
Masih berlanjut dengan kegiatan lidah lincahnya, Ruben menggerakan tanganya untuk me**mas pa**da*a Santi.
" Ahhhhh...." Lagi lagi desahan lolos keluar dari bibir seksi itu.
Ruben mengangakat kepalanya dari bawah dan melihat wajah Santi yang sudah sangat gelisah karna merasa dipermainkan oleh suaminya.
Ruben naik dan me**mat kembali bibir seksi itu, tangannya mengelus d**a, perut hingga kembali lagi menyentuh bagian inti Santi.
Perlahan jarinya ia masukan didalam dan hal itu membuat Santi terkejut dan mendesah kaget.
" Ahhhh mas kenapa jarinya di masukan.?" tanya Santi lirih.
" Supaya nanti tidak terkejut saat mas masukan sayang." ucap Ruben dan semakin mempercepat laju gerakan jarinya untuk keluar masuk dari sana.
Lagi lagi desahan kenikmatan keluar dari bibir santi, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak cinta yang membara itu.
Melihat hal itu Ruben pun mulai memposisikan dirinya untuk memasuki sarang yang memabukan itu kata orang orang. menyalurkan cintanya dengan persatuan tubuh mereka.
" Mas masukan ya sayang, mas akan pelan kok." ucap Ruben yang dapat menangkap kegelisahan di wajah Santi meski gairah cinta yang lebih mendominasi.
" Aahhhh." terak Santi saat pusaka suaminya sudah masuk sempurna dalam dirinya ia mencengkram punggung ruben dan mencapkan kukunya disana hingga menghasilkan sedikit goresan disana.
Ruben berhenti sejenak setelah miliknya masuk agar istrinya bisa kembali relax dan menerima benda tumpul itu yang baru saja masuk menusuk didalam dirinya.
Setelah dirasa Santi mulai tenang, Ruben membisikan kata kata cinta pada istrinya dan mencium kening, mata, pipi dan berakhir dengan ia me**mat bibir Santi hingga Santi mulai terbuai.
Merasa Santi telah terbuai, ia kembali menggerakan badanyan maju mundur pelan pelan hingga membuat rintihan kenikmatan keluar dari bibir santi.
Ruben memompa tubuhnya diatas santi dan santi pun tak hentinya mendesah dan sesekali mereka meneriaki nama masing masing di tengah desahan, dan kalimat kalimat cinta tak terhenti terucap dari bibir keduanya.
Lama mereka memadu kasih, hingga eranganpun sedikit lagi akan keluar dari mereka.
" Mas a..Aku mah keluar." ucap Santi terengah.
" Iy sayang..Tunggu mas." jawab Ruben juga terengah.
Ruben semakin mempercepat gerakannya hingga erangan panjang pun keluar dari bibir mereka.
" Ahhhhhhh." desah mereka bersamaa.
Ruben menggulingkan tubuhnya di samping Santi. Ia memeluk dan mencium kening santi dengan sayang dan berkata.
" Terimakasih sayang. Mas sangat bahagian." ucap Ruben setelah nafasnya mulai teratur.
" Ia mas, aku juga sangat bahagia." jawab Santi kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya dan hendak tidur.
" Aku lelah mas, pengen tidur."
" Tidur lah sayang." jawab Ruben dan semakin mempererat pelukanya.
Mereka tidur dengan keadaan saling berpelukan, menyongsong fajar dengan keadaan, hati dan status yang berbeda.
***
__ADS_1
Sedangkan ditempat lain, kedua orang yang berbeda jenis kelamin itu, tengah beradu mulut dan tak ada yang mau kalah.
" Oh jadi kau wanita yang ingin di jodohkan untukku." tanya Riko sinis.
" Jadi kau lelaki yang juga mau dijodohkan untukku, lelaki yang menyebalkan yang mulutnya tidak bisa menjaga Rahasia." ucap Lili yang tak kalah Sinisnya.
Ya. Pasangn itu adalah Riko dan Lili yang baru saja beberapa menit yang lalu mengetahui kenyataan siapa yang di jodohkan untuk mereka oleh orangtua masing masing.
Flashback.....
Ponsel Lili berdering saat ia baru saja tiba di kontrakakan setelah pulang dari rumah Santi temannya.
" hallo ma." jawab Lili
" Hallo sayang. Nanti jam delapan malam kamu ketemuan ya sama lelaki yang mama bilang itu di taman dekat kontrakanmu." ucap mama di sebrang sana.
" loh kok mendadak sih mah. Aku lagi malas nih ." rengek Lili.
" Tidak ada penolakan sayang.! lebih cepat lebih baik." tegas mama.
" tapi mah." Lili hendak protes tapi kembali bungkam lsaat di sela oleh mama
" Tidak ada tapi tapi." tegas mama.
" yah baiklah, aku siap saip dulu." jawab Lili yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Tidak jauh berbeda dengan Lili, Riko juga sedang berdebat kepada orang tuanya perihat pertemuan yang mendadak itu.
" Tidak bisa sayang, mama mau malam ini. Dan gadis itu sudah setuju bertemu denganmu malam ini di taman dekat tempat tinggalnya. Tegas mama Riko tak ingin dibantah.
" Ya baikalh." pasrah Riko.
Tepat jam delapan mereka pun menuju taman sesuai arahan dari orang tua masing masing, baik Lili maupun Riko menuju tempatbyang sudah di sepakati.
Setelah samapi di sana, alangkah terkejutnya mereka saat mengetahui siapa yang akan mereka temui.
" kamu." tunjuk mereka bersamaan.
Flashback off....
" Ais mama kenapa coba memgenalkan aku dengan wanita bar bar ini." gumam Riko pelan namun masih bisa didengar oleh Lili.
" Hei.! siapa yang kau sebut bar bar ha.!" bentak Lili.
" tentu saja kau. Emang siapa lagi." jawab Riko santai.
" Lili langsung menonjok keras bahu Riko hingga membuat Riko berteriak kesakitan.
" Hei.! kau gila ya.! kenapa kau memukulku ha." Dasar bar bar." teriak Riko.
" Apa kau bilang.? kau mau aku memukulmu lagi agar kau berhenti mengataiku bar bar.!" bentak Lili.
" Aiss..Sudahlah, aku tidak mau berdebat dengamu.! itu membuang waktuku saja." ketus Riko.
__ADS_1
" Kau pikir aku juga mau bicara berdua dengamu.! aku tidak sudi." sentak Lili sambil mempraktekan ekspresi mualnya.
" kau.!" ais sudahlah." kata Riko yang tak mau lagi berdebat dengan Lili.
" Aku juga tidak mau berdebat dengamu." ucap Lili berkacak pinggang.
" awas jangan dekat dekat denganku.! " usir Riko.
"Kau saja yang jauh jauh sana. jangan dekat dekat denganku." balas Lili tak mau kalah.
" Dasar mak lampir." umpat Riko yang memilih pergi meninggalkan mereka.
Sedangkan Lili yang mendengar itu sontak saja emosi, ia tidak terima di katai mak lampir oleh lelaki ember itu menurutnya.
" Hei kau." apa yang kau katakan ha." teriak Lili mengejar Riko namu sayangnya Lilibtidak dapar menggapai Riko lagi karna sudah melajikan mobilnya
" Dasa sinting." umpat Lili kemudian ikut pergi menuju kontrakannya.
Sedangka Riko yang tadinya melajukan mobilnya kembali ia pinggirkan karna harus menelpon mamanya agar membatalkan perjodohan itu.
" Hallo sayang, bagaimaba pertemuannya, lancarkan.? dia cantik atau tidak.? trus bagaimana perasaanmu." cerca mama Riko dengan berbagai pertanyaan.
" Stop ma.! aku tidak bisa menjawab semuanya. Dengar ya.! pertama aku sudah bertemu denganya dan aku tidak suka dengan orangnya dan dia bukan tipeku. Yang kedua aku mau bilang kalau aku menolak perjodohan ini." terang Riko.
" Apa maksudmu.? tanya mama dengab nada sedikit membentak. " mama tidak menerima penolakan Riko dan ini sudah menjadi keputusan mama dan papa beserta keluarga Lili. Jadi perjodohan ini tetap dilakukan.
" Tapi mah aku tidak mau dan sampai kapanpun tetap tidak mau." tolak Riko tak kalah tegasnya.
" Baiklah kalau kau bilang begitu, maka mama mau bilang kalau kau ingin menemui mama, maka datanglah disaat mama dimakamkan saja." ancam mama.
" mah jangan bicara begitu." tegur Riko
" pikirkan ucapan mama." putus mama.
" akhhhhhhh." teriak Riko frustasi, ia menjambak rambutnya kemudian melajukan mobilnya menuju bar untuk menenangkan pikirnanya.
Sedangkan Lili menghempaskan tubuhnya di kasur miliknya saat sudah sampai di kamarnya.
" hufttt...Mama kok bisa bisanya sih jodohon aku sama dia." lirih Lili ditengah kesunyian kamarnya danencoba memejamkan matanya melupakan kejadian yang baru beberapa menit yang lalu terjadi.
Bersambung...
jangan lupa kasih:
LIKE
KOMENT
VOTE
RATE
HADIAH
__ADS_1