Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Derita Bos dan Anak Buah


__ADS_3

"Sayang..." panggil Ans yang melihat Helena membawa cangkir kopi di tangannya.


"Ini kopimu" ucap Helena dan meletakannya di atas nakas dekat sofa yang di duduki oleh Ans.


"Terimakasih sayang" ucap Ans san menari Helena agar duduk di atas pangkuannya.


Helena hanya menurut, dia sudah mulai membiasakan dirinya untuk semua perlakuan Ans padanya, apa pun itu dia hanya menikmatinya.


Sedangkan Ans kembali melanjutkan kegiatannya membaca laporan yang tidak sempat dia pelajari di kantor dengan fokus mata dan pikiran di sana sedangkan tangannya kananya tidak berhenti mengelus lembut punggung Helena.


"Aku turun saja ya, tidak enak nanti tidak fokus" ucap Helena yang takut jika suaminya tidak fokus pada pekerjaanya.


"Diam dan tetap tenang" jawab Ans tanpa mengalihkan pandangannya.


Helana pun menutup bibirnya, dia lebih memilih menyandarkan kepalanya dada bidang Ans dan mulai memejamkan matanya untuk tidur.


Dan Ans yang melihat itu tersenyum tipis, kemudian mencium pucuk kepala Helena dengan sayang dan kembali melanjutkan kegiatannya.


Kring Kring


Ponsel milik Ans berbunyi dan itu membuatya Helena kembali membuka matanya dan berkata "aku ambilkan" ucapnya dan langsung berdiri mengambil ponsel Ans yang ada di atas nakas.


"Tuan Ruben" ucap Helena kembali berjalan dan menyodorkan HP milik Ans.


"Terimakasih sayang" ucap Ans.


Sebelum Ans benar benar menjawab panghilannya, dia kembali menyuruh Helena untuk duduk di pangkuannya dan Helena pun kembali menurut.


"Hallo tuan" jawab Ans dengan malas.


Ans menjawab dengan malas, san bibinya terus menciumi pipi istrinya dan sesekali mencium leher Helena yang tidak tertutupi.


"Ans, dimana istrimu?" tanya Riko di sebrang sana.


Ans yang mendengarnya menyerngit heran akan pertanyaan Ruben yang menanyakan keberadaan istrinya "ada apa tuan mencari istriku, lebih baik tuan cari nona Santi saja" jawab Ans datar.


"Hei bod*h! kau jangan berpikir macam macam, aku menanyakan tentang istrimu karena istriku yang memintanya bukan keinginanku juga!" sentak Ruben dari sebrang sana yang merasa sangat kesal sekali.


"Lalu kenapa bukan nona saja yang bicara?" tanya Ans yang masih datar.


"Hei jangan banyak bertanya! aku yakin kau bersikap seperti ini karena tidak suka kan jika aku bicara dengan istrimu" teriak Riko.

__ADS_1


"Tuan sudah tau jawabanya kan jadi biar nona muda saja yang bicara padaku"


"Kau benar benar mengundang emosiku Ans! apa kau pikir aku juga akan membiarkan istriku berbicara padamu! jangan mimpi kau" ucap Ruben.


Ans terdiam mendengar perkataan Ruben, dia baru sadar akan hal itu mengingat bagaimana sikap Ruben terhadap istrinya, jika dia saja bersikap seperti ini, berarti jangan di tanya bagaimana Ruben.


"Baiklah berikan saja HP nya pada nona dan aku juga akan memberikan ponselku pada istriku" ucap Ans menekan kata terakhirnya.


Ruben mengiayakan dan melakukannya, begitu juga dengan Ans yang berbicara dengan Helena.


"Sayang, istri dari bosku ingin berbicara denganmu" ucap Ans membelai lembut pipi Helena.


"Denganku?" tunjuk Helena pada dirinya sendiri.


Ans mengangguk sebagai jawaban "iya dengamu"


"Tapi kenapa? ada urusan apa istrimu bosmu ingin berbicara padaku?" tanya Helena yang masih belum mengerti.


"Mungkin dia ingin berkenalan denganmu" jawab Ans menebaknya, karena memang hanya itu yang terlintas di kepalanya.


"Baiklah" jawab Helena mengambil ponsel Ans dan menempelkanya tepat di telinganya.


"Hallo" ucap Santi dari sebrang sana.


"Hallo" ucap Santi yang tidak menerima jawaban.


"Eh iya iya nona" jawab Helena.


"Boleh aku tau namamu?"


"Namaku? tentu saja boleh nona, namaku Helena saker" jawab Helana.


"Salam kenal ya Helena, aku Santi istri Ruben.


"Iya salam kenal nona, saya senang bisa berbicara dengan istri dari suami saya" ucap Helena dengan sopan.


"Jangan panggil aku nona Helen, aku tidak suka mendengarnya! cukup suamimu itu yang selalu memanggilku seperti itu".


"Jadi aku harus memanggilmu apa nona?" tanya Helena yang membuat Santi berdecak kesal disebrang sana.


"Jangan memanggilku nona Helen, cukup kau panggil namaku saja" jawab Helena.

__ADS_1


"Tapi itu tidak sopan nona".


"Santi, coba panggil aku Santi"sela Santi dengan suara tegasnya.


"Yah, baiklah Sa Santi" jawab Helena ragu ragu


Iya menatap suaminya, dia takut jika dia akan di tegur oleh Ans jika mengiayakan keinginan Santi memanggilnya hanya dengan sebutan nama saja, tapi ternyata Ans malam tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban dari tatapan Helena.


"Oh ya Helen, apa kau bisa memberiku momormu? aku ingin bicara dan bertan dengamu tapi sepertinya suamiku ingin bicara serius dengan suamimu jadi tidak bisa menyita ponsel mereka terlalu lama" keluh Santi.


"Baiklah, catat nomorku Santi" jawab Helena.


Selesai mereka bertukar nomor ponsel, kini ponsel suami masing masing kembali di mereka, karena kini kedua wanita itu sudah melanjutkan obrolan meraka di HP milik sendiri.


"Ans, bagaimana dengan laporanmu?" tanya Ruben setelah ponselnya kembali ke tangannya.


"Saya masih menelitinya tuan, beri waktu setengah jam maka laporannya akan selesai".


"Baiklah aku tunggu".


Ans kembali melanjutkan pekerjaanya, karena sebentar lagi harus dikirimkan pada atasanya, sedangkan dua orang wanita itu terus saja berlanjut untuk bercerita.


Rupanya mereka cepat sekali akrab hingga kini Helena lebih memilih duduk berselonjor kaki di atas ranjang ketimbang duduk dipangkuan Ans.


Santi pun melakukan hal yang sama, dia menyuruh Ruben menjaga anak anaknya, dan dia bertelpon ria dengan Helena yang sepertinya bisa dijadikan teman menghibah.


Setengah jam kemudian, Ans telah selesai tapi rupanya istri kesayangannya itu belum selesai pada kegiatannya bertukar cerita istri bosnya.


Ans masih mengabaikannya dan membiarkan istrinya melanjutkan pembicaraanya, dan dia sendiri pun melanjutkan pekerjaan mengirim email pada Riko yang berisi Laporan bulanan mereka.


Selesai dengan itu, akhirnya Ans menghela napasnya dan menggeleng, rupanya mereka belum selesai dan itu membuat Ans kesal, karena dia tidak bisa bermesraan pada istrinya


"Tuan, nona sungguh keterlaluan menyabotase waktu istriku sehingga aku terabaikan" keluh Ans dalam pesan dan mengirmkannya pada Ruben.


Tak lama setelah pesannya terkirim, Ans mendapat balasan yang rupanya memiliki nasib yang sama bahkan lebih parah karena di suruh menjaga anak.


"Apa kau pikir hanya kau saja! aku juga begitu bahkan aku di suruh untuk menjaga anak anakku" balas Ruben.


Ans ingin terbahak membaca pesan Ruben, tapi niatnya urung saat memikirkan jika dia menertawakan Ruben maka sama saja menertawakan dirinya yang sama nasibnya, hanya saja dia sedikit lebih beruntung karena tidak di suruh menjaga anak karena memang belum ada.


"Benar benar kasihan nasib mu tuan, harus jadi bucin pada nona" balas Ans yang ingin memanasin Ruben.

__ADS_1


"Lalu bagaimana denganmu? apa tidak bucin? jangan bilang tidak karena aku tidak akan percaya, contoh nyata sekarang sedang berlangsung" balas Ruben yang membuat Ans langsung diam dan membuang ponselnya sembarang.


Bersambung....


__ADS_2