
Pagi pagi sekali Helena terbangun karena perutnya merasa lapar, dia melihat suaminya dan senyum manis terbit di bibir Helena, senyum karena kembali mengingat apa yang terjadi semalam.
Perlahan tangannya terulur mengelus pipi Ans yang masih tertidur dan matanya menangkap jari manisnya yang melingkar dengan indah, kembali lagi senyum itu terbit dan fokusnnya kini pada jarinya yang terletak di pipi Ans sambil membelainya dengan lembut.
"Sayang..."
Suara serak Ans, mengalihkan tatapan Helena yang kini menatapa suaminya dengan lembut dan senyum "Kenapa kau bangun sepagi ini?" tanya Ans dengan mata yang masih tertutup.
Helena tersenyum hangat, dan baru teringat jika dirinya terbangun karena perutnya lapar "aku lapar" jawab Helena.
Ans langsung membuka matanya, melihat wajah istrinya yang alami naturalnya tampa polesan bedak sedikitpun.
Sungguh cantik di mata Ans walau dalam keadaan yang acak acakan sekalipun, mungkin Ans butuh obat karena semua yang berhubungan dengan Helena kini sangatlah indah dan menarik dimatanya.
"Kau lapar sayang?" tanya Ans.
Mulai semalam Ans sudah mulai membudayakan panggilan Helena dengan sebutan yang manis karena istrinya manis maka panggillannya pun harus lah panggilan yang manis.
Helena mengangguk sebagai jawaban, sejujurnya dia malu pada Ans, karena masih pagi pagi buta perutnya sudah minta di isi agar tidak kompromi memberontak lagi.
Ans langsung bergerak bernjak dari tidurnya dan memungut pakainnya yang berserakan akibat pernyatuan mereka semalam, meraih celana pendeknya dan mengenakannya kemudian pergi menuju dapur yang terdapat dalam Resort.
Helena yang melihat Ans berdiri dengan santainya tanpa pakaian menjadi salah tingkah sendiri, dia tidak tau kenapa suaminya itu kini tidak punya rasa malu lagi, padahal dulu tidak seperti itu.
Tidak mau berpikir lagi, Helena memutuskan untuk segera mencuci mukanya mengingat ini masih sangat subuh dan cuaca disini sangat dingin.
Selesai dengan itu, Helena menyusul Ans ke dapur, ingin melihat apa yang di lakukan suaminya itu dan dari jauh Helena bisa melihat suaminya yang sedang memasak terlihat semakin sexy ditambah lagi Ans yang tidak mengenakan pakaian.
"Makanan siap...!" seru Ans membawa piring berisi nasi goreng ala Ans.
Ans menaruh piring di hadapan Helena dan helena langsung menyantapnya denga lahap.
"Pelan pelan, tidak akan ada yang merebutnya darimi" ucap Ans yang melihat Helena makan seperti kesurupan.
Helena hanya menyengir mendengar teguran suaminya, dia juga tidak tau kenapa mendadak jadi rakus seperti ini padahal rasa laparnya tidak terlalu dirasai sekali.
"Habis!" seru Helena setelah makanan dalam piringnya tandas tak bersisa, sementara Ans tersenyum melihatnya, dia senang jika makanan yang di buat di sukai oleh Helena.
__ADS_1
"Ayo kembali ke kamar!" ajak Ans.
"Tapi aku tidak mengantuk lagi" jawab Helena.
"Kita akan mengobrol atau menonton tapi kita jangan disini" ucap Ans.
Helena mengiyakan dan mereka masuk kembali dalam kamar dan Ans mulai menyalakan televisi untuk di tonton oleh Istrinya.
Mereka mulai menonton dan Ans menemani wanitaya, hingga setengah jam kemudian suara Helena tidak terdengar lagi membuat Ans melihat dan dia tersenyum ternyata Helena sudah kembali tidur.
"Tadi katanya tidak mengantuk, tapi baru setengah jam sudah tidak kuat untuk tidak tidur" gumam Ans dengah senyum tipis di bibirnya.
Dia membenarkan posisi Helena agar badanya bisa tidur dengan posisi yang sempurna, mencium sayang kening itu dan kemudian menyusul tidur dengan posisi memeluk Helena.
Di kediaman keluarga Lili, pasangan itu sedang bersiap siap untuk kembali ke kediman mereka di IbuKota, sebenarnya ini bukanlah rencana awal, tapi karena sesuatu yang mendesak membuat mereka mau tidak mau harus kembali.
"Kami pamit pulang ya Bunda Ayah" pamit Lili dan Riko bergantian.
"Kalian benar benar pulang ya?" tanya Bunda yang sebenarnya belum ingin melepaskan anak dan menantunya.
Bunda merasa belum pusa melepas rindu pada putrinya, apa lagi dalan keadaan Lili yang sedang hamil, membuat wanita parubaya itu ingin sekali beperan dalam menjaga Lili.
Sementara Riko tersenyum bahagia mendngar Lili memanggilnya dengan panggilan manis, kata 'mas' yang di sematkan Lili benar benar memabukan Riko seperti lantunan shahdu, walau dia tau Lili mengatakan itu karena ada orang tuanya tapi tidak masalah dan dia berpikir akan menyuruh Lili untuk memanggilnya seperti itu untuk seterusnya.
"Maaf ya Bunda, nanti jika ada waktu luang lagi kami akan main kemari lagi" timpal Riko dengan senyum tulusnya.
"Baiklah kali hati hati" ucap Ayah.
Mereka pergi meninggalkan kediaman orang tua Lili menuni Bandara, dan beberapa jam kemudian, mereka sudah tiba di bandara tujuan dan kini sedang dalam perjalanan menuju rumah milik keduanya.
Sampai di rumah, keduanya di sambut oleh orang tua Riko yang ternyata datang ke indonesia, dan langsung melesat datang ke rumah putra dan menantu mereka.
"Mama Papa" seru mereka besamaan.
"Ehhh kalian sudah pulang ya...?" tanya Mama dengan girang menyambut kedatangan anak anaknya.
"Kenapa kalian datang?" tanya Riko yang tidak memiliki maksud apa apa.
__ADS_1
Mama mendengus kesal, mendapati pertanyaan putranya "memangnya mama sana papa tidak boleh kemari ha!" ketus Mama.
"Bukqm begitu, hanya heran saja kenapa mama jauh jauh datang kemari?" sindir Riko.
"Anak siapa ini pa! kok tidak sopan pada kita".
"Tentu saja anak mama" jawab Papa disertai kekehan renyah dari putra dan Ayah itu.
Sementara Mama semakin mengerutcutkan bibirnya kareana kesal ternyata suaminya tidak membela dirinya, bahkan lepas tangan tidak mau mengakui putrannya.
"Kenapa kau malah tidak mengakui putramu!"
"Bukan tidak mengakui ma, hanya saja papa mengingatkan mama jika dia putra kita".
Mama kembali mendengus kesal mendengar tawa renyah kedua lelakinya, sementara Lili hanya tersenyum menggeleng melihat sikap keluarga suaminya.
"Ayo ma kita masuk, biarkan mereka tertawa sepuasnya" ajak Lili yang diangguki dengan semangat oleh Mama.
Setidaknya masih ada yang mau membelanya dan itu adalah menantu kesayangannya, bukankah itu namanya dia tidak salah pilih, bukan hanya menyayangi putranya tapi menantunya juga tulus pada mereka.
Dan kedua lelaki itu akhirnya memutuskan untuk masuk menyusul dua wanita yang mereka sayangi dan memiliki tempat di hati mereka masing masing
"Bagaimana kabar orang tuanu sayang?" tanya mama.
"Mereka baik ma dan mereka juga menitipkan salam untukmu"
"Oh benarkah..? harusnya kalian mengatakan pada mamam agar bisa ikut di bersama kalian" rajuk Mama.
"Kalau mama ikut, pasti akan semakin heboh dan itu akan mengganggu kami!" sindir mama.
"Apa maksudmu anak nakal!"
"Sudahlah jangan berdebat terus" sela Lili yang tau akan Riko yang ingin menjawab.
"Bukankah kau akan ke kantor?" tanya Lili yang ingin mengusirnya secara halus.
"Baiklah, aku pergi."
__ADS_1
Bersambung...