
Saat ini kedua insan itu sedang berada di restoran untuk makan siang, meskipun sudah lewat tapi tak apa yang terpenting mengisi perut, karna itu pun karan cibirab dari Lili.
Sebelumnya, saat urusan mereka selesai, dan Riko yang langsung ingin pulang dan kembali kekantornya berniat lebih dulu untuk mengantarkan Lili kembali ke kontrakan.
Tapi baru saja beberapa meter mobil bergerak, bunyi keroncong terdengar dan itu berasal dari perut Lili, hal itu tentu saja di dengar oleh Riko dan ia baru tersadar kalau mereka belum makan siang dan ini sudah pukul dua siang yang artinya waktu makan siang mereka sudah lewat dua jam.
" Kau lapar." tanya Riko dengan tidak merasa bersalah.
" Kau sudah tau lalu untuk apa bertanya lagi " ketus Lili yang mulai berubah tensinya, mingkin karna efek lapar, sehigga membuat moodnta tidak baik.
" Kenapa kau tidak makan.?"
Lili memberenggut kesal mendengar perkataan Riko, bagaimana mungkin pria ini menanyakan hal itu padanya, jelas jelas dialah yang menjadi penyebabnya.
" Bagaiman akubbisa makan jika kau menyita waktu makan siangku."
" Bukan kah kau tadi terlambat sepuluh menit, jadi aku pikir mungkin saat itu kau sedang makan siang."
" Hei.! kau pikir sepuluh menit itu cukup apa.! tentu saha tidak." teriak Lili.
" Lalu apa yang kau lakukan selama sepuluh menit itu."
" Tentu saja untuk menyelesaikan pekerjaanku, memangnya apa lagi ha."
" Akut tidak tau apa yang lakukan."
" Kau benar benar menyebalkan ya."
" Sudahlah diam dan kita akan mencari restoran untuk makan siang, karna aku juga belum makan siang karna menjemput dan menunggumu." kata Riko dengan mata yang melirik kiri kana untuk mencari restoran.
Sampai di restoran, Lili dan Riko langsnung memesan makanan dan tak lama pesanan mereka datang, dengan tidak sabar Lili melahap makananya karna sudah dari tadi ia merasa sangat lapar.
" Kau pelan pelan makannya, tidak akam ada yang merebutnya darimu." omel Riko tapi tidak di indahkan oleh Lili.
" Hei nanti kau keselek bag.-"
Belum selesai kata Riko, LIili sudag terdendak makanannya. Uhukk uhuk."
Dengan sigap Riko meraih minumannya dan memberikanya pada Lili dan Lili langsung saja merebut minuman itu dan meneguknya.
"Haha..Haha.." Lili mengatur nafasnya setelah meneguk menuman dari Riko.
__ADS_1
" Kan aku sudah bilang kau pelan pelan makannya jadi begini kan." Riko masih melanjutkan omelannya.
" Aissh kau ini. Aku itu sangat lapar makananya begini." rajuk Lili dengan bibir yang sudah mengerucut.
Melihat hal itu, sejenak perasaan Riko bergetar. Baru tingkah rajuk yang ditunjukan dan hal itu membuat Riko sedikit senang, apalagi jika nanti tingkah manjanya, pasti akan membuat Riko sangant gemas. mungkinkah itu akan terjadi.? Riko sendiri tidak tau.
Riko menggeleng mengusir rasa yang sempat terselip itu, dan tingkahnya itu tentu saja di ketahui oleh Lili.
" Kenapa kamu geleng geleng begitu."
" Tidak ada. cepat habiskan makananmu." titah Riko untuk mengusir rasa malunya karna ketahuan oleh Lili.
Sedangkan Lili tidak lagi bersuara, melanjutkan acara makannya dengan pelan sekarang, makan dalam diam dan penuh nikmat
Selesai makan, Riko langsung melajukan mobilnya kembali menuju kontrakan Lili, karna tidak lagi memungkinkan jika Lili kembali lagi kekantor mengingat waktu sudah sore.
***
Sore hari dikediaman Ruben, Santi kembali megidam di usia kandunganya yang sudah menginjak dua bulan. " Masss." Santi memanggil Ruben yang baru saja selesai mandi.
Ternayata saat Lili pulang lebaih awal dari kantor, Ruben pun memutuskan untuk kembali kerumah, karna percuma jika dia dikantor sedangkan kedua bawahannya tidak ada yang stay disana.
" Sayang mau mangga."
" Ya sudah kamu tunggu disini biar mas panggil tukang kebun kita dulu, bair dia ambilkan untukmu." Jawab Ruben yang sudah bersiap untuk menyuruh tukang kebun mereka.
Santi menahan pergelangan Ruben yangbuat lelaki itu kembali berhenti dan melihat Santi yang sudah memanyungkan bibirnya.
" Loh kenapa bibirnya manyun sayang.? kan mas udah mau ambil mangganya.? tanya Ruben bingung, dengan dahi berkerut.
" Aku gak mau kalau mangganya di panjat sama di mas." rengek Santi.
Ya, selama dua bulan ini santi menjadi manja, mungkin karna bawaan bayi kata orang orang, dan Ruben bukannya marah malah ia sangat menyukai manjanya Santi.
" Kalau bukan dia lalu siapa lagi sayang hem.?" tanya Ruben dengan tangan mencubit gemas pipi Santi.
" Maunya mas yang panjatin pohonya." kata Santi dengan ekspresi dibuat semenggemasakn mungkin di hadapan Ruben, sehingga prianya tidak mampu lagi untuk menolak permintaan istrinya yang begitu imut menurutnya.
" Ya baikalah, tapi kamu harus membayar mahal untuk ini sayang." kata Ruben dengan kerlingan mata nakal untuk Santi
Santi yang sudah tau maksud dari perkataan suaminya di tambah lagi dengan kedipan mata nakal suaminya membuat Santi merona malu.
__ADS_1
" ihh apaan sih mas, udah sana ambilkan mangganya." usir Santi.
Ruben terkekeh melihat rona merah tomat dipipi istrinya dan itu membuatnya semakin merasa gemas." ya baiklah sayang, tapi ingat ya kamu harus membayarnya." Ruben baru akan bebalik dan melangkah tapi lagi lagi terhenti saat istri imutnya menuru Ruben itu kembali merengek.
" Masss, aku ikuttt...."
" Ha..Kok ikut sih.? kamu mending disini aja duduk manis dan tunggu mas kembali." kata Ruben berniat untuk menolak karna sebenarnya ia berniat akan tetap menyuruh pembatunya untuk mengambilkan mangga itu
" Aku mau ikut, karna aku mau melihat mas memanjat." kata Santi tegas.
Ruben menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, jika Santi ikut maka dirinya yang harus memanjat sedangkan seumur hidupnya tak perna sekali pun memanjat pohon.
" Sayang disini saja ya." rayu Ruben.
" Tidak.! kenapa sih mas tidak mau aku ikut." dengan cemberut dan tangan terlipat di depan dada, matanya mendelik tajam ke arah Ruben.
Ruben menelan ludahnya sedikit kepayahan melihat tatapan istrinya, bukan apa apa tapi Ruben hanya takut jika kekesalan istrinya merujuk pada diriya yang akan tidur dibluar lagi.
Cukup sekali saja Ruben merasakan hal itu, dia tidak lagi mau merasakannya. beberap hari yang lalu saat Ruben tidak mau mengenakan pakaian tidur cople dengan istrinya yang bergambar kartun doraemon, istrinya mengamukbdam berakhir dengan dia yang tidur di ruang tamu karna Santi tidak menginjikannya tidur di kamar lain dan harua diruang tamu mereka.
Dan akhirnya Ruben hanya bisa pasrah akan perintah dari istrinya, dari pada makin mengamuk lebih baik turuti saja.
" Mas mau berbohong ya sama aku." tatapan tajam masih dilayangkan oleh Santi dan itu membuat Ruben semakin tidak enak.
" Bukan begitu sayang,, mas hanya tidak ingin kamu capek turun tangga lagi." elak Ruben
" Hallah bilang saja kalau mas mau membohongiku. Ingat ya mas aku tidak akan memafkanmu kalau kau berani berbohong. Mas tau kan apa akibatnya." tegas Santi
" Tidak sayang. Mana berani mas berbohong, kan mas sayang sama kamu." ucap Ruben dengan senyum kakunya
" Yasudah ayo kita ambil mangganya, nanti keburu gelap."
Bersambung....
Hai readers tercinta.. π€π€
Author mau umumin nih, kalau novel baru author akan mulai up tanggal 14 maret 2021 ini yahhhππ
Jadi reader tercinta mampir semua ya nanti disanaππ
judulnya " Wanita bergaun pengantin"
__ADS_1
kalian bisa klik profil author dan juga bisa cari di kolom pencarian ok semuaππππ