleh diketahui istrinya.
Setelah kepergian Santi kekamar menelpon Lili. Ruben mengalihkan peehatiannya pada Riko dengan senyum yang penuh dengan rencana.
" Apa rencanamu." Tanya Riko datar.
" hahahaha kau sudah tau isi pikiranku.?" tanya Ruben terus tertawa.
" Tentu saja aku tau kalau kau punya rencana, melihat wajahnu yang penuh kelicikan " jawab Riko mengindir.
Tapi hal itu tidak di pedulika oleh Ruben karna memang benar apa yang dikatakan Kalaubia punya rencana.
" Sini mendekat." panggil Ruben dengan menjentikan jarinya kearah Riko.
__ADS_1
Dengan patus Riko menuruti mendekat kearah Ruben, mempersiapkan diri, memasang hati dan membuka telinga lebar untuk mendengar rencana apa yang akak disampaikan Ruben.
Ruben mendekat dan membisikan. " menikah kontrak saja padanya." ucap Ruben
" Hei.! kau sudah gila ya. Bagaima bis.- hmmmt" belum selesai Riko berkata, bibirnya sudah dibungkam oleh Ruben.
" hei pelankan suaramu. Nanti istriku bisa dengar.! dan kau dengarkan alasanku dulu." kata Ruben pelan tapi penuh penekanan.
" haaa haaaa." Riko menarik nafasnya banyak banyak akibat bungkaman Ruben yang membuatnya sedikit kesulitan bernapas. " Kakakan alasanmu." kata Riko pelan setelah nafasnya kembali normal.
" Aku bilang kalian menikah kontrak saja. kalian tentukan sampai kapan waktunya, apa saja yang boleh dan tidak boleh, kalian harus bagaimana didepan orang lain, dan apakah kalian tidur terpisah atau tidak. Dan yang terpenting ada kontak fisik atau tidak.?" Tutur Ruben panjang lebar.
" Hei kenapa harus begitu." tanya Riko.
" Agar kalian tidak ketahuan orang lain dan itu akan memidahkan kalian saat berpisah nanti karna sudah menjadi kesepakatan kalian bersama." ujar Ruben.
" Apa dulu kau seperti itu pada Istrimu itu." tanya Riko.
" ya kami seperti itu." jawab Ruben santi. ia melipat kedua tangannya di depan dada dan dan menyandarkan tubunya di sandaran sofa.
" Tapi bukankah kalian sekarang saling mencintai dan bahagia.?" tanya Riko.
" ya. Kau benar sekali dan mungkin saja nanti kalian juga akan begitu, apalagi Lili itu tidak punya kekasih seperti Santi saat kami menikah dulu." jawab Ruben.
" Tidak mungkin.! kami tidak mungkin sepeeti kalian yang saling mencintai."
" Kenapa kau berkata begitu." tanya Ruben.
" Karna kami sangat berbeda." jawab Riko.
" Berbeda bagaiman." tanya Ruben yang semakin tidak mengerti jawaban Riko.
" Aku dan dia iti bertolak belakang. Dia wanita bar bar, yang tidak punnya sisi lembut sebagai wanita, dan aku tidak suka itu." jawab Riko dan menghela napasnya panjang. " dia.....sangat jauh berbeda dibandingkan kekasihku itu." lamjut Riko.
" Tidak ada yang tidak mungkin. Karna aku sudah mengalaminya "
" AKu tidak akan tertarik." jawab Riko tegas.
" Baiklah kalau kau sudah keukeh dengan hal itu. Tapi tetap saja coba lah dulu sarank ini. Dan kau harus membicarakan ini padanya terlwbih dahulu." putus Ruben yang melihat jam sudah menunjukan pukul lima Sore yang artinya Riko sudah berada disana selama tiga jam.
" Sdahlah kau pulang. Ini sudah sore." usir Ruben.
" Kau mengusirku." tanya Riko menunjuk dirinya sendiri.
" Kau sudah tau kan.? jadi pulangnya pintu ada didepan."
" Cih.! kau ini. baiklah aku pergi dulu." Pamit Riko dan Ruben melangkah menuju kamar mereka.
Bersambung...
__ADS_1