Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Cucu


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Ruben, sedang heboh hebohnya, karna para orang tua yang datang setelah mendengar berita kehamilan Santi.


Terutama sam mama mertua Dila yang sudah sejak lama menginginkan seorang cucu dan kemarim penantiannya telah terjawab dan ia alan segera memiliki cucu


" Aduhhh..Mama sangat senang deh, bentar lagi mama akan punya cucu." ucap mama girang seperti mendapat lotre saja.


" Saya juga bu, udah gk sabar gendong cucu dari anak gadisku ini." Ucap bunda tak kalah girang.


" Iy bu, nanti kalau udah lahir, kita harus tinggal disini untuk bermain sepuasnya dengan cucu kita."


" Ah,, itu ide yang sangat bagus." Sahut bunda tidak kalah semangat.


Mereka masih saja bercerita ria tentang jabang bayi di dalam perut Santi, dan hal itu hanya di tanggapi gelengen oleh yang lainnya.


" Astaga maa... Cucu kita itu masih lama lahirnya loh, kok udah heboh saja sih." tegur papa.


" Iya nih, bunda juga begiu." Timpal ayah.


" Aisssh kalian ini bagaimana sih.! ketus Mama. " memangnya kalian gak senamg gitu kalau kita punya cucu." gerutu Mama.


" Iya ayah, emang ayah gak senang gitu." ucap bunda ikut menimpali dan tak kalah ketusnya.

__ADS_1


Santi dam Ruben hanya geleng kepala, senyum kebahagiaan jelas sekali terpancar dari wajah keduanya, apa lagi saat melihat kedua pasangan orang tua itu bahagia.


"Oh ya sayang, nanti kalau mau belanja keperluan baby kabari mama ya, karna mama juga mau membeli keperluan cucu mama." kata mama pada Santi. " Dan mama sama papa akan tetap tinggal disini lagi." lanjut mama


Papa Prastya yang mendengar penuturan istrinya, hanya bisa tersenyum tipis. Bagaimana mungkin istrinya mengubah keinginannya secepat itu hanya karna kehadiran baby dari putrnya itu.


" Bukanya mama bilang mau menua di tempat favorit mama.?" tanya Papa yang berniat menggoda istrinya


" Gk jadi pah, mama mau disini saja sama cucu kita." jawab mama cuek.


" Kok mudah sekali mama berubah pikiran." lagi lagi papa menggoda san istri.


"ikhh papa ini gimana sihh.! cucu kita lebih penting dengan cita cita mama." jawabnya ketus.


" Sekatang gak lagi." Jawaban cepat dari sang mama. " Oh ya nanti bunda juga nanti tinggal di sini saha biar bisa belanja bareng gitu." lanjut mama yang kali ini tertuju pada besannya.


" Kalau saya sih terserah ayah saja. Aku mah ngikut." jawab Bunda sambil mengarakan pandangannya menatap sang suami.


" Ayah kan kerja bun. Bagaimana dengan pekerjaan ayah.?" jawabn ayah dari tatapan bunda.


" Ayah pensiun saja." kali ini Ruben yang menjawab

__ADS_1


" Pensiun." gumam ayah dan bunda bersamaan.


" Iya yah. Ayah pensiun saja trus tinggal bersama kita disini, iyakan mas." tanya Santi yang menyetuji usulan suaminya dan dia pun menbahkan usulannya.


" Iya sayang.. Apapun untukmu." jawab Ruben lembut dengan tangan mengelus lwmbut pipi sanh istri.


Hal itu tentu saja membuat kedua pasangan paru baya itu ikut tersenyum bahagia melihat rumah tangga anak mereka yang sudah sangat harmonis sekarang.


" Gimana yah, bun.?" tanya Santi dengan wajah yang penuh harap akan di ikuti oleh kedua orang tuanya


" Tapi kalian tau kan, kalau ayah bekerja di pemerintahan, jadi tidak mungkin segampang itu untuk pensiun." jawab ayah berniat menolak.


"Tenang saja, Ruben yang akan mengurus semuanya untukmu jika kamuang setuju dan saya pun sangat setuju akan hal itu." kata papa Prasetya yang di angguki semua orang.


" Iya yah, bunda pengen di sini saja namanin anak kita selama dia hami." kata Bunda yang berharap suaminya menyetujui keinginanya dan putri mereka.


Melihat semuanya yang berharap dan lagi wajah putrinha yang sudah memelasa memandang kearahnya, membuat sang ayah mau tak mau mengiyakan keinginan istri dan putrinya.


" Baiklah ayah akan pensiun dan tinggal bersama kalian." jawab Ayah pada akhirnya.


Semuannya tersenyum lega mendengar jawaban ayah, terutama Bunda dan anak itu sangat senang karna akbirnya mereka a

__ADS_1


kan tinggal satu rumah lagi


Bersambung....


__ADS_2