Terpaksa Aku Menikah

Terpaksa Aku Menikah
Season Dua Ide Picik


__ADS_3

"Bagaimana bisa si bo*oh itu berbuat seperti itu!" geram Ans.


Mereka saat ini sudah berada di taman, tempat yang dulu menajdi saksi penolakan Lili padanya, dan kini tempat ini menjadi saksi Lili yang sedang mencurahkan semua yang terajadi siang ini.


"Aku membencinya Ans, aku tidak mau lagi dengannya! dia sudah menghianatiku hiks hiks!" ucap Lili di tengah isak tangisnya.


Ans mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang ada dalak dirinya, dia marah karena melihat orang yang pernah singgah itu menangis dan lagi dia menangis karena pilihannya.


"Sudahlah, mungkin kau salah paham" ucap Ans memberi pengertian.


Ans masih berusaha memberi pengertian kepada Lili, walau sebenarnya dia kesal sekali pada Riko yang teledor seperti itu.


"Tidak! aku tidak mungkin salah lihat, dia sudah menghianatiku!" bantah Lili.


Kali ini dengan ringanya Lili masuk ke dalam pelukan Ans, menumpahkan semua keluh kesahnya disana, Ans sendiri tidak bisa berbuat apa apa, tubuhnya mematung dan tangannya tidak bisa bergerak.


Tidak bisa Ans membalas pelukan itu, karena kini tina tiba saja bayanga Helena terlintas di benaknya, Ans ingin menghindar tapi Lili memeluknya terlalu erat membuat Ans tidak bisa bergerak.


"Tolong jangan seperti ini Lili" ucap Ans berniat melepaskan pelukan Lili.


Tapi Lili malah semakin erat memeluk Ans, entah apa yang meraskui Lili sampai berbuat hal gila ini, memeluk lelaki lain saat dirinya trrpuruk.


"Biarkan seperti ini dulu, sebentar saja" ucap Lili sesegukkan.


"Tapi ini tidak baik Li" ucap Ans " kau masih bisa bicara padaku tapi jangan memelukku seperti ini" lanjut Ans.


Ans mengencangkan tenaganya sedikit agar bisa melepaskan pelukan Lili, dan akhinya pelukan itu pun berhasil untuk di lepaskan.


Lili menatap Ans dengan pandangan yang tersirat kekecewaan, entah apa alasan kekewaan wanita itu pada Ans, yang jelas itulah yang di tangkap Ans.


"Kenapa kau berubah Ans? ini belum genap setahun kita tidak bertemu, tapi kau sudah bersikap dingin padaku?" tanya Lili dengan suara bergetar.


"Aku tidak berubah! aku hanya mengikuti posisi dan status kita saat ini" ucanya lantang.


"Status kita" beo Lili " jangan bilang jika kau susah memiliki kekasih Ans?" tanya Lili dengan wajah yang sedikit terkejut dengan pertanyaannya sendiri.


"Kau benar! dan lebih tepatnya aku sudah menikah sama seperti dirimu!" jawab Ans tegas.


Lili diam tidak tau harus merepon yang bagaimana, sesungguhnya dia syok karena mendengar Ans yang dulu mencintainya ternayat sudah menikah.

__ADS_1


"Baiklah aku harus pergi Lili, Istriku pasti sudah menunggu!" pamit Ans menekankan kkta istriku di depan Lili.


Ans pergi tanpa mau menunggu bagaimana rekasi dan apa jawaban dari Lili, baginya Lili hanya masa lalu dan kini dia berencana untuk memulai masa depannya bersama Helena.


"Tunggu Ans!" cegah Lili.


Ans berhenti daj berbalik menghadap pada Lili tapi Lili tidak sempat mengatakan apa yang ibgi ia katakan, karena ponsel milik Ans berdering.


"Sudah ku katakan jangan berani kau menghubungi Via!"


Wajah Ans yang sudah tidak enak di pandang saat bersama Lili menjadi lebih masam dan datar saat mengetahui yang menghubungi dirinya adalah Via mantak kekasihnya.


.....


Wajah datar Ans yang masam seketika berubah saat mendengar perkataan Via, dia marah karena wanita itu berani menjelekan istrinya


"Jangan sekali pun kau mengfitnah istriku dengan mulut kotormu iti Via!" bentak Ans.


.....


Ans langsung mematikan ponselnya dan membuka chat WA untuk melihat foto yang di kirimkan Via padanya.


"Sayang...!"


Seruan seseorang mengalihkan perhatian Llibyang tadinya tertuju pada mobil Ans, kini beralih menatap sumber suara yang memanggilnya sayang.


Wajah Lili berubah seketika mengetahui jika ternyatan orang yang memanggilnya adalah Riko istrinya.


Dengan gerakan cepat Lili memutar langkahnya pergi meninggalkan Riko yang mengejarnya dari belakang.


"Sayang..! hei sayang.."


"Tunggu sayang, dengarin aku dulu!" ucap Riko setelah dirinya berhasil meraih tubuh Lili.


"Lepaskan aku Riko!" teriak Lili.


"Tidak sayang, aku tidak mau melepaskan kamu sebelum mendengar penjelasan aku!" jawab Riko yang kini sudah memeluk Lili dari belakang.


"Aku tidak mau! aku tidak mau mendengarkannya!"

__ADS_1


Lili terus saja memberintak dalam pelukan Riko, matanya kini kembali mengeluarkan anak sungai yang membasahi kedua pipinya.


Riko yang mendengar tangisan istrinya, dengan sekali gerakan saja Lili sudah berbalik dan menghadap pada Riko.


Lili membuang padangannya pandangannya enggan untuk menatap pada Riko yang menatapnya dengan tatapan lembut dan penuh sayang.


"Dengarkan aku" ucap Riko " yang kamu pikirkan tidak seperti yang kamu lihat sayang...Aku sama dia tidak berpelukan seperti yang kamu kira, dia tidak sengaja menumpahkan kopi di jas aku dan dia membersihkannya aku pun sudah menolak tapi entah kenapa dia keras kepala sekali dan tetap memeprsihkanya"


Lili masih tidak merespon, tapi telingannya jelas mendengar semua penjelasan dari Riko, ada sedikit rasa percayanya pada Riko tapi rasa kecewa dan ketidak puasanya jauh lebih mendominasi.


"Kamu lihat jas ku kan? ini noda kopi yang tertumpah itu" lanjut Riko dengan tangan yang menjepit dagu Lili mengarahkan wanita itu untuk melihat ke arahnya.


Lili masih tidak merespon, matanya kini menatap pada mata Riko untuk mencari kebohongan disana, tapi dia tidak menemukan kebohongan itu.


"Aku ingin bertanya langsung padanya" lirih Lili yang akhirnya membuka mulutnya.


Riko memurunkan tangannya dan meraih jemari Lili untuk ditautkan dengan jemarinya "ayo tanyakan padanya" ajak Riko.


Mereka berjalan menuju kantor Riko, dengan santainya pria itu melewati gedung kantornya, tangannya sudah bertengger indah di pinggang Lili.


Sampai di lantai letak ruangan Riko, Tiara yang tadinya sedang sibuk dengan komputer yang ada di hadapannya segera berdiri saat melihat tuan dan istri tuannya datang dengan begitu mesranya.


Tangannya mengepal kuat di bawah mejanya mendapati hubungan tuan dan istrinya baik baik saja, tidan sesuai dengan ekspetasinya.


Tidak jauh berbeda dengan Tiara, Lili pun nafasnya mulai bergemuruh menahan amarahnya, ingin sekali dia menjambak rambut sekretaris suaminya tapi dia berusaha menahan diri karena dia ingin bermain dengan cantik.


"Tiara! masuk ke ruanganku!" ucao Riko tegas, wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Baik tuan" jawab Tiara dengan senyum yang membuat Lili sangat muak.


"Ada apa tuan menyuruh saya menemui anda?" tanya Tiara yang kini sudah berada dalam ruangan Riko.


Semetara Lili dengan sengaja duduk di pangkuan Riko dan pria iti dengan senang hati menyambut baik sikap manja istrinya.


Jarang jarang Lili bersikap tidak tau malu seperti itu, tapi demi misinya dia harus menebalkan mukanya kali ini.


"Sayang..bukannya kamu ingin menanyakan sesuatu padanya" ucap Riko dengan lembut dengan tangan yang memeluk pinggang istrinya dan bibirnya yang menemple pada bahu Lili.


Tiara yang melihat itu kembali terbakar api cemburu, tangannya terkepal kuat dan matanya sydah berkilat amarah, dia tidak bisa dia saja dia harus melakukan sesuatu, dan ide picik sudab terencana di dalam otak wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2