Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Kram


__ADS_3

Sudah Tiga hari ini Santi merasakan cram di perutnya, tapi hanya sesekali saja, tapi untuk hari ini Santi benar benar merasa kram kali ini jauh lebih sering dari kemarin kemarin.


Santi masih bisa menahan rasa sakit itu, karna tidak ingin membuat suaminya khawatir lagi, cukup sudah hari kemarin saat pertama kalinya ia merasa kram, Ruben langsung kocar kacir mencari pertolongan dan menelpon orang orang mengabarkan istirnya akan melahirka.


Saat di bawa ke rumah sakit dan semua keluarga datang termasuk Ayah dan Bunda yang sudah dua minggu ini kembali ke kota M karena sang Ayah memiliki urusan di instansi tempat ia bertugas dulu langsung kembali kekota, dan alhasil saat diperiksa ternyata hanya kram biasa yang dialami oleh wanita hamil saat akan mendekati HPL.


Semua orang tentu saja terlihat kecewa karna ternyata itu hanya kekhawatiran Ruben semata, tapi mereka juga tidak bisa menyalahkan Ruben karna mereka yakin itu karan calon Ayah itu sangat peduli terhadap istrinya.


Dan karena kejadian itulah, semua orang tua memutuskan untuk tinggal di kediaman Ruben saja agat bisa dengan sigap jika sewaktu waktu Santi melahirkan.


" Sayang kamu kenapa.?" tanya Ruben khawatir melihat wajah istrinya menahan sakit, padahal ia baru saja keluar dari kamar mandi untuk bersiap berangkat kekantor.


Sedikit berlari menghampiri istrinya, dab ikut mengelus perut istrinya untuk memberi rasa tenang, sesekali peluh di lapnya di kening istrinya.


" Kamu kram lagi sayang.?" tanya Ruben.


" Iya mas, tapi ini lebih sakit dari yang kemarin "


Lagi lagi Ruben kembali tegang, dan hendak berdiri tapi langsung du cegah oleh Santi. " Mas mau kemana." tanya Santi di sertai dengan ringisan dan mencengkram spey kasur mereka.


" Mas mau panggil bunda sama mama dulu, mungkin kamh mau melahirkan saat ini sayang." jawab Ruben yang tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya.


" Tidal mungkin mas."


" Loh kenapa tidak." tanya Ruben dengan dati mengerut


" Mas lupa kalau kata dokter mungkin sekitar beberapa hari lagi, dan ini hanya kram biasa." jawab Santi yang sudah mulai relax.


" Tap.-"


" Sudah mas, mending usap sebentar perutku ini." pinta Santi memotong ucapan suaminya


Ruben langsung menurut, mengusap usap perut Santi dan sesekali menciumnya dengan lembut dan hal itu tentu saja membuat santi bahagia.


" Anak ayah, yang baik dan ganteng tapi lebih ganteng ayah, kamu jangan buat bunda keskutan ya, kasihan bunda dan ayah akan marah nanti jika kamu membuat istri ayah kesakitan dan menangis." kata Ruben mengajak anaknya bicara yang langsung mendapat cubitan gemas dari istrinya.


" Aoow sayang kenapa mas dicubit." tanya Ruben mengusap lengannya pura pura kesaiktan.


" Lagian mas kenapa ngancam anak kuta segala, aku tuh gak masalah sakit yang penting aku bisa melihat anak kita nanti." kata Santi ketus.


" Tapi anak kita membuatmu kesakitan sayang." jawab Ruben membela diri dan dengan wajah memelasnya.


" Tidak masalah ayah, dia kan anak kita jadi bunda tidak keberatan." jawab Santi dengan senyum mengembang didibirnya dengan tangan yang ikut mengusap perutnya yang sudah mulai mereda.

__ADS_1


Ruben masih saja tidak bergeming dari tempatnya, entah kenapa ia merasa berat meninggalkan istrinya. " Mas gak usah kekaktor deh hari ini." kata Ruben di sela sela kegiatannya.


" Loh kenapa mas.?" tanya Santi dengan kening mengerut.


" Mas mau disini saja nemanin kamu, mas takyt kamu kenapa napa." kata Ruben memberi alasan.


" Loh kok gitu, mas ke kantor saja ya. Kan disini ada mama sama bunda dan juga ayah yang nemanin, nanti kalau ada apa apa aku tidak sendirian."


" Tapi tidak tidak tenang sayang." tolak Ruben.


" Aku tidak apa apa mas, percaya deh sama aku." Santi terus berusaha menyakinkan Ruven dengan menunjukan senyum manisnya pertanda ia baik baik saja.


" Benar tidak apa apa mas tinggal." Ruben kembali lagi memastikan.


" Iya mas ku sayang..." jawab Santi dengan mencubit gemes pipi suaminya yang dibalas dengan kecupan singkat oleh Ruben.


Ruben sudah berpakaian rapi saat ini, kemudian menghampiri istrinya dan membatu berjalan keluar menuju meja makan untuk sarapan, meski Santi masih sesekali meringis tapi ia tidak mah memperlihatkannya.


Di meja makan, sudah ada empat orang yang lebih dulu duduk, mereka adalah ayah bunda Santi mertua Ruben , dan mama papa Ruben mertua Santi.


" Loh nak, kamu kok pucat begitu." tanya bunda dan mama hampir bersamaan."


Sontak Ayah dan Papa menoleh kearah Santi dan benar saja kalau Santi memang terlihat pucat dan itu semakin membuat Ruben khawatir.


" Perutnya kram katanya mah, tapi dia bilang bukan karna mau lahiran." ucap Ruben sedikit kesal,


" Apa kramnya sakit sekali nak.?" tanya bunda.


" Tidak kok bunda hanya sesekali saja dan tidak terlalu sakit." jawab Santi sedikit berdusta.


" Ohhh mungkin memang hanya kontraksi palsu saja." kata mama.


" Yasudah, ayo kita sarapan." ajak bunda


Mereka kini sarapan dalam diam, sesekali dentingan sendok terdengar jelas dan mengambil alih ruangan itu.


Selesai sarapan, Ruben yang ditemani istrinya menuju pintu depan, karan sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya. Santi akan selalu mengantar suaminya berangkat kerja dan Ruben dengan senang hati meneriman perlakuan manis itu.


" Mas beramgkat ya sayang." kata Ruben dengan tangan yang disodorkan di depan Santi dan santi pun dengan senang hati menyambut dan menciumnya dengan lembut dan penuh hikmah.


" Hati hati mas." jawab Santi setelah mencium punggung tangan Ruben.


" Iy sayang, bye." kata Ruben setelah dirinya mencium kening Santi dengan mesra.

__ADS_1


Santi menatap kepergian suaminya hingga mobilnya sampai melewati gerbang rumah. Ruben kini membawa mobil sendiri karna Ans sudah pindah tugas di Kota S menjabat sebagai diraktur perusahaan cabang yang tak lain adalah kota kelahiran Ans sendiri.


Santi kembali memasuki rumah, dengan tujuan menuju ruang tengah untuk bergabung dengan para orang tua. Sampai disana, Santi mengambil tempat di tengah tengah bunda dan mamanya, menyaksikan siaran televisi yang sedang berputar.


" Sayang apa perutmu masih kram.?" tanya mama lembut sembari mengelus perut menantunya.


" masih mah, tapi tidak terlalu dan aku masih bisa menahannya."


" Kalau kamu sudah tidak kuat, beritau ya sama bunda dan mama sayang, biar kamu tidak kesusahan dan kesakitan yang semakin berat." kata Bunda yang ikut mengelus perut putri tunggalnya.


" Iya bunda, aku pasti akan memberitaunya jika aku sudah tidak tahan lagi."


" Kamu mau buah sayang.?" tanya bunda lagi.


" Boleh bunda tapi akun mau jeruk saja." jawab Santi.


Bunda dengan senang hati mengupasakn kulit jeruk untuk putrinya sedangkan mama masih asyik dengan kesibukannya mengelus pertu dan pinggang Santi yang kadang meringis itu.


" Oh ya, bagaimana sayang keperluan baby nya udah lengkap semua kan.?" tanya mama di sela sela kegiatan mereka.


" Oh iya ya, bunda sampai lupa kalau kemarin box bayi yang kita lihat di mall waktu itu kan belum sempat dibeli." kata Bunda yang teringat dengan apa yang masib kurang


" Ohh ya ampunnnn." pekik Mama menepuk judatnya sendiri. " Iya kita lupa mba kalau box bayi belum kita beli." lanjut mama


" Jadi gimana dong.?" tanya bunda bingung.


" Ya harus kita belilah mba." celutuk mama


" Iya, saya tau harus beli, tapi bagaimana caranya sekarang.? kan kita tidak mungkin meninggalkan Santi sendiri disini mba." jawab bunda dengan sedikit kesal.


" Yaaa ajak saja dia iyakan nak.?" tanya mama pada Santi.


" Mama lupa kalau anak kita itu sedang hamil besar dan tinggal beberapa waktu lagi lahiran. Kalau ada apa apa gimana." kata papa yang menyela perkataan istrinya, bagaimana mungkin menantunya ikut belanja sementara dia sudab sering mengeluh kram di perut.


" Hehehe mama lupa pah." jawab mama dengan cengiran kudanya


Kedua lelaki yaitu Ayah dan Papa beserta Bunda dan Santi hanya tersenyum melihat tingkah Mama yang bisa bisanya lupa kalah menantunya sudah mendekati masa lahiran.


" Ah, bagaimana kalau kita pesan saja." ucap bunda menguslkan.


" iya ya mba, kok bisa gak kepikiran kita kesana." jawab Mama yang langsung mengambil ponselnya dan mulai melihat lihat tokoh perlengkapan bayi melalui ponselya.


Sedangkan Santi, kram kembali dirasankanya, peluh sudah mulai membasahi dahinya, cengkraman tanganya semakin kuat mencengkram sofa yang didudukinya untuk menahan rasa sakit yang datang kian cepat dari yang tadi dan juga jauh lebih sakit lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2