
"Wahhh nama yang bagus" seru mereka bersamaan.
"Selamat sore"
"Sore dokter silahkan" ucap Bunda memberi peluang dokter
"Maaf bu, bayinya harus di susui dulu ya" ucap dokter.
"Baiklah dok" jawab Helena.
"Yang merasa pria silahkan keluar dari sini!" ucap Ans dengan datar.
Semua yang mendengarkan itu langsung menoleh heran pada Ans, tidak mengerti dengan maksud kekaki yang baru menjadi ayah itu.
"Hei kaka ipar, kenapa kau mengusir kami!" teriak Nathan.
"Jangan membangunkan putriku dengan teriakanmu itu!" tegur Ans dengan pelan tapi penuh penegasan.
Nathan medengus sebal mendengar perkataan kakak iparnya, sepertinya sifat posesif kakak iparnya ini semakin meningkat sejak lahirnya anak mereka, "Kau sangat menyebalkan sekali kaka ipar!" ketus Nathan kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan di susul dengan Ayah yang cukup mengerti keinginan putranya.
Setelah kepergian kedua lekaki yang di mintai Ans kini berganti Bunda yang mengibarkan bendera protes "lalu kanapa kau sebagai lelaki tidak keluar juga"
"Maaf bunda saya suami dari istriku dan Ayah dari putriku, jadi aku berhak ada disini dan tidak ada yanh boleh nengusirku!" uca Ans dengan wajah datarnya.
Semua orang tersenyum mendengar alasan Ans, terkecuali Bunda yang merasa jengkel dengan putranya itu, rasanya igin dia jewer lagi telinga putranya seperti dulu di setiap Ans nakal.
Mengingat masa remaja Ans, senyum bahagia terukir di sudut mata Bunda dan sudut matanya basah menyaksikan kini putranya sudah dewasa dan menjadi seorang ayah, mengemban tangggung jawab dalam mendidik seorang manusia sama seperti yang mereka lakukan dulu terhadap Ans.
Tanpa di cegah Bunda melangkah dan semakin mendekati anak dan menantunya beserta cucunya yang kini tengah asyik mengecap air susu Helena.
__ADS_1
"Selamat sayang, kalian sudah menjadi orang tua, jaga dan didik anak kalian dengan baik, jadikan dia wanita yang memiliki rasa hormat dan kehormatan dan harga diri yang tidak bisa di pernainkan oleh orang lain" ucap Ibu dan mencium kening Helena dan cucunya kemudian berganti pada putranya sendiri.
"Terimakasih bunda" ucap Helena dengan tulus.
Mereka semua yang berada di dalan ruangan merasakan haru biru karena kelahiran Jennifer membawa berkat yang luar biasa bagi kedua keluarga yang sudah menanti generasi itu sejak lama.
***
Jika pasangan Ans dan Helena sedang berbahagia dengan kehadiran generasi penerus kedua keluarga, beda halnya dengan yang di alami Riko, dia sangat frustasi menghadapi sikap istrinya yang semakin hari semakin membuatnya mumet.
Riko hanya bisa menyabarkan dirinya dengan kata 'emosi kehamilan yang tidak stabil dan juga tidak lama lagi' Itulah mantra yang selalu di ucapkan Riko untuk memulihkan kesadarannya setiap hampir kelepasan.
"Sayang ayo bersihkan rumah, anak kita ingin melihat papah nya nembersihkan rumah, pasti akan sangay macho apalagi jika berkeringat" ucap Lili dengan mata menerawang membayangkan apa yang baru saja dia katakan.
"Sayang, kamu tau aku sudah lelah dari kantor jadi jangan menyuruhku melakukan pekerjaan rumah lagi" ucap Riko dengan lembut.
"Sayang...mintalah yang lain, biar pelayan saja yang melakukan pekerjaan itu" bujuk Riko lagi.
Lili mencebik menahan tangisnya, dia tidak suka jika permintaanya tidak di turuti apa lagi ini keinginan anaknya dan papa dari anaknya sendiri menolak melakukanya.
Riko yang melihat istrinya mau mewek lagi, menghela napasnya dan menghembuskannya dengan kasar, inilah kelemahannya tidak bisa melihat wanita yang di cintainya menangis, entah mengapa dia juga harus seperti ini pada Lili, padahal dulu saat bersama Janeth Riko tidak seperti itu, mungkin karena status mereka yang membuat Riko seperti ini.
"Sayang jangan menangis, ok aku akan melakukan permintaan anak papa ini" ucap Riko dengan senyuk lembutnya dan mengusap serta mencium perut Lili sebentar.
"Aku ganti baju dulu lah, setelah itu akan kembali lagi.
Lili menahan pergelangan tangan Riko saat hendak berbalik "jangan pakai baju" pinta Lili penuh harap.
Lagi lagi Riko menghela napasnya sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan permintaan istrinya, dan Lili yang melihat suaminya mengiayakan langung merekah senyumnya dan hal itu membuat Riko ikut tersenyum dan hatinya menghangat, bisakah Riko menolak permintaan istrinya jika hal seperti ini saja bisa membuat Lili bahagia? tidak, Riko tidak bisa menolak pernintaan istrinya.
__ADS_1
Riko berlalu meninggalkan Lili di ruang tamu, menuju kamar untuk melepaskan pakaiannya setelah sebelumnya tadi Riko sudah memberikan perintah kepada para pelayan agar tidak ada yang keluar selama dia bekerja, karena Riko tidak mau jika tubuhnya di tonton orang orang.
Tak lama kemudian, Riko kembali dengan menggunakan celana pendek telanjang dada, di depan Lili sudah tersedia kemoceng, pel dan sapu serta ember yang sudah berisi air pembersih lantai.
"Wahhh suamiku tampan sekali....! padahal belim kerja loh" seru Lili yang melihat Riko berjalan ke arahnya.
Riko hanya berdecak mendengar pujian dari istrinya, jika saja tidak ada cinta di hatinya mana mungkin dirinya mau melakukan ini semua tapi karena cinta, Riko rela melakukan ini semua.
"Sayang itu ambil" seru Lili karena melihat Riko yang tak kunjung bergerak.
Riko dengan pasrah mengikuti permintaan istrinya, dia mulai mengambil kemoceng lebih dulu untuk membersihkan meja dan sofa serta semua yang ada di ruang tengah miliki mereka.
Lili mengabadikan semua yang dilakukan suaminya, mulai dari menyapu mengepel bahkan hingga mencuci piring bekas makan siang yang sengaja Lili tidak bersihkan bahkan menyuruh pelayanh untuk tidak membersihkannya dengan alibi anaknya ingin papanya yang kerjakan
Riko sudah menyelesaikan semuanya, badannya terasan sangat pegal sekali, maklum baru pertama kali Riko melakukan semua ini hingga kini waktu sudah menunjukan pukul delapan malam dan makanan pun tidak di persiapkan sementara Riko sudah merasa kelaparan.
Akhinya Riko memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, baru setelah itu dia akan membuatkan makan malam untuk mereka, dan beberapa menit berlalu Riko akhirnya kembali dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan kaos oblong dan celana pendek khas pakaian rumahnya.
Riko terkejut saat mendapati makanan di atas meja dudah tertata rapi, dan istrinya juga sudah dudul manis di sana dengan senyum manis yang di tujukan untuk Dirinya..
"Maaf sayang, aku pesan makan di luar" ucap Lili tidak enak hati.
Rimo tersenyum, kemudian menggeleng, "tidak masalah, yang penting makan karena aku juga sudah lapar" ucap Riko dan kemudian duduk dan langsung menyantap makanan yang sudah di siapkan istrinya.
Selesai dengan makan malamnya kini mereka berada dalam kamar, Riko ingin segera istrahat karena akhinya badannya kini merasakan pegal yang luar biasa.
.
Bersambung...
__ADS_1