Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
suka suka lagi


__ADS_3

Nara menelapskan diri dari pelukan nyaman kakaknya, memangdang lekat Lionel dan menelisik apakah kakaknya sungguh ingin melakukan hal memalukan itu lagi.


"Kakak seius ingin melakukannya lagi?"tanya Nara dengan wajah masih tak percaya.


"Tentu saja serius, Kakak ingin kita main masak masak lagi, main Barbie seperti dulu menghabiskan waktu yang tersisa, bagaimana? kami mau tidak?" tanya Lionel.


Nara berkaca kaca, merasa terharu dengan kakaknya yang selalu menjadikan dirinya adik yang paling berharga, tidak pernah marah jika Nara berbuat salah bahkan yang paling fatal sekalipun dan itu kadang membuat Nara menjadi sangat bersalah dan berdosa karena sudah menyakiti orang orang yang mencintainya.


Dengan antusias Nara mengganggukkan kepalanya, rasanya sudah sangat lama tidak ada waktu bersama dengan kakaknya dan kini kakaknya dengan rela hati mau meluangkan waktu lalu untuk apa Nara menolak kesempatan yang ada.


"Tentu.. tentu saja adikmu ini mau kak" jawab Nara dengan setetes air mata lolos dipipinnya.


"Sudah kakak katakan sejak dulu hingga kini bahkan nanti sekalipun tidak ada yang boleh membuatmu menangis sekalipun itu suamimu" kata Lionel dan kembali tangannya menghapus jejak air mata dipipi Nara.


"Sudah ayo kita bermain, kakak sudah membelikan semua peralatan yang kita butuhkan dan mungkin sekarang sudah datang" ajak Lionel.


Dan benar saja dugaan Lionel jika pesanan mereka sudah datang karena kini Martha sudah berada didepan pintu kamar Nara hendak mengetuk pintu kamar, "oh kau sudah keluar, aku ingin mengatakan pesananmu sudah datang" kata Martha.


"Baiklah, kami juga ingin turun" kata Lionel dengan sangat lembut pada istrinya.


"Kakak...." panggil Nara pada Martha.


"Ada apa sayang.."


"Apa kakak tidak keberatan waktu kak Lionel denganku?" tanya Nara ragu ragu.


Nara bertanya ingin memastikan keadaan rumah tangga kakaknya, walau Nara adalah adikt sekaligus putri bungsu dikeluarga Saker tapi tetap saja dia tidak bisa berbuat sesuka hatinya.


Dengan senyum tulus Martha berikan pada Nara, "tidak masalah, habiskanlah waktu kalian berdua... kakak akan sibuk juga mengerjakan pekerjaan lain dan dari pada kakakmu mengganggu kesibukanku ya... lebih baik saja kau yang diganggu" kata Martha disusul dengan kekehanya.


Lionel mendengkus sebal dengan perkataan istrinya tapi sebenarnya dia tau istrinya berkata seperti itu karena tidak ingin membuat Nara merasa tidak enak hati dan hal itu membuat Lionel sangat bangga kepada Martha, rasa cintanya semakin bertambah dengan sikap istrinya yang bisa menyayangi keluarganya dengan tulus.


"Terimakasih sayang .." kata Lionel dengan senyum lembutnya.


"Bermainlah, aku akan membantu Ibu di dapur" kata Martha lalu meninggalkan kedua orang yang saling menyayangi itu.


"Ayo kita lihat alat bermain kita" ajak Lionel yang dijawab anggukan oleh Nara dan mereka segera menuruni tangga.


"Wahhh kakak serius membeli semua ini?" tanya Nara dengan binar bahagia yang tidak bisa disembunyikan lagi.


"Tentu saja, kan kakak sudah katakan jika kita akan bermain sepanjang hari dan nanti malam kau akan tidur dengan Kakak seperti dulu"

__ADS_1


"Kakak jangan seperti itu, Kak Martha nanti akan marah"


"Tidak akan sayang, apa kamu tidak melihat bagaimana kakak iparmu menyayangi diirmu seperti kami?"


"Aku tau itu Kakak, aku sangat tau kak Martha sangat tulus dan itulah yang membuatku sangat menyayanginya juga" kata Nara membuat Linonel tersenyum.


"Sudah, ayo kita keruang bermain" ajak Lionel.


Dan pada akhirnya kedua kakak beradik itu menghabiskan waktu hingga matahari terbenam, hanya di ruang bermain mereka dulu saat kecil bahkan mungkin karena kelelahan keduanya tertidur disana karena memang ruangan itu selalu terawat dengan baik dan itu atas perintah Anan yang tidak ingin kenangan anak anaknya hilang karena tempat yang tidak terawat.


"Kemana anak anak Bu?" tanya Anan.


"Di ruang bermain" jawab Naina.


"Loh belum kelar kegiatannya?"


"Belum, buktinya mereka belum keluar"


"Mereka sedang tidur Yah, disana" kata Martha memberitahu apa yang terjadi disana karena memang tadi istri Lionel itu sudah mengeceknya dan hasilnya itulah yang terjadi.


"Anak anak itu,kalau sudah bermain tidak ingat waktu lagi bahkan Lionel saja tidak ada waktu lagi dengan istrinya" decak Anan.


Anan tersenyum, dia tidak salah pilih pasangan untuk Lionel karena memang Martha hanya menunjukkan ketulusan, bukan kepalsuan belaka seperti cerita novel novel tentang menantu yang pura pura baik.


"Terimakasih Nak, kau memang yang terbaik untuk putraku dan Ayah tidak salah pilih pasangan untuknya"


"Terimakasih juga karena Ayah sudah menjatuhkan pilihan padaku, padahal ada banyak Putri Putri bangsawan lainnya yang jauh lebih baik dariku tapi Ayah malah menjodohkanku dengan Mas Lionel, pria yang mencintaiku dengan begitu besar walau pertemuan kami karena perjodohan" kata Martha tulus dan memang itulah kenyataanya.


Naina memeluk menantunya dengan sayang, mungkin benar kara orang orang, keluarga yang baik akan mendapatkan orang orang baik pula dan itu dirasakan oleh Naina saat ini, menantu perempuannya tulus pada keluarganya ditambah Rajehs juga yang sebentar lagi akan menjadi anggota keluarganya dan bisa dilihat ketulusan Rajesh pada keluarganya.


"Bangunkan saja mereka, ini sudah mau malam biatkan mereka membersihkan diri terlebih dahulu" kata Naina.


"Baiklah Bu, aku bangunkan dulu mereka" kata Martha lalu pergi untuk membangunkan suami dan adik iparnya.


"Mas... mas Hanung... Nara... Nara Bangun.. ini sudah malam loh, bersihkan diri dulu kalian"


Martha membangunkan keduanya bergantian membuat kadua kakak beradik itu sontak meggeliat dan perlahan membuka mata, "sayang ini sudah jam berapa?" tanya Lionel dengan suara seraknya.


"Ini sudah jam enam lewat mas, bangun dan bersihkan diri dulu" kata Martha membuat keduanya sontak terbangun dari posisi tidurnya.


"Astaga... kita tidak ingat waktu" pekik keduanya bersamaan.

__ADS_1


Martha hanya menggeleng lucu dengan tingkah keduanya, adik kakak yang sangat kompak menurut Martha.


"Kompak sekali kalian" sindir Nara membuat keduanya lagi lagi menyengirkan gigi.


"Maaf sayang, kami tidak ingat waktu" sesal Lionel.


"Tidak masalah, lagian hanya hari ini saja kalian seperti ini" jawab Martha dengan senyum hangatnya.


"Kakak jangan marahai kak Lionel ya nanti di kamar" kata Nara berniat menggoda kakaknya.


"Hei apa maksudmu? kau pikir istri kakak garang begitu ha...! enak saja, Kaka iparmu tidak akan tega memarahi suaminya sendiri" kata Lionel dengan percaya diri.


"Ya ya ya semoga saja benar yang Kakak katakan"


"Tentu saja benar"


"Sudah jangan berdebat, segera keluar sekarang sebentar lagi waktunya makan malam" lerai Martha yang langsung dimenurut Nara dan Lionel.


Beberapa saat kemudian, semua sudah berkumpul di meja makan, lengkap tanpa ada yang berkurang seperti lima tahim terkahir dan itu sangat membuat hati Naina dan Anan menghangat menyaksikan anak anaknya kembali berkumpul walau bersamaan dengan itu rasa sedik menghantam karena putri kesayangan keluarga Saker akan pergi membentuk keluarganya sendir.


Mereka makan dalam diam, tidak ada yang bicara sama sekali, rasanya kelu apalagi jika pembicaranya menyangkut pernikahan Nara yang sudah jelas akan ada perpisahan dalam keluarga mereka, dan Nara juga merasakan hal itu membuatnya tidak ingin ada moment sedih untuk malam ini.


Selesai makan, mereka kini duduk diruang tamu dan lagi lagi keheningan kembali terjadi diantara mereka, rasanya sangat enggan mengatakan jika mereka baik baik saja walau tidak bisa dipungkiri kebahagiaanpun ada tapi rasa sedih jauh lebih mendominasi.


Tak tahan dengan keadaan yang mencengkram membuat Nara akhirnya mengambil inisiatif, membuka obrolan terlebih dahulu, "Ayah... Ibu... ayo kita menonton kartun lagi" ajak Nara.


Semua menatap kearahnya, sontak membuat mereka tertawa, semuanya sangat ingat dulu saat masa kecil Nara dimana gadis cantik itu akan mendominasi TV dan menyalakam kartu kesukaannya.


"Lionel yang tau apa maksud adiknya ikut menyetujui, "ya benar... sudah lama tidak menonton kartu bukan" timpal Lionel.


"Baiklah, Lionel catokan kartun kesukaan kita" kata Anan.


"Kesukaan kita hanya Barbie dan putri rasa Ayah, Rapunzel juga termasuk, jadi mana yang lebih dulu kita putar?" tanya Lionel.


"Rapunzel..." seru Anan, Naina, dan Nara bersamaan.


"Ya baiklah Rapunzel segera meluncur...." seri Lionel dan kartunpu mulai diputar.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2